بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tanya Jawab

Aqidah dan Manhaj

Q
04 Aug 2026

Bismillah.. Afwan... Ustadz, apabila kita ingin berkenalan dengan orang2 Shaleh terutama dengan para Ustadz dengan membantu urusan mereka dalam Dakwah dengan niat membantu Dakwah mereka dan juga niat supaya kita di Doa kan oleh mereka. Apakah ini dibolehkan dan akan mendapatkan Pahala atas Ibadah kita (Infaq) Jazaakallahu khayran

A

Hukum Membantu Dakwah dan Mengharap Doa Orang Shalih

Niat seseorang untuk mendekat kepada orang-orang shalih seperti para ustadz (da'i), sehingga ia bisa berkontribusi dalam urusan dakwah mereka adalah sebuah amal yang mulia dan memiliki landasan yang kuat dalam syariat Islam.
Membantu urusan dakwah para ustadz (ulama/penuntut ilmu), baik dengan harta maupun tenaga, termasuk dalam kategori menolong agama Allah Subhanahu wa Ta'ala.

 

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(Surah Muhammad : Ayat 7)

 

Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا»

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”
(Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Jilid 4, Halaman 2060, Nomor 2674)

 

Ketika seseorang ikut membantu fasilitas dakwah seorang ustadz, maka setiap ilmu yang sampai kepada jamaah dan diamalkan, ia mendapatkan aliran pahala jariyah tersebut karena ia menjadi perantara tegaknya dakwah tersebut.

Sedangkan berharap agar didoakan oleh para ustadz/orang shalih dalam pandangan syari'at adalah diperbolehkan. Ini disebut sebagai Tawassul dengan doa orang shalih yang masih hidup. Berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiallahu 'anhu, bahwa Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhu ketika terjadi kekeringan, beliau meminta Al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu 'anhu (paman Nabi) untuk berdoa memohon hujan yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Jilid 2, Halaman 27, Nomor 1010.

Syekh al-Albani dalam kitab beliau Al-Tawassul: Anwā'uhu wa Ahkāmuhu Halaman 56-60, menjelaskan bahwa meminta doa kepada orang yang dianggap lebih shalih dan bertakwa adalah perkara yang disyariatkan. Beliau menekankan bahwa niat ini tidak merusak keikhlasan selama hati tetap bergantung sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai pengabul doa, sedangkan orang shalih hanyalah perantara doa.

 

Mengenai pertanyaan apakah Infaq tetap berpahala jika terselip niat agar didoakan:

  1. Pahala Infaq: Selama niat utama adalah mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membantu tegaknya agama-Nya, maka Infaq tersebut tetap dihitung sebagai ibadah yang berpahala besar.
  2. Keinginan Didoakan: Hal ini dianggap sebagai "tambahan" yang diperbolehkan. Sebagaimana para Sahabat radhiallahu 'anhum memberikan sedekah kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan harapan beliau mendoakan dan mensucikan mereka Sesuai QS. At-Tawbah: 103 yang artinya; "Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo'alah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui".

Berdasarkan uraian di atas, membantu urusan dakwah para orang shalih dengan tujuan membantu agama Allah dan mengharap doa dari mereka adalah:

  1. Dibolehkan dan merupakan bagian dari sunnah para Sahabat radhiallahu 'anhum.
  2. Berpahala besar, baik pahala Infaq-nya sendiri maupun pahala karena menolong tersebarnya ilmu.
  3. Saran: Hendaknya bantuan tersebut dilakukan dengan tulus. Menjalin hubungan baik dengan ahli ilmu adalah salah satu cara untuk menjaga keistiqamahan di atas Manhaj Salaf. Dan hendaknya hubungan ini dibangun di atas kecintaan karena Allah, bukan karena fanatisme individu, sehingga kita mendapatkan kemurnian pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dijawab oleh: Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A.  ·  Pertanyaan dari: Ummi Dini

WhatsApp Telegram
← Semua Tanya Jawab