بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tanya Jawab

Aqidah dan Manhaj Sejarah

Q
24 Sep 2026

Assalamualaikum ustadz.. semoga Allah selalu menjaga Ustadz.. Ahsanallahu ilaykum.. Izin bertanya. Apakah benar para ulama ini terpengaruh aqidah asya'irah seperti al-Hafidz Ibnu Hajar, Imam An-Nawawi, Imam Ibnul Jauzi, Imam Al-Baihaqi, Imam As-Suyuthi dan banyak lagi yang semisal mereka dan bagaimana sikap kita terhadap para ulama tersebut?

A

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

 

Masalah ini merupakan salah satu pembahasan metodologis (manhajiyyah) yang sangat fundamental dalam timbangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu prinsip keadilan dan objektivitas (al-inshāf) dalam menyikapi para imam dan ulama besar kaum muslimin yang memiliki jasa raksasa bagi Islam, namun tergelincir dalam sebagian masalah ijtihad aqidah (khususnya bab Asmā' wa Shifāt).

Berikut adalah uraian mendalam dan terperinci berdasarkan penjelasan para ulama muhaqqiq Ahlus Sunnah wal Jama'ah:

Bagian I: Apakah Benar Para Ulama Tersebut Terpengaruh Aqidah Asya'irah?

Jawaban tegas para ulama muhaqqiq: Benar, para ulama besar tersebut seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Al-Imam An-Nawawi, Al-Imam Al-Baihaqi, Al-Imam Ibnul Jauzi, dan Al-Imam As-Suyuthi rahimahumullah dalam sebagian karya mereka memang terpengaruh oleh metode ta’wīl (memalingkan makna dari zhahirnya) atau metode tafwīdh al-ma'nā (menyerahkan makna hakiki kepada Allah ﷻ tanpa menetapkan maknanya), yang merupakan ciri khas madzhab Asya'irah dan Ahlul Kalam.

Namun demikian, para ulama Ahlus Sunnah memberikan rincian yang sangat adil mengenai kedudukan masing-masing dari mereka:

 

1. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-'Asqalani (w. 852 H) dan Imam An-Nawawi (w. 676 H) rahimahumallah

  • Bukan Asy'ari Tulen (Khālish):Mereka berdua pada hakikatnya bukanlah penganut madzhab Asy'ari murni yang membangun akidahnya di atas kaidah filsafat ilmu kalam ('ilm al-kalām). Pokok pegangan mereka adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah (Ahlul Hadits).
  • Banyak Menyelisihi Pokok Asya'irah: Dalam banyak perkara akidah, keduanya justru menyelisihi aqidah Asya'irah muta'akhkhirin: 
  1. Mereka menetapkan sifatAl-'Uluw (ketinggian Allah ﷻ di atas seluruh makhluk-Nya dan di atas 'Arsy-Nya) secara hakiki.
  2. Mereka menetapkan bahwa Al-Qur'an adalah Kalāmullāh (firman Allah ﷻ) yang didengar dengan huruf dan suara, bukan sekadar makna yang ada dalam diri-Nya (Kalām Nafsī) sebagaimana keyakinan Asya'irah.
  3. Mereka menolak kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah an-nazhar (merenung/berfilsafat), melainkan kewajiban pertama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat.
  • Titik Ketergelinciran:

  • Ketergelinciran mereka terutama terjadi dalam pembahasan sebagian sifat Khabariyyah (seperti sifat Al-Wajh, Al-Yad, Al-Ayn) dan sifat Fi'liyyah (seperti Al-Ghadhab, Ar-Ridhā, An-Nuzūl), di mana mereka kerap menukil takwil-takwil dari ulama sebelum mereka (seperti Abu Sulaiman Al-Khaththabi, Ibnu Baththal, Ibnu Furak, dan Fakhruddin Ar-Razi) atau memilih jalan tafwīdh.

 

2. Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqi (w. 458 H) rahimahullah

 

  • Beliau adalah seorang imam besar dalam hadits dan fiqih Syafi'i (Nāshir As-Sunnah). Kitab-kitabnya seperti As-Sunan Al-Kubrā dan Ma'rifat As-Sunan wal-Ātsār adalah rujukan agung.
  • Beliau terpengaruh oleh madzhab Asy'ari generasi awal (mutaqaddimīn), khususnya melalui guru-gurunya seperti Abu Bakr bin Furak dan Abu Ishaq Al-Isfarayini.
  • Dalam kitabnya Al-Asmā' wash-Shifāt, beliau membela banyak hadits tentang sifat Allah ﷻ, namun beliau kerap mentakwil sifat-sifat fi'liyyah ikhtiyāriyyah (sifat yang berkaitan dengan kehendak Allah ﷻ) karena terikat dengan kaidah tanzih mutakallimin.

 

3. Al-Imam Ibnul Jauzi (w. 597 H) rahimahullah

  • Beliau bermadzhab Hanbali dalam fiqih, namun dalam bab sifat Allah ﷻ beliau sangat terpengaruh oleh para tokoh Hanabilah yang condong ke ilmu kalam, seperti Ibnu 'Aqil dan Abu Al-Wafa' Ibnu Hubairah.
  • Beliau menulis kitab Daf'u Syubahit-Tasybīh bi Akuffit-Tanzīh, di mana beliau mentakwil banyak sifat Allah ﷻ dan secara keras mengkritik para ulama Hanabilah sezamannya (seperti Al-Qadhi Abu Ya'la dan Ibnu Hamid) yang beliau anggap mujassimah.

 

Karena sikapnya ini, beliau dikritik keras oleh para imam madzhab Hanbali sendiri, seperti Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahumullah.

 

4. Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H) rahimahullah

  • Beliau hidup di era di mana madzhab Asy'ariyah muta'akhkhirin telah mendominasi secara mutlak pusat-pusat pendidikan di Mesir dan Syam.
  • Oleh karenanya, dalam pembahasan aqidah, karya-karya beliau sangat kental dengan ta'wil dan kaidah-kaidah muta'akhkhirin Asya'irah.

 

Mengapa Para Ulama Besar Tersebut Terpengaruh?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab Majmū' Al-Fatāwā (Tahqiq: Abdurrahman bin Qasim, Jilid 4, Halaman 54–55) menjelaskan bahwa keterpengaruhan para ulama tersebut disebabkan oleh:

 

  1. Dominasi Lingkungan Ilmiah: Kurun abad ke-5 hingga ke-10 Hijriyah adalah era di mana madzhab Asy'ari menjadi kurikulum resmi di berbagai madrasah besar (seperti Madrasah An-Nizhamiyyah dan Al-Azhar).
  2. Keterbatasan Rujukan Kitab-Kitab Salaf: Kitab-kitab akidah para imam Salaf (seperti karya Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Abdullah bin Ahmad, Al-Khallal) tidak tersebar luas di masa mereka sebagaimana tersebarnya kitab-kitab syarah mutakallimin.
  3. Niat yang Tulus untuk Mensucikan Allah ﷻ (Tanzīh): Mereka sama sekali tidak berniat menyelisihi Rasulullah ﷺ. Mereka menyangka bahwa takwil tersebut adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan kaum muslimin dari tasybīh (menyerupakan Allah ﷻ dengan makhluk).

 

Bagian II: Sikap Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah Terhadap Mereka

Para ulama Ahlus Sunnah yang kokoh ilmunya (seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Hafidz Adz-Dzahabi, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin, dan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahumullah) meletakkan kaidah-kaidah yang sangat mulia:

1. Memandang Kekeliruan Mereka Sebagai Kesalahan Ijtihad yang Diberi Udzur dan Pahala

Mereka adalah para ulama mujtahid mutlak yang mencurahkan segenap daya upaya untuk mencari kebenaran. Dalam timbangan syariat, mujtahid yang salah tetap mendapatkan satu pahala dan dosanya diampuni.

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ»

"Dari sahabat 'Amr bin Al-'Ash radhiallahu 'anhu, bahwasanya ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila seorang hakim menghukumi suatu perkara lalu ia berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi suatu perkara lalu berijtihad dan keliru, maka baginya satu pahala."

(Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahīh Al-Bukhārī, Kitab Al-I'tishām bil-Kitābi was-Sunnah, Bab Ajril Hākim idzājtahada fa Ashāba au Akhtha'a, Jilid 9, Halaman 108, Hadits Nomor 7352. Dan Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitab Al-Aqdhiyah, Bab Bayān Ajril Hākim idzājtahada, Jilid 3, Halaman 1342, Hadits Nomor 1716).

2. Kaidah Keadilan (Al-Inshāf): Lautan Kebaikan Menenggelamkan Sedikit Kekeliruan

Umat Islam di seluruh penjuru bumi berhutang budi pada kitab-kitab mereka: Fathul Bārī karya Ibnu Hajar, Syarh Shahīh Muslim, Riyādhush Shālihīn, dan Al-Majmū' karya Imam An-Nawawi. Karya-karya tersebut menjadi rujukan utama para penuntut ilmu dan kaum muslimin sepanjang masa. Para ulama mengumpamakan hal ini dengan sabda Rasulullah ﷺ:

"Dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika air telah mencapai dua kulah, ia tidak menanggung kotoran/najis."

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ»

(Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abī Dāwud, Kitab Ath-Thahārah, Bab Mā Yunjisul Mā', Jilid 1, Halaman 17, Hadits Nomor 63; Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzī Jilid 1, Halaman 97, Hadits Nomor 67; Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasā'ī Jilid 1, Halaman 46, Hadits Nomor 52. Dinilai Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahīh Sunan Abī Dāwud, Jilid 1, Halaman 17, Hadits Nomor 63; serta dalam Irwā'ul Ghalīl fī Takhrīji Ahādīts Manāris Sabīl, Jilid 1, Halaman 62, Hadits Nomor 23).

 

Maksud para ulama:

Kebaikan dan jasa besar para imam ini laksana lautan yang sangat banyak, sehingga sedikit kekeliruan ta'wil yang timbul dari ijtihad mereka tidak mencemarkan kemuliaan dan status keimaman mereka dalam Islam.

 

Ucapan Emas Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah:

Al-Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitab monumentalnya Siyar A'lām An-Nubalā' Jilid 14, Halaman 40:

«وَلَوْ أَنَّا كُلَّمَا أَخْطَأَ إِمَامٌ فِي اجْتِهَادِهِ فِي آحَادِ الْمَسَائِلِ خَطَأً مَغْفُورًا لَهُ، قُمْنَا عَلَيْهِ، وَبَدَّعْنَاهُ، وَهَجَرْنَاهُ؛ لَمَا سَلِمَ مَعَنَا لَا ابْنُ نَصْرٍ، وَلَا ابْنُ مَنْدَه، وَلَا مَنْ هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُمَا، وَاللَّهُ هُوَ هَادِي الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ، وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الْهَوَى وَالْفَظَاظَةِ»

“Seandainya setiap kali seorang imam melakukan kesalahan dalam ijtihadnya pada rincian permasalahan yang sejatinya merupakan kesalahan yang diampuni baginya  lalu kita serang dia, kita cap dia sebagai ahli bid'ah (mubtadi'), dan kita boikot dia; niscaya tidak ada seorang pun imam yang selamat di sisi kita, tidak Ibnu Nashr (Al-Marwazi), tidak pula Ibnu Mandah, dan tidak pula orang-orang yang lebih besar kedudukannya dari keduanya. Dan Allah-lah pemberi petunjuk makhluk kepada kebenaran, Dialah Maha Penyayang di antara para penyayang. Maka kita berlindung kepada Allah dari hawa nafsu dan kekasaran perangai.”

 

3. Fatwa Para Ulama Kontemporer Ahlus Sunnah

 

  • Fatwa Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah:

Beliau ditanya tentang orang-orang yang mencela Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam An-Nawawi, maka beliau menjawab dalam kitab Majmū' Fatāwā wa Rasā'il Ibn 'Utsaimīn Jilid 1, Halaman 235 serta dalam Liqā'āt Al-Bāb Al-Maftūh (Liqa' Nomor 43, Pertanyaan Nomor 9):

"Tetapi ada para ulama yang dipersaksikan kebaikannya, mereka tidak menisbatkan diri kepada kelompok ahli bid'ah tertentu, namun dalam ucapan mereka terdapat sebagian perkataan ahli bid'ah; seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan Imam An-Nawawi rahimahumallah. Sesungguhnya sebagian orang yang bodoh (safahā') mencela keduanya secara mutlak dari segala sisi, sampai-sampai dikatakan kepadaku: 'Sesungguhnya sebagian orang berkata wajib membakar Fathul Bari karena Ibnu Hajar itu Asy'ari!' Ini sama sekali tidak benar. Kedua tokoh ini secara khusus, aku tidak mengetahui hari ini ada orang yang telah mempersembahkan khidmat bagi hadits-hadits Rasulullah ﷺ sebesar apa yang mereka berdua persembahkan... Maka aku katakan: Semoga Allah ﷻ mengampuni An-Nawawi, mengampuni Ibnu Hajar Al-'Asqalani, dan para ulama semisal keduanya yang telah Allah jadikan bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Dan aminkanlah doaku ini!"

  • Fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah:

Beliau ditanya mengenai orang yang memperingatkan umat dari membaca kitab Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar, maka beliau menjawab dalam kitab Majmū' Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi'ah Jilid 28, Halaman 47:

"Mereka memiliki hal-hal yang mereka keliru di dalamnya pada bab sifat, yaitu Ibnu Hajar, An-Nawawi, dan sekelompok ulama lainnya. Mereka memiliki hal-hal yang mereka keliru, di mana pada poin kesalahan itu mereka bukan dari Ahlus Sunnah. Namun mereka adalah bagian dari Ahlus Sunnah pada perkara-perkara yang mereka lurus padanya dan tidak mereka selewengkan, demikian pula para ulama lainnya yang semisal mereka yang pernah tergelincir."

4. Tetap Menghidupkan Doa bagi Mereka Sesuai Bimbingan Al-Qur'an

Sikap seorang mukmin terhadap para pendahulu yang beriman adalah memohonkan ampunan dan tidak menaruh kebencian di dalam hati, sebagaimana firman Allah ﷻ:

﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: 'Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu sebelum kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.'” (QS. Al-Hasyr : 10).

 

Kesimpulan Sikap yang Wajib Diambil oleh Setiap Muslim

 

  1. Menghormati dan Memuliakan Kedudukan Mereka: Mengakui keimaman, ketakwaan, keluasan ilmu, dan jasa raksasa Al-Hafidz Ibnu Hajar, Imam An-Nawawi, Imam Al-Baihaqi, Imam Ibnul Jauzi, dan Imam As-Suyuthi bagi umat Islam.
  2. Mengambil Manfaat Penuh dari Kitab-Kitab Mereka: Menjadikan karya-karya mereka sebagai rujukan utama dalam hadits, fiqih, ushul, tarikh, dan lughah.
  3. Meninggalkan Kesalahan Takwil: Tidak mengikuti takwil mereka dalam perkara sifat-sifat Allah ﷻ, melainkan tetap berpegang teguh pada manhaj para Shahabat dan Salafush Shalih (menetapkan sifat Allah ﷻ tanpa tahrīf, ta'thīl, takyīf, dan tamtsīl).
  4. Mendoakan Rahmat dan Ampunan: Memohonkan ampunan (tarahhum) atas ketergelinciran ijtihad mereka.
  5. Membantah Kaum Ghulat (Ekstrem): Berlepas diri dari orang-orang ekstrem (seperti firqah Haddadiyyah zaman ini) yang mencela, menyesatkan, atau membid'ahkan para imam agung tersebut secara mutlak.

 

Wallahu Ta'ala A'lam bish-Shawab.

 

Dijawab oleh: Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A.  ·  Pertanyaan dari: Rendi Apriyano

WhatsApp Telegram
← Semua Tanya Jawab