بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tanya Jawab

Fiqih

Q
03 Jul 2026

Assalamualaikum Ustadz.. Bagaimana sikap kita apabila tinggal dengan orang tua atau mertua atau keluarga yang emosian yang mana apabila kita disuruh untuk melakukan perbuatan bid'ah atau sesuatu yang bertentangan dengan syari'at namun tidak kita kerjakan, justru orang tua atau keluarga emosi sampai marah besar dan bahkan sampai memaksa kita hingga main fisik? Jazakallahu khairan ustadz.

A

Menghadapi situasi di mana ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala berbenturan dengan tekanan keluarga, terlebih jika disertai kekerasan fisik dan emosional, adalah salah satu ujian terberat dalam menjaga kemurnian tauhid dan sunnah.

Berikut adalah uraian ilmiah dan panduan praktis berdasarkan dalil Al-Qur'an, Hadits, serta prinsip-prinsip yang ditekankan oleh para ulama;

 

1. Prinsip Utama: Tidak Ada Ketaatan dalam Maksiat

Kaidah paling mendasar dalam syariat Islam adalah bahwa hak Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk ditaati berada di atas hak manusia mana pun, termasuk orang tua. Maka, ketika diperintahkan untuk melakukan bid’ah atau perkara yang bertentangan dengan syariat, seorang Muslim tidak boleh mengikutinya.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ»

“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan (kepada Allah). Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (baik/sesuai syariat).”
(Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Jilid 9, Halaman 59, Nomor 7145; dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Jilid 3, Halaman 1469, Nomor 1840).


Para ulama menekankan bahwa hadits ini adalah kaidah umum yang membatasi ketaatan kepada siapa pun (pemimpin, suami, maupun orang tua).

 

2. Tetap Berbuat Baik Meski Orang Tua Memaksa pada Keburukan

Islam memberikan arahan yang sangat spesifik ketika orang tua memaksa anak untuk melakukan sesuatu yang salah (dalam ayat ini dicontohkan syirik/bid'ah).

 

Allah ﷻ berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”
(Al-Qur’an, Surah Luqman : Ayat 15)

Ulama Salaf menjelaskan bahwa ayat ini memisahkan antara Ketaatan dan Hubungan Baik.

  • Dalam hal perintah bid'ah: Wajib menolak.
  • Dalam hal pergaulan sehari-hari: Wajib tetap hormat dan lembut.

 

3. Menyikapi Kekerasan Fisik dan Emosional

Jika penolakan terhadap bid'ah tersebut berujung pada kekerasan fisik atau tekanan mental yang hebat, berikut adalah langkah-langkah syar'inya:

A. Menggunakan Hikmah dan Diplomasi

Jangan menolak dengan nada menantang atau mendebat di saat mereka sedang emosi. Gunakan kata-kata yang paling lembut.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ»

“Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.”
(Riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Jilid 4, Halaman 2004, Nomor 2594, dari Aisyah Radhiallahu 'anha)

 

B. Mencari Perlindungan dan Menghindari Bahaya

Dalam Islam, menjaga keselamatan jiwa dan raga (Hifzhun Nafs) adalah salah satu tujuan utama syariat (Maqasid Syariah). Jika orang tua atau keluarga bertindak main fisik (memukul, menyiksa), maka:

  1. Boleh Menghindar: Anda tidak wajib berdiam diri saat dipukuli. Berpindah sementara ke rumah saudara lain atau tempat yang aman adalah diperbolehkan untuk meredam kemarahan mereka.
  2. Menghindari Konfrontasi Langsung: Jika Anda tahu suatu acara bid'ah akan dilaksanakan, carilah alasan yang masuk akal untuk tidak berada di rumah saat itu (seperti urusan pekerjaan atau kesehatan) untuk menghindari bentrokan fisik.

 

C. Sabar Tidak Berarti Menyerah pada Bid'ah

Syekh al-Albani rahimahullah dalam kitab At-Tashfiyah wa At-Tarbiyah menjelaskan bahwa proses mendidik keluarga memerlukan waktu yang lama. Beliau menasihatkan agar seorang penuntut ilmu tidak terburu-buru menghukumi keluarganya dengan keras sehingga mereka lari dari dakwah. Namun, beliau tetap teguh bahwa jika dipaksa melakukan amalan yang tidak ada asalnya dalam agama, seorang Muslim harus tetap menolak dengan cara yang paling tenang.

 

4. Solusi Terakhir: Kemandirian (Hijrah)

Apabila lingkungan rumah sudah tidak memungkinkan lagi bagi seseorang untuk menjalankan agamanya dengan aman (karena dipaksa bid'ah dengan kekerasan fisik), maka para ulama menyarankan untuk hidup mandiri (keluar dari rumah tersebut jika sudah mampu secara finansial).

 

Allah ﷻ memuji orang-orang yang berhijrah demi menjaga agamanya:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.”
(Al-Qur’an, Surah An-Nisa : Ayat 100)

 

Kesimpulan Langkah Praktis:

  1. Tunjukkan Akhlak yang Luar Biasa: Saat Anda menolak melakukan bid'ah, balaslah dengan pengabdian duniawi yang lebih besar. Jika Anda menolak ikut acara yang tidak ada dalilnya, maka setelah itu bantulah mereka mencuci piring, membersihkan rumah, atau memijat kaki mereka. Tunjukkan bahwa Sunnah menjadikan Anda anak yang lebih berbakti, bukan anak yang pembangkang.
  2. Diam saat Mereka Marah: Jangan membalas dengan ucapan. Saat mereka main fisik atau emosi, berdoalah dalam hati memohon perlindungan.
  3. Gunakan Perantara: Carilah tokoh agama atau anggota keluarga lain yang mereka segani untuk berbicara kepada mereka bahwa Anda tidak bermaksud durhaka, namun hanya ingin menjalankan agama sesuai yang Anda yakini benar.
  4. Doakan Hidayah: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tetap mendoakan kaumnya yang menyakitinya: "Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui."

Dijawab oleh: Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A.  ·  Pertanyaan dari: Rendi Apriyano

WhatsApp Telegram
← Semua Tanya Jawab