Fiqih
Assalamu'alaikum.... Afwan ustadz Abu Thohir, apa boleh berpuasa tgl 9,10&11 di bulan Muharram secara berturut -turut? Jazakallahu Khair...
Analisis Hadits Puasa ‘Asyura dan Penambahan Lafadz Sehari Setelahnya
Puasa pada tanggal 10 Muharram adalah sunnah yang bersifat muakkad (sangat ditekankan).
Rasulullah ﷺ bersabda mengenai keutamaannya::
«صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»
"Puasa hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapuskan dosa setahun yang lalu."
(Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, Shahih Muslim, Jilid 2, Halaman 819, Nomor 1162, dari sahabat Abu Qatadah al-Anshari Radhiallahu 'anhu)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk menyelisihi kaum Yahudi dengan menambah puasa pada hari kesembilan (Tasu'a).
Dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu 'anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ»
"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan (bersama hari kesepuluh)."
(Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, Shahih Muslim, Jilid 2, Halaman 798, Nomor 1134)
Terdapat riwayat yang menyebutkan anjuran untuk berpuasa sehari sebelum atau sehari setelah ‘Asyura (yakni tanggal 9, 10, dan 11 Muharram). Teks hadits tersebut adalah:
«صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا، أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا»
"Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura dan selisihilah orang Yahudi; berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya."
(Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad, Jilid 4, Halaman 52, Nomor 2154 dan
Imam al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra, Jilid 4, Halaman 287)
Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menilai riwayat dengan tambahan lafadz "sehari setelahnya" ini sebagai riwayat yang Dha’if (Lemah) dalam Kitab Silsilah al-Ahadits ad-Dha'ifah. Beliau juga menggarisbawahi bahwa terdapat keraguan (syak) dari perawi apakah lafadznya "sehari sebelum" ATAU "sehari sesudah". Sedangkan riwayat yang shahih dalam Shahih Muslim secara tegas hanya menyebutkan keinginan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk berpuasa pada hari kesembilan (Tasu'a).
Sebagaimana kaidah yang diingatkan oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah, bahwa agama ini telah sempurna, maka dalam menjalankan ibadah puasa ‘Asyura, kita wajib mendahulukan apa yang secara pasti datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melalui riwayat-riwayat yang shahih.
Dijawab oleh: Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. · Pertanyaan dari: Syarifuddin