Aqidah dan Manhaj Hadits Sejarah 29 Sep 2026
Dalam akidah Ahli Sunnah wal Jamaah, ketaatan kepada penguasa muslim dalam perkara yang bukan maksiat bukan sekadar urusan politik atau kontrak sosial, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.
Islam memberikan panduan komprehensif agar stabilitas umat terjaga meskipun diuji dengan pemimpin yang tidak ideal.
Ketaatan kepada pemimpin merupakan perpanjangan dari ketaatan kepada Nabi ﷺ. Hal ini ditegaskan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي
"Barangsiapa menaatiku, maka ia telah menaati Allah. Barangsiapa mendurhakaiku, maka ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (yang muslim), maka ia telah menaatiku. Dan barangsiapa mendurhakai pemimpin, maka ia telah mendurhakaiku.”
(Hadits Riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitabal-Jihad, No. 2957, Jilid 4, Halaman 38; dan Muslim dalam Shahih-nya, Kitabal-Imarah, No. 1835, Jilid 3, Halaman 1466).
Para ulama menjelaskan bahwa ketaatan ini bersifat mutlak selama perintahnya tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah ﷻ. Tujuannya adalah demi terciptanya keteraturan hidup berjamaah dan tegaknya hukum di tengah manusia.
Manusia tidak luput dari kesalahan, begitu pula pemimpin. Adakalanya mereka mengeluarkan kebijakan atau memiliki perilaku yang dibenci oleh rakyatnya. Dalam kondisi ini, Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk bersabar. Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
"Barangsiapa melihat sesuatu yang ia benci dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar atasnya. Karena sesungguhnya barangsiapa yang keluar (memberontak/memisahkan diri) dari penguasa meski hanya sejengkal, kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”
(Hadits Riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitabal-Fitan, No. 7054, Jilid 9, Halaman 47; dan Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Imarah, No. 1849, Jilid 3, Halaman 1477).
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa makna "Mati Jahiliyah" bukanlah mati dalam keadaan kafir, melainkan mati dalam keadaan serupa dengan penduduk masa jahiliyah yang hidup tanpa pemimpin, tercerai-berai, dan selalu berada dalam peperangan antar suku yang tiada henti. (Fathul Bari, Jilid 13, Halaman 7).
Dalam menjalani kehidupan bernegara, adakalanya umat Islam diuji dengan munculnya pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya daripada kepentingan rakyat. Bagaimana syariat membimbing kita menghadapi situasi yang penuh sesak dengan perasaan tidak adil ini? Rasulullah ﷺ telah memberikan kunci keselamatannya sejak 14 abad yang lalu.
Dari Abdullah bin Mas’udradhiallahu 'anhu,
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا» قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: «تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ»
"Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku atsarah (sikap egois/monopoli pemimpin) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Para sahabat bertanya: “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami (saat itu)?” Beliau ﷺ bersabda: “Tunaikanlah kewajiban kalian dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian.”
(Hadits Riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Fitan, No. 7052, Jilid 9, Halaman 47; dan Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Imarah, No. 1843, Jilid 3, Halaman 1472).
Para ulama menjelaskan bahwa Atsarah adalah kondisi di mana penguasa memonopoli harta baitul mal atau jabatan hanya untuk diri dan kerabatnya, sementara rakyat yang lebih berhak justru diabaikan.
Adapun Umuuran tunkiruunaha mencakup kebijakan-kebijakan yang menyelisihi syariat atau kemunkaran yang tampak pada diri pemimpin.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan: "Maksudnya, pemimpin tersebut mengistimewakan dirinya sendiri dengan urusan dunia (harta dan fasilitas) atas kalian." (Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Jilid 13, Halaman 5).
Ketika hak-hak rakyat dizalimi, secara manusiawi muncul dorongan untuk memberontak atau menahan kewajiban (seperti tidak patuh). Namun, Rasulullah ﷺ justru memerintahkan: "Tunaikanlah kewajiban kalian."
Kewajiban rakyat terhadap pemimpin dalam pandangan Ahli Sunnah meliputi:
• Patuh dan taat dalam perkara yang bukan maksiat.
• Menjaga persatuan dan tidak melakukan pemberontakan (khuruj) yang akan mengakibatkan pertumpahan darah yang lebih besar.
• Mendoakan kebaikan dan hidayah bagi mereka.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: "Hadits ini mengandung motivasi untuk patuh dan taat meskipun pemimpin tersebut zalim dan menyusahkan. Maka berikanlah hak mereka berupa ketaatan, dan janganlah keluar dari ketaatan kepada mereka." (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Jilid 12, Halaman 232).
Rasulullah ﷺ tidak membiarkan rakyat menderita tanpa solusi. Namun, solusinya bukan dengan anarkisme, melainkan dengan kembali kepada Allah ﷻ. Kalimat "Mintalah kepada Allah yang menjadi hak kalian" bermakna:
1. Mengadukan kezaliman kepada Dzat yang Maha Adil.
2. Memohon agar Allah ﷻ menggerakkan hati pemimpin agar berbuat adil, atau Allah ﷻ menggantinya dengan yang lebih baik dengan cara-Nya yang bijaksana.
3. Menyadari bahwa kezaliman pemimpin seringkali merupakan cerminan dari kemaksiatan rakyatnya, sehingga solusinya adalah taubat.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: "Jika mereka tidak memberikan hak kalian, janganlah kalian menuntutnya dengan cara memerangi mereka atau memberontak. Akan tetapi, mintalah kepada Allah hak kalian, karena hati para pemimpin itu berada dalam genggaman Allah ﷻ."(Syarh Riyadhus Shalihin, Jilid 2, Halaman 451).
Hadits ini adalah pondasi stabilitas keamanan dalam Islam. Ahli Sunnah wal Jamaah memandang bahwa bersabar atas kezaliman pemimpin demi menjaga keutuhan umat jauh lebih utama daripada menuntut hak dengan cara yang menimbulkan fitnah (kekacauan) yang lebih besar. Kita tunaikan kewajiban kita sebagai hamba Allah ﷻ, dan kita gantungkan harapan kita hanya kepada-Nya untuk mendapatkan keadilan yang sejati.
1. Ketaatan adalah Ibadah: Kita menaati pemimpin karena Allah ﷻ yang memerintahkannya, bukan semata-mata karena kita menyukai figur pemimpin tersebut.
2. Sabar adalah Kunci: Sabar terhadap pemimpin yang zalim jauh lebih baik daripada melakukan revolusi atau pemberontakan yang mengakibatkan pertumpahan darah dan hilangnya keamanan.
3. Wala' (Loyalitas) yang Proporsional: Selama pemimpin tersebut masih muslim dan menegakkan shalat, maka ia memiliki hak untuk dipatuhi dan ditaati dalam perkara yang ma'ruf.
4. Berdoa kepada Allah ﷻ: Seorang muslim yang dizalimi penguasa hendaknya kembali kepada Allah ﷻ, memohon hidayah bagi pemimpinnya, serta meminta haknya melalui doa, bukan dengan cara anarkis.