Aqidah dan Manhaj Hadits Muslimah 26 Sep 2026
Al-Imam Syamsuddin Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitab monumentalnya Al-Wābilush-Shayyib minal-Kalimit-Thayyib Halaman 154; menetapkan sebuah kaidah jiwa yang sangat agung perihal tabiat lisan manusia:
«فَمَنْ عَوَّدَ لِسَانَهُ ذِكْرَ اللَّهِ؛ صَانَ لِسَانَهُ عَنِ الْبَاطِلِ وَاللَّغْوِ، وَمَنْ يَبِسَ لِسَانُهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى؛ تَرَطَّبَ بِكُلِّ بَاطِلٍ وَلَغْوٍ وَفُحْشٍ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
"Barangsiapa yang membiasakan lisannya untuk berdzikir mengingat Allah; maka lisannya akan terjaga dari kebatilan dan perkataan sia-sia (laghwun). Sebaliknya, barangsiapa yang lisannya kering dari berdzikir mengingat Allah Ta'ala; maka lisannya pasti akan terbasahi dengan segala kebatilan, kesia-siaan, dan perkataan keji (fuhsy). Wa lā haula wa lā quwwata illā billāh.”
Makna mendalam dari ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah di atas bertumpu pada kaidah: Lisan diciptakan untuk bergerak dan berbicara, ia tidak akan pernah diam.
Sebagaimana jiwa manusia (an-nafs), jika tidak disibukkan dengan kebenaran, ia pasti akan menyibukkan pemiliknya dengan kebatilan. Demikian pula lisan:
1. Apabila seorang hamba membasahi lidahnya dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, tilawah Al-Qur'an, dan nasihat kebaikan; maka lisan tersebut terlindungi dari menyebarkan dusta, ghibah, namimah (adu domba), dan obrolan yang tidak berfaedah.
2. Namun, tatkala lidah dibiarkan kering dan lalai dari menyebut nama Allah ﷻ; secara otomatis tabiat syahwat dan bisikan setan akan mengisi kekosongan itu dengan mencela, membicarakan aib orang lain, bercanda berlebihan, serta melontarkan kata-kata kotor.
Allah ﷻ menegaskan bahwa setiap huruf dan kalimat yang terucap dari lidah manusia berada dalam pengawasan ketat malaikat pencatat amal:
Allah ﷻ berfirman:
﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
"“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (mencatat).” (QS. Qaf : 18).
Allah ﷻ berfirman:
﴿لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”* (QS. An-Nisa' : 114).
Rasulullah ﷺ memerintahkan seorang sahabat yang merasa syariat Islam telah banyak untuk berpegang teguh pada amalan paling utama, yaitu membasahi lisan dengan dzikir:
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ؟ قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»
"Dari sahabat Abdullah bin Busr radhiallahu 'anhu: Bahwasanya ada seorang laki-laki berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam telah terasa banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat aku jadikan pegangan erat?" Beliau bersabda: "Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berdzikir mengingat Allah."
(Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzī, Kitab Ad-Da'awāt, Bab Mā Jā'a fī Fadhlidz-Dzikr, Jilid 5, Halaman 458, Hadits Nomor 3375; serta Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Mājah Jilid 2, Halaman 1246, Hadits Nomor 3793. Dinilai Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahīh Sunan At-Tirmidzī, Jilid 3, Halaman 391, Hadits Nomor 3375; serta dalam Shahīhut Targhīb wat Tarhīb, Jilid 2, Halaman 231, Hadits Nomor 1491).
Keringnya lisan dari dzikir akan menyeret manusia ke dalam jeratan perkataan dusta dan keji yang mampu mencampakkannya ke dasar neraka:
Ketika Mu'adz radhiallahu 'anhu bertanya tentang amalan yang memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, Rasulullah ﷺ di akhir wasiatnya memegang lidah beliau sendiri lalu bersabda:
«كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا» فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ - أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ - إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِم»
"Tahanlah (jagalah) ini bagimu!' Maka aku bertanya: 'Wahai Nabi Allah, apakah kita benar-benar akan disiksa disebabkan apa yang kita bicarakan dengannya?' Beliau bersabda: 'Celakalah ibumu wahai Mu'adz! Bukankah tidak ada yang menelungkupkan manusia ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka - atau di atas hidung-hidung mereka - melainkan akibat hasil tuaian lisan-lisan mereka”
(Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzī, Kitab Al-Īmān, Bab Mā Jā'a fī Hurmatish-Shalāh, Jilid 5, Halaman 11–12, Hadits Nomor 2616; serta Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Mājah Jilid 2, Halaman 1314, Hadits Nomor 3973. Dinilai Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahīh Sunan At-Tirmidzī, Jilid 3, Halaman 42, Hadits Nomor 2616; serta dalam Irwā'ul Ghalīl, Jilid 2, Halaman 138, Hadits Nomor 413).
Lisan adalah gayung penimba bagi isi bejana hati. Bila lisan terbiasa berdzikir, hati menjadi lurus dan bersih:
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ»
"Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Tidak akan lurus keimanan seorang hamba sampai lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sampai lurus lisannya."
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad, Jilid 20, Halaman 343, Hadits Nomor 13048. Dinilai Hasan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahīhut Targhīb wat Tarhīb, Jilid 3, Halaman 3, Hadits Nomor 2554; serta dalam Silsilah Al-Ahādīts Ash-Shahīhah, Jilid 6, Halaman 892, Hadits Nomor 2841).
Untuk merealisasikan nasihat Al-Imam Ibnul Qayyimrahimahullahdalam kehidupan modern saat ini, para ulama menyusun panduan praktis:
1.Menjaga Wirid Dzikir Pagi dan Petang (Adzkārush-Shabāh wal-Masā'):
Memulai hari setelah shalat Shubuh dan menutup sore setelah Ashar dengan dzikir ma'tsur yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Dzikir pagi-petang adalah benteng perisai yang menjaga lisan sepanjang waktu aktif.
2. Memanfaatkan Waktu-Waktu Jeda (Auqātul Farāgh):
Saat sedang mengendarai kendaraan, menunggu antrean, berjalan kaki, atau jeda istirahat kerja; gantilah kebiasaan melamun atau membuka media sosial tanpa arah dengan istighfar, shalawat atas Nabi ﷺ, dan tasbih:
3. Mengisi Majelis Pertemuan dengan Kebaikan:
Apabila berada dalam suatu majelis perbincangan, arahkan pembicaraan pada ilmu agama, urusan dunia yang bermanfaat, atau tutuplah majelis tersebut dengan doaKaffāratul Majlisagar perkataan sia-sia yang luput terhapus dosanya.
4. Prinsip Diam Sebelum Berbicara
Menerapkan sabda Nabi ﷺ dari riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu (Shahih Al-Bukhari no. 6018 dan Shahih Muslim no. 47):
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) hendaklah ia diam.”
Perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah adalah cermin bagi kejujuran iman seorang hamba. Tidak ada pilihan ketiga bagi lidah manusia: apabila ia tidak dibasahi dengan dzikrullah, ia pasti akan terbasahi dengan kebatilan, ghibah, dusta, dan kekejian.
Semoga Allah ﷻ senantiasa menggerakkan lisan kita untuk bertasbih, bertahmid, dan beristighfar, serta memelihara lisan kita dari segala bentuk ucapan yang mengundang murka-Nya.