بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tanya Jawab

Fiqih Muslimah

Q
25 Aug 2026

Pak ustad mau bertanya bagaimana cara untuk menghadapi orang yg menzolimi kita secara be jemah dan bertahun tahun.

A

MENGHADAPI KEZALIMAN BERJAMAAH DAN BERTAHUN-TAHUN



Menghadapi kezaliman yang dilakukan secara kolektif (berjamaah) dan berlangsung dalam waktu yang lama (bertahun-tahun) adalah salah satu ujian terberat bagi jiwa manusia. Kondisi ini bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga dapat menggerus kesehatan mental dan ketenangan batin.

  1. Menyadari bahwa Allah ﷻ Tidak Pernah Tidur
    Langkah pertama untuk menenangkan jiwa adalah meyakini bahwa setiap detik penderitaan kita dicatat oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya sendiri dan atas hamba-Nya. Diriwayatkan dari Abu Dharr al-Ghifari radhiallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi bahwa Allah ﷻ berfirman:
    يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا

    “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (Shahih Muslim, Jilid 4, Halaman 1994, Hadits Nomor 2577).

    Kita harus memahami bahwa mereka yang menzalimi sebenarnya sedang "berperang" melawan ketetapan Allah ﷻ. Meskipun mereka banyak dan bersatu, mereka tidak akan pernah bisa lari dari pengawasan Dzat yang Maha Adil. Kesedihan kita adalah saksi yang akan bicara di pengadilan langit.

  2. Senjata Doa Orang yang Terzalimi
    Dalam Islam, doa orang yang terzalimi adalah doa yang tidak memiliki penghalang antara dirinya dengan Allah ﷻ. Nabi ﷺ memberikan peringatan keras kepada para penzalim melalui riwayat Mu'adh bin Jabal radhiallahu 'anhu:
    وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

    “Dan takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.”
    (Shahih Al-Bukhari, Jilid 3, Halaman 128, No. 2448; Shahih Muslim, Jilid 1, Halaman 50, No. 19).


    Gunakanlah waktu-waktu mustajab (seperti sepertiga malam terakhir) bukan untuk mengutuk dengan dendam, melainkan untuk mengadu kepada Allah ﷻ. Mintalah perlindungan, mintalah jalan keluar, dan mintalah agar Allah ﷻ yang membalas kezaliman mereka dengan cara yang terbaik. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, Jilid 10, Halaman 331).

  3. Sabar yang Aktif, Bukan Pasif
    Sabar dalam menghadapi kezaliman bertahun-tahun bukan berarti hanya diam dan membiarkan diri diinjak-injak. Ahlus Sunnah mengajarkan Sabar yang Aktif:
    * Secara Batin: Menjaga hati agar tidak hancur dan tetap berprasangka baik pada takdir Allah ﷻ.
    * Secara Lahir: Melakukan upaya legal atau sosial untuk menghentikan kezaliman tersebut. Jika memungkinkan, menjauhlah dari lingkungan yang toksik tersebut (Hijrah).

    Allah ﷻ berfirman:

    وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَٰئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ

    "Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosa pun atas mereka.” (QS. Asy-Syura: 41).

  4. Mengingat Hakikat "Orang yang Bangkrut" (Al-Muflis)
    Pikiran yang jernih akan melihat bahwa orang yang zalim sebenarnya sedang "mentransfer" pahala mereka kepada kita setiap hari selama bertahun-tahun. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Nabi ﷺ bertanya, "Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab orang yang tidak punya harta. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah:
    ...مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا...

    "...orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa karena telah mencela si fulan, menuduh si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan...”
    Maka pahala kebaikannya diambil untuk diberikan kepada orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis, maka dosa orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya.

    (Shahih Muslim, Jilid 4, Halaman 1997, Hadits Nomor 2581).

    Bayangkanlah, mereka yang menzalimi kita secara berjamaah selama bertahun-tahun sebenarnya sedang membangun "gunung pahala" untuk kita di akhirat kelak, sementara mereka sendiri sedang berjalan menuju kebangkrutan abadi. Biarkan Allah ﷻ yang mengurus hitung-hitungannya.

  5. Menjaga Kesehatan Jiwa dengan "Hasbunallah"
    Jangan biarkan kezaliman mereka menghancurkan hidup kita. Fokuslah pada pengembangan diri dan kedekatan dengan Allah ﷻ. Ucapkanlah kalimat yang diucapkan Nabi Ibrahim 'alayhissalam saat dilempar ke api dan Nabi ﷺ saat dikepung musuh:
    حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

    “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik penolong.” (QS. Ali Imran: 173).

    Syeikh Al-Albani rahimahullah menekankan bahwa kekuatan seorang mukmin terletak pada ketergantungannya yang mutlak kepada Allah ﷻ. Jika Allah ﷻ sudah menjadi penolongmu, maka tidak ada satu pun kelompok manusia yang mampu mencelakaimu kecuali atas izin-Nya. (Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, Syeikh Al-Albani, Jilid 1, Halaman 702).

    Kesimpulan            1.Tetaplah Berbuat Baik: Jangan biarkan kezaliman mereka mengubah Anda menjadi orang jahat.                            2. Cari Dukungan: Cari lingkungan atau kawan yang shalih untuk menguatkan mental Anda.                                          3. Dokumentasikan dan Laporkan: Jika kezaliman bersifat hukum/fisik, kumpulkan bukti dan mintalah perlindungan kepada pihak berwenang.                            4. Maafkan untuk Ketenangan (Jika Sanggup): Memaafkan bukan untuk membenarkan tindakan mereka, tetapi untuk membebaskan jiwa Anda dari rantai kebencian yang melelahkan. Namun, menuntut keadilan pun adalah hak Anda yang sah secara syariat.                        Semoga Allah ﷻ memberikan kesabaran yang indah (sabrun jamil) bagi Anda, mengangkat segala beban yang menindas jiwa Anda selama bertahun-tahun, dan menggantinya dengan kebahagiaan yang tak terduga di dunia dan kemuliaan di akhirat. Sesungguhnya pertolongan Allah ﷻ itu sangat dekat.

Dijawab oleh: Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A.  ·  Pertanyaan dari: Eriyenni

WhatsApp Telegram
← Semua Tanya Jawab