بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

WANITA CALON PENGHUNI SURGA DALAM PERSPEKTIF ALQURAN DAN ASSUNNAH

Hadits Muslimah   12 Jul 2026

Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam yang telah menjanjikan surga bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa, baik laki-laki maupun perempuan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ, yang telah membimbing umat manusia menuju jalan keselamatan, serta kepada para istri Nabi ﷺ dan para shahabiyah radhiallahu 'anhunna yang merupakan teladan terbaik bagi wanita muslimah di sepanjang zaman.
Islam telah menempatkan wanita pada kedudukan yang sangat mulia dan memberikan jalan yang terang benderang untuk meraih ridha Allah ﷻ serta memasuki surga-Nya. Nabi ﷺ telah memberikan batasan yang ringkas namun mendalam mengenai kunci surga bagi seorang wanita.

Dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu 'anhu,

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ 

"Apabila seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, berpuasa di bulannya (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki'."

(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, Jilid 3, hal. 199, No. 1661. Syeikh Al-Albani menilai hadits ini Hasan Lighairihi dalam kitab Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, No. 660)

 Tulisan ringkas ini disusun untuk menguraikan karakteristik wanita calon penghuni surga dengan merujuk kepada pemahaman para ulama ahli sunnah. Melalui risalah singkat ini, diharapkan para pembaca dapat memahami prinsip-prinsip ketaatan dan akhlak yang mulia sebagaimana yang telah digariskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih.

Semoga Allah ﷻ menjadikan tulisan ini sebagai amal jariyah yang bermanfaat dan menjadi motivasi bagi setiap wanita muslimah untuk istiqamah di atas jalan ketaatan hingga meraih janji-Nya di akhirat kelak.

Diantara karakteristik wanita calon penghuni surga yang disebutkan di dalam Alquran maupun Assunnah dapat kita famahi dalam beberapa uraian berikut ini;

1. Ketaatan Mutlak kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ

Syarat utama bagi setiap Muslimah untuk meraih surga adalah pemurnian tauhid dan ketaatan kepada syariat. Mengenai sifat wanita shalehah:

Allah ﷻ berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

"Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)"

(QS. An-Nisa: 34)

Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa makna qanitat adalah wanita yang taat kepada Allah ﷻ dan senantiasa teguh dalam menjalankan kewajiban agama.
(Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Ibnu Katsir, Jilid 2, hal. 283).

Para ulama tafsir juga menjelaskan ayat ini sebagai standar kualifikasi bagi seorang wanita untuk mencapai derajat kemuliaan di sisi Allah ﷻ dan keharmonisan dalam rumah tangga.


• Makna Ash-Shalihat (Wanita-Wanita Shalehah)
Imam Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa Ash-Shalihat adalah wanita-wanita yang baik perilakunya, baik dalam hubungannya dengan Allah ﷻ maupun dengan sesama manusia, terutama suaminya. Istri "shalehah" ini merupakan anugerah terbesar bagi seorang pria di dunia.
(Ma’alimut Tanzil, Al-Imam Al-Baghawi, Jilid 2, hal. 206).


• Makna Qanitat (Wanita yang Taat)
Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah menukil pendapat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwa yang dimaksud dengan qanitat adalah wanita-wanita yang taat kepada suami-suami mereka. Secara bahasa, al-qunut berarti ketaatan yang sempurna dan terus-menerus.
Ulama Ahli Sunnah menekankan bahwa ketaatan kepada suami merupakan kewajiban selama bukan dalam perkara maksiat kepada Allah ﷻ.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menambahkan bahwa qanitat mencakup ketaatan kepada Allah ﷻ (ibadah) dan ketaatan kepada suami dalam hal-hal yang makruf.
(Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Ibnu Katsir, Jilid 2, hal. 283; Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Syeikh As-Sa'di, Jilid 1, hal. 177).


• Makna Hafidhatun lil Ghaibi (Memelihara Diri saat Suami Tidak Ada)
Ayat ini menjelaskan integritas seorang istri. Maknanya adalah wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan menjaga harta suaminya ketika sang suami sedang tidak berada di rumah (bepergian atau bekerja).

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa wanita shalehah tidak akan mengizinkan orang yang tidak disukai suaminya masuk ke rumah, tidak membocorkan rahasia rumah tangga, dan tidak menyia-nyiakan harta yang diamanahkan kepadanya.
(Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, Jilid 5, hal. 170).

Karakteristik ini dipertegas oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النِّسَاءِ مَنْ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

"Sebaik-baik wanita adalah yang jika engkau memandangnya, ia menyenangkanmu; jika engkau memerintahnya, ia menaatimu; dan jika engkau pergi meninggalkannya, ia menjagamu dalam hal dirinya (kehormatannya) dan hartamu."

(Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, No. 3231. Syeikh Al-Albani menilai hadits ini Shahih dalam kitab Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, No. 3298).

Makna Bima Hafidha-Llah (Karena Allah Telah Memelihara)
Terdapat dua penafsiran utama di kalangan ulama mengenai potongan ayat ini:
1. Pertama: Mereka mampu menjaga diri dan harta suami karena adanya taufiq dan penjagaan dari Allah ﷻ. Tanpa pertolongan Allah ﷻ, seorang hamba akan mudah tergelincir.
2. Kedua: Mereka menjaga hak-hak suami sebagai bentuk ketaatan atas apa yang telah Allah ﷻ wajibkan (pelihara) bagi mereka.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa hak yang paling wajib bagi seorang wanita setelah hak Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ adalah hak suaminya. Penjagaan Allah ﷻ kepada wanita-wanita ini adalah balasan atas penjagaan mereka terhadap syariat-Nya.
(Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, Jilid 32, hal. 260-261).

Kesimpulan Pelajaran:
1. Integritas Istri: Keutamaan seorang istri diuji justru saat ia tidak berada dalam pengawasan langsung suaminya.
2. Ketaatan Berjenjang: Ketaatan kepada suami adalah bagian dari ketaatan kepada Allah ﷻ.
3. Penjagaan Allah ﷻ: Seorang wanita akan dimudahkan untuk menjadi shalehah jika ia senantiasa memohon pertolongan dan penjagaan kepada Allah ﷻ. 

 

2. Menjaga Empat Pilar Utama Ibadah

 

Rasulullah ﷺ memberikan "kunci" khusus bagi wanita untuk memasuki surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki. Hal ini berdasarkan hadits dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu 'anhu,

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

"Apabila seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, berpuasa di bulannya (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki'."

 (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, No. 1661. Syeikh Al-Albani menilai hadits ini Hasan lighairihi dalam kitab Shahih At-Targhib wat-Tarhib, No. 1932).

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menekankan bahwa ketaatan kepada suami (dalam hal makruf) diposisikan sangat tinggi setelah ketaatan kepada Allah ﷻ sebagai jalan pintas menuju surga bagi wanita.
(Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Syeikh As-Sa'di, Jilid 1, hal. 177).

Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khattab radhiallahu 'anhu, beliau berkata:

أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ أَدَاءُ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ

تَعَالَى، وَالْوَرَعُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ، وَصِدْقُ النِّيَّةِ فِيمَا عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى

Amal yang paling utama adalah menunaikan apa yang difardhukan Allah Ta’ala, bersikap wara’ (menjauhi) dari apa yang diharamkan Allah, dan benarnya niat (ikhlas) pada apa yang ada di sisi Allah Ta’ala."
(Diriwayatkan oleh Hannad bin as-Sari dalam kitab Az-Zuhd, Jilid 2, hal. 422, No. 825; dan Abu Nu’aym Al-Ashbahani dalam Hilyatul Auliya’, Jilid 1, hal. 52).

Ulama Ahli Sunnah menjelaskan bahwa dalam perkataan yang ringkas ini, Umar bin Al-Khattab radhiallahu 'anhu merangkum seluruh fondasi agama ke dalam tiga poin pokok:


• Menunaikan Kewajiban (Ada’u ma Iftaradhallah)


Umar bin Al-Khattab radhiallahu 'anhu menempatkan penunaian kewajiban sebagai amal yang paling utama. Hal ini dikarenakan perkara yang wajib adalah "modal utama" seorang hamba, sedangkan perkara sunnah adalah "keuntungan tambahan". Seseorang tidak akan mendapatkan keuntungan jika modal utamanya belum terpenuhi.

Hal ini bersesuaian dengan Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

"Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya."

 (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, No. 6502. Lihat: Shahih Al-Bukhari, Dar Thauqin Najah, Jilid 8, hal. 105).

Sikap Wara’ dari yang Haram (Al-Wara’ ‘amma Harramallah)

Wara’ secara istilah adalah meninggalkan segala sesuatu yang dapat membahayakan nasib seseorang di akhirat. Ulama Salaf menjelaskan bahwa meninggalkan satu satu perkara haram lebih dicintai oleh Allah ﷻ daripada melakukan seribu rakaat shalat sunnah namun tetap bergelimang maksiat.
Menjauhi larangan adalah bentuk pembuktian takwa yang paling nyata. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

"Jagalah dirimu dari perkara-perkara yang haram, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling ahli ibadah."

 (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, No. 2305. Syeikh Al-Albani menilai hadits ini Hasan dalam kitab Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, No. 100).

Kejujuran Niat (Sidqun Niyyah)
Niat adalah ruh dari setiap amal. Seseorang mungkin melakukan kewajiban dan menjauhi keharaman, namun jika niatnya bukan karena mengharap wajah Allah ﷻ (ikhlas), maka amalnya akan sia-sia. Sidqun Niyyah berarti hati yang tulus, jujur, dan hanya mengharapkan pahala yang ada di sisi Allah ﷻ, bukan pujian manusia atau keuntungan duniawi.

Pentingnya niat ini ditegaskan dalam hadits yang juga diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khattab radhiallahu 'anhu,

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan."

 (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, No. 1 dan Muslim dalam Shahih-nya, No. 1907).

Menurut para ulama, atsar Umar bin Al-Khattab radhiallahu 'anhu ini mengajarkan kita tentang prioritas dalam beragama:
1. Prioritas Utama: Perbaiki ibadah yang wajib (Shalat 5 waktu, Puasa Ramadhan, dsb).
2. Perisai Diri: Tinggalkan kemaksiatan dengan sungguh-sungguh (Wara’).
3. Inti Ibadah: Senantiasa membersihkan niat agar hanya tertuju kepada Allah ﷻ semata.
Barangsiapa yang menghimpun ketiga hal ini, maka ia telah meraih kesempurnaan dalam penghambaan dan termasuk ke dalam golongan Al-Abrar (orang-orang yang berbakti) yang disebutkan dalam Al-Qur'an.


3. Sifat Kasih Sayang dan Kembali kepada Suami (Al-Wadud wal 'A-ud)


Wanita penghuni surga dicirikan dengan sifatnya yang penyayang dan keinginannya untuk selalu mencari ridha suaminya. Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟ كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang istri-istri kalian di surga? Yaitu setiap wanita yang penuh kasih sayang (wadud) lagi banyak anak (walud), yang apabila ia marah atau diperlakukan buruk atau suaminya marah, ia berkata: 'Ini tanganku di tanganmu, aku tidak akan memejamkan mata (tidur) hingga engkau ridha'."

(Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jamul Kabir. Syeikh Al-Albani menilai hadits ini Hasan dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, No. 287).

4. Sabar dalam Menghadapi Ujian

Wanita yang dijanjikan surga juga sering kali diuji dengan kesabaran yang luar biasa. Sebagaimana kisah seorang wanita berkulit hitam yang menderita penyakit ayan. Dari Atha bin Abi Rabah radhiallahu 'anhu, ia berkata bahwa Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma berkata kepadanya: "Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?" Ia menjawab: "Ya". Ibnu Abbas berkata:

هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ، فَقَالَتْ: أَصْبِرُ

"Wanita hitam ini pernah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: 'Sesungguhnya aku menderita ayan dan auratku terbuka (saat kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku'. Nabi ﷺ bersabda: 'Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, atau jika engkau mau, aku berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu'. Wanita itu menjawab: 'Aku akan bersabar'."

(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, No. 5652 dan Muslim dalam Shahih-nya, No. 2576).

5. Empat Wanita Utama sebagai Teladan


Salafus shalih senantiasa merujuk pada empat wanita terbaik yang telah dijamin surga sebagai standar kemuliaan. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ: خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ

"Wanita penghuni surga yang paling utama adalah: Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun, dan Maryam binti 'Imran."

 (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, No. 2668. Syeikh Al-Albani menilai hadits ini Shahih dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, No. 1508).

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menjelaskan bahwa keempat wanita ini mencapai derajat tertinggi karena kesempurnaan iman, kesabaran dalam menghadapi ujian berat, serta pengabdian yang tulus kepada Allah ﷻ.
(Siyar A'lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi, Jilid 2, hal. 126).

Kesimpulan Karakteristik Menurut Ulama Salaf:
1. Ikhlas dan Tauhid: Membersihkan hati dari syirik dan riya.
2. Ittiba' (Mengikuti Nabi ﷺ): Menutup aurat secara sempurna dan menjaga kehormatan diri.
3. Ketaatan pada Suami: Menjadikan ridha suami sebagai jalan menuju ridha Allah ﷻ (selama tidak maksiat).
4. Sabar dan Syukur: Ridha terhadap takdir Allah ﷻ baik dalam kesulitan maupun kelapangan.
Dalam beberapa riwayat yang shahih, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan (tahdzir) kepada kaum wanita mengenai amal perbuatan yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Peringatan ini bertujuan agar para wanita muslimah melakukan muhasabah dan memperbaiki akhlaknya agar terhindar dari ancaman tersebut.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda setelah melaksanakan shalat Gerhana:

Rasulullah ﷺ bersabda:

...وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ أَفْظَعَ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيلَ: يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

"...Dan aku melihat neraka, maka aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada hari ini, dan aku melihat kebanyakan penduduknya adalah wanita." Para sahabat bertanya: "Mengapa wahai Rasulullah?" Beliau ﷺ menjawab: "Karena kekufuran mereka." Ditanyakan: "Apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?" Beliau ﷺ menjawab: "Mereka kufur (ingkar) terhadap suami dan kufur terhadap kebaikan. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang umurmu, kemudian ia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan), ia akan berkata: 'Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sedikit pun'."

(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, No. 1052. Lihat: Shahih Al-Bukhari, Dar Thauqin Najah, Jilid 2, hal. 37; dan Muslim dalam Shahih-nya, No. 907).

Berdasarkan hadits di atas dan riwayat yang semakna lainnya, para ulama merumuskan dua penyebab utama:

A. Kufur terhadap Suami (Kufrul 'Ashir)

Makna kufr dalam hadits ini bukanlah keluar dari Islam (murtad), melainkan kufrun duna kufrin (kekufuran kecil) yang bermakna tidak bersyukur atau mengingkari nikmat.

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa wanita tersebut cenderung melupakan ribuan kebaikan suaminya hanya karena satu kesalahan atau kekurangan. Sikap ini menunjukkan rendahnya rasa syukur kepada perantara nikmat (suami), sedangkan Nabi ﷺ bersabda bahwa orang yang tidak bersyukur kepada manusia tidak akan bisa bersyukur kepada Allah ﷻ.
(Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Jilid 1, hal. 83).

B. Sering Melaknat dan Mengingkari Kebaikan


Dalam riwayat lain dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ menambahkan sebab lainnya:

Rasulullah ﷺ bersabda:

تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

"Kalian sering melaknat (mengumpat) dan kalian mengingkari (kebaikan) suami."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, No. 304 dan Muslim dalam Shahih-nya, No. 79).

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa melaknat (al-la'nu) yang dimaksud adalah seringnya mengeluarkan kata-kata kotor, makian, atau doa buruk yang tidak pantas, yang sering muncul saat terjadi perselisihan.
(Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi, Jilid 2, hal. 66).

Rasulullah ﷺ tidak sekadar memberikan ancaman, tetapi juga memberikan solusi agar kaum wanita dapat menebus dosa-dosa tersebut. Beliau ﷺ memerintahkan untuk memperbanyak sedekah dan istighfar.

Beliau ﷺ bersabda kepada kaum wanita:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

"Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah beristighfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian adalah mayoritas penghuni neraka."
(Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, No. 79. Lihat: Shahih Muslim, Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, Jilid 1, hal. 86).

Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjelaskan dalam beberapa risalahnya bahwa sedekah dapat memadamkan kemurkaan Allah ﷻ dan menjadi penghapus bagi dosa-dosa lisan dan sikap yang sering dilakukan oleh para wanita.

Penting untuk dipahami bahwa banyaknya wanita di neraka bukan karena Allah ﷻ tidak adil, melainkan karena banyaknya wanita yang meremehkan dosa-dosa lisan dan hak suami. Namun, di sisi lain, Al-Qur'an dan Sunnah juga menegaskan bahwa wanita yang shalehah memiliki kedudukan yang sangat mulia di surga.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menyebutkan bahwa wanita yang mampu menjaga kehormatan, shalatnya, puasanya, dan taat pada suaminya akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia mau.
(Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Syeikh As-Sa'di, Jilid 1, hal. 177).

Maka seorang wanita calon penghuni surga seyogyanya memperhatikan solusi yang telah ditunjukkan Nabi;
1. Bahaya Lisan: Wanita muslimah harus waspada terhadap ucapan yang mengandung laknat atau ingkar terhadap kebaikan orang lain.
2. Syukur kepada Suami: Ketaatan dan rasa syukur kepada suami adalah salah satu jalan utama menuju surga.
3. Sedekah sebagai Penghapus Dosa: Menjadikan sedekah sebagai rutinitas untuk membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan yang tidak disadari.

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. ← Kembali ke Artikel