Fiqih Muslimah
Assalamualaikum warahmatullahi pak ustad saya ingin bertanya jika anak bayi sering menangis mohon penjelasan cara mengatasi secara syar i.dan tanda bayi di ganggu oleh Jin sbb.terima kasih atas jawaban pak ustad.
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Pertanyaan ini sangat penting dan sering dihadapi oleh para orang tua. Di dalam pandangan syariat Islam yang berlandaskan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah, persoalan bayi yang sering menangis harus disikapi secara proporsional dan bijaksana: Tidak boleh meremehkan adanya pengaruh ghaib (seperti gangguan jin atau penyakit 'ain), namun tidak boleh pula terburu-buru menyimpulkan setiap tangisan bayi sebagai gangguan mistis dengan mengabaikan faktor fisik dan medis.
Berikut adalah uraian lengkap dan komprehensif mengenai tanda-tanda kemungkinan gangguan jin/‘ain pada bayi serta tata cara penanganannya secara syar'i.
Para ulama menegaskan bahwa seorang muslim wajib mendahulukan pemeriksaan terhadap sebab-sebab fisik/alamiah (asbāb thabī'iyyah) terlebih dahulu. Bayi belum memiliki kemampuan berbicara, sehingga tangisan adalah satu-satunya bahasa komunikasi mereka untuk menyampaikan:
Apabila seluruh kebutuhan fisik dan pemeriksaan medis telah dipastikan dalam keadaan baik, namun bayi tetap menangis histeris secara tidak wajar, barulah kita menaruh perhatian pada kemungkinan adanya pengaruh maknawi (gangguan jin, setan, atau pandangan mata jahat/penyakit 'ain).
Bayi dan anak-anak kecil secara alamiah memiliki jiwa dan raga yang masih lemah serta belum mampu membentengi diri mereka sendiri dengan dzikir. Oleh karena itu, mereka sangat rentan terhadap gangguan setan serta pandangan 'ain (mata jahat manusia maupun jin).
Dalil syar'i yang menetapkan bahwa tangisan anak kecil bisa disebabkan oleh pandangan 'ain atau gangguan jin antara lain:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَسَمِعَ صَوْتَ صَبِيٍّ يَبْكِي، فَقَالَ: «مَا لِصَبِيِّكُمْ هَذَا يَبْكِي؟ فَهَلَّا اسْتَرْقَيْتُمْ لَهُ مِنَ الْعَيْنِ؟»
"Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu 'anha, beliau berkata: Nabi ﷺ masuk ke rumah, lalu beliau mendengar suara tangisan anak kecil. Maka beliau bersabda: "Mengapa anak kalian ini menangis? Mengapa tidak kalian mintakan ruqyah untuknya dari penyakit 'ain?"(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad, Jilid 40, Halaman 456, Hadits Nomor 24442. Dinilai Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahīhul Jāmi' Ash-Shaghīr wa Ziyādatuh, Jilid 2, Halaman 984, Hadits Nomor 5662).
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى فِي بَيْتِهَا جَارِيَةً فِي وَجْهِهَا سَفْعَةٌ، فَقَالَ: «اسْتَرْقُوا لَهَا، فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ»
"Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiallahu 'anha, bahwasanya Nabi ﷺ melihat seorang anak perempuan di rumah beliau yang di wajahnya ada saf'ah (rona warna kusam/hitam kebiruan/kuning pucat). Maka beliau bersabda: "Carikanlah ruqyah untuknya, karena sesungguhnya ia terkena an-nazhrah (pandangan mata jin/mata jahat).'"
(Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahīh Al-Bukhārī, Kitab Ath-Thibb, Bab Ruqyatil 'Ain, Jilid 7, Halaman 132, Hadits Nomor 5739. Dan Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitab As-Salām, Bab Istihbābir Ruqyah minal 'Ain, Jilid 4, Halaman 1725, Hadits Nomor 2197). Berdasarkan nash-nash di atas serta pemaparan para ulama dan praktisi ruqyah syar'iyyah, tanda-tanda bayi terkena gangguan jin atau penyakit 'ain umumnya meliputi:
Islam telah memberikan bimbingan praktis dan sempurna melalui sunnah Rasulullah ﷺ untuk melindungi buah hati dari keburukan setan dan 'ain:
Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk menahan anak-anak kecil agar tidak berada di luar rumah atau di pekarangan saat pergantian sore ke malam hari.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ - أَوْ أَمْسَيْتُمْ - فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا»
"Dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika malam mulai tiba – atau saat petang – maka tahanlah anak-anak kecil kalian (di dalam rumah), karena sesungguhnya setan-setan bertebaran pada saat itu. Jika telah berlalu sesaat dari waktu malam (telah masuk waktu Isya), maka lepaskanlah mereka. Dan tutuplah pintu-pintu rumah serta sebutlah nama Allah (membaca bismillah), karena sesungguhnya setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup rapat (yang disebut nama Allah atasnya).'"
(Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahīh Al-Bukhārī, Kitab Bad'il Khalq, Bab Shifatu Iblīs wa Junūdih, Jilid 4, Halaman 124, Hadits Nomor 3280; serta Kitab Al-Asyribah, BabTagh-thiyatil Inā', Jilid 7, Halaman 111, Hadits Nomor 5623. Dan Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitab Al-Asyribah, Bab Al-Amr bi Tagh-thiyatil Inā' wa Īkā'is Siqā', Jilid 3, Halaman 1595, Hadits Nomor 2012).
Sebelum azan Maghrib berkumandang, bawa bayi masuk ke dalam kamar atau rumah, tutup pintu serta jendela rumah sembari mengucap Bismillāh, dan tutup pula wadah makanan serta air minum.
Ini adalah sunnah Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan Nabi Muhammad ﷺ yang dibacakan untuk cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain radhiallahu 'anhuma;
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ، وَيَقُولُ: «إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ»
"Dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma, beliau berkata: Nabi ﷺ senantiasa memohonkan perlindungan untuk Al-Hasan dan Al-Husain, seraya bersabda: "Sesungguhnya bapak moyang kalian (Nabi Ibrahim) dahulu memohonkan perlindungan dengannya untuk Ismail dan Ishaq, yaitu membaca: 'A'ūdzu bi kalimātillāhit tāmmati min kulli syaithāniw wa hāmmah, wa min kulli 'ainil lāmmah' (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap godaan setan, binatang berbisa, dan dari setiap pandangan mata yang membawa keburukan).'"
(Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahīh Al-Bukhārī, Kitab Ahādītsil Anbiyā', Bab Qaulillāhi Ta'ālā: Wattakhadzallāhu Ibrāhīma Khalīlā, Jilid 4, Halaman 145, Hadits Nomor 3371).
Pegang kepala bayi dengan penuh kelembutan, lalu bacakan:
«أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ»
(U'īdzuka bikalimātillāhit-tāmmati min kulli syaithāniw-wa hāmmah, wa min kulli 'ainil-lāmmah).
«أُعِيذُكِ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ»
(U'īdzuki bikalimātillāhit-tāmmati min kulli syaithāniw-wa hāmmah, wa min kulli 'ainil-lāmmah).
Ruqyah terbaik untuk anak adalah yang dilakukan sendiri oleh orang tuanya, karena doa seorang ayah dan ibu yang tulus penuh kasih sayang sangat mustajab di sisi Allah ﷻ.
A. Bersuci (berwudhu), lalu letakkan telapak tangan kanan di atas kepala atau dada bayi.
B. Membaca Surat Al-Fatihah, Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255), serta Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
C. Meniupkan sedikit nafas tanpa air liur (an-nafts) ke kedua telapak tangan lalu diusapkan ke seluruh tubuh bayi.
D. Membaca doa ruqyah yang diajarkan Malaikat Jibril 'alaihissalam kepada Nabi ﷺ:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ» قَالَ: «بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ، بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ»
"Dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu 'anhu, bahwasanya Malaikat Jibril mendatangi Nabi ﷺ dan bertanya: "Wahai Muhammad, apakah engkau merasa sakit?" Beliau menjawab: "Ya." Jibril berkata: "Bismillāhi arqīka, min kulli syai'in yu'dzīka, min syarri kulli nafsin au 'aini hāsid, Allāhu yasyfīka, bismillāhi arqīka" (Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau pandangan mata yang dengki, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu)".
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitab As-Salām, Bab Ath-Thibb wal Amrādh war Ruqā, Jilid 4, Halaman 1718, Hadits Nomor 2186).
E. Membaca doa kesembuhan yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُعَوِّذُ بَعْضَ أَهْلِهِ، يَمْسَحُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى وَيَقُولُ: «اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا»
"Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya Nabi ﷺ memohonkan perlindungan untuk sebagian keluarganya, beliau mengusap dengan tangan kanannya seraya berdoa: "Allāhumma robban-nāsi adz-hibil ba'sa, isyfi wa antasy-syāfī, lā syifā'a illā syifā'uka, syifā'an lā yughādiru saqamā" (Ya Allah Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah dan Engkaulah Maha Penyembuh, tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun)".
(Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahīh Al-Bukhārī, Kitab Ath-Thibb, Hadits Nomor 5743 (Jilid 7, Halaman 131) dan Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitab As-Salām, Hadits Nomor 2191 (Jilid 4, Halaman 1727).
Membaca Surat Al-Baqarah di Rumah: Nabi ﷺ bersabda melalui riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
«لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»
“Jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al-Baqarah.”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitab Shalātil Musāfirīn wa Qashrihā, Jilid 1, Halaman 539, Hadits Nomor 780).
Di masyarakat sering berkembang mitos keliru untuk menolak gangguan sawan/jin pada bayi dengan memasang jimat (tamīmah), seperti:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ الرُّقَى، وَالتَّمَائِمَ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ»
Dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya jampi-jampi (ruqyah yang syirik), jimat-jimat (tamimah), dan pelet (tiwalah) adalah kesyirikan."
(Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abī Dāwud, Kitab Ath-Thibb, Bab Fī Ta'līqit Tamā'im, Jilid 4, Halaman 9, Hadits Nomor 3883; serta Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Mājah, Jilid 2, Halaman 1167, Hadits Nomor 3530. Dinilai Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahīh Sunan Abī Dāwud, Jilid 2, Halaman 456, Hadits Nomor 3883; serta dalam Silsilah Al-Ahādīts Ash-Shahīhah, Jilid 1, Halaman 648, Hadits Nomor 331)
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ»
"Dari sahabat 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani radhiallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa menggantungkan tamimah (jimat), maka semoga Allah tidak menyempurnakan hajatnya (tidak melindunginya); dan barangsiapa menggantungkan wada'ah (benda dari laut untuk penangkal bala), maka semoga Allah tidak memberikan ketenangan kepadanya."
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad, Jilid 28, Halaman 623, Hadits Nomor 17404. Dinilai Hasan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Silsilah Al-Ahādīts Ash-Shahīhah, Jilid 1, Halaman 889, Hadits Nomor 492; serta dalam Shahīhul Jāmi' Ash-Shaghīr, Jilid 2, Halaman 1083, Hadits Nomor 6397).
Wallahu Ta'ala A'lam bish-Shawab.
Dijawab oleh: Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. · Pertanyaan dari: Eriyenni