Aqidah dan Manhaj Hadits Muslimah 31 Oct 2026
Di dalam khazanah keilmuan Islam, istilah "Sunnah" menempati kedudukan yang teramat agung. Ia adalah denyut nadi agama, lentera penerang jalan, dan manifestasi nyata dari wahyu yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Allah ﷻ secara tegas memerintahkan setiap hamba yang mendambakan keselamatan untuk senantiasa tunduk dan patuh pada apa yang beliau bawa.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7).
Namun, dalam perbincangan umat sehari-hari, istilah "Sunnah" kerap kali mengalami penyempitan makna (reduksionisme).
Sebagian kaum muslimin memahami sunnah sebatas kategori hukum fiqih: "perkara yang apabila dikerjakan berpahala, dan apabila ditinggalkan tidak berdosa". Akibatnya, lahir sikap meremehkan ajaran Nabi ﷺ dengan ungkapan: "Ah, ini kan hanya sunnah, tidak apa-apa jika ditinggalkan."
Penyempitan semacam ini terjadi lantaran ketidaktahuan bahwa istilah "Sunnah" memiliki beragam dimensi arti yang sangat luas, bergantung pada sudut pandang disiplin ilmu syariat yang mengkajinya.
Secara etimologi dalam bahasa Arab murni, kata Sunnah (السُّنَّةُ) berakar dari kata sanna – yasunnu – sunnatan, yang bermakna:
الطَّرِيقَةُ وَالسِّيرَةُ، حَسَنَةً كَانَتْ أَوْ قَبِيحَةً
“Jalan, jalan hidup, metode, atau kebiasaan yang ditempuh; baik kebiasaan itu berupa hal yang terpuji maupun hal yang tercela.”
Makna bahasa ini mencakup tradisi atau jalan apa pun yang diikuti oleh orang lain setelahnya. Hal ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh sahabat Jarir bin Abdillah radhiallahu 'anhu:
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
"Barang siapa yang memulai (mencontohkan) di dalam Islam suatu jalan/kebiasaan yang baik (sunnatan hasanah), maka baginya pahala perbuatan itu dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai di dalam Islam suatu kebiasaan yang buruk (sunnatan sayyi’ah), maka baginya dosa perbuatan tersebut dan dosa orang-orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitāb az-Zakāh, Bāb al-Hatstsi ‘alā ash-Shadaqah wa Law bi Syiqqi Tamrah, Jilid 2, Halaman 704, No. 1017).
Para ulama merumuskan batasan terminologi sunnah berdasarkan fokus kajian dan tujuan ilmiah masing-masing:
a. Menurut Ahli Hadits (Al-Muhadditsūn)
Bagi para ahli hadits, fokus perhatian mereka adalah pribadi Baginda Nabi ﷺ sebagai figur panutan (uswah hasanah). Karena itu, cakupan sunnah menurut mereka adalah yang paling luas dan komprehensif, yakni:
“Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi ﷺ, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), persetujuan (taqrīr), sifat fisik (khalqiyyah), maupun akhlak (khuluqiyyah), baik hal tersebut terjadi sebelum beliau diangkat menjadi nabi maupun sesudahnya.”
(Dinukil oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tadrīb ar-Rāwī fī Syarh Taqrīb an-Nawāwī, Jilid 1, Halaman 42).
b. Menurut Ahli Ushul Fiqh (Al-Ushūliyyūn)
Para pakar ushul fiqh memandang Rasulullah ﷺ sebagai pembuat hukum (musyarri’) yang menjelaskan wahyu. Fokus mereka adalah mencari dalil dan sumber hukum syariat. Oleh sebab itu, mereka mendefinisikan sunnah sebagai:
“Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi ﷺ selain Al-Qur'an—berupa perkataan, perbuatan, maupun persetujuan beliau—yang bernilai dan layak dijadikan sebagai dalil bagi penetapan hukum syariat.”
(Dinukil oleh Imam Saifuddin al-Amidi dalam Al-Ihkām fī Ushūl al-Ahkām, Jilid 1, Halaman 169).
Pakar ushul fiqh tidak memasukkan sifat fisik Nabi ﷺ (seperti rupa wajah atau cara melangkah) ke dalam cakupan dalil hukum, kecuali jika diiringi dengan perintah atau larangan.
c. Menurut Ahli Fiqih (Al-Fuqahā’)
Para fuqaha berfokus pada status hukum perbuatan manusia (al-ahkām at-taklīfiyyah)—apakah bernilai wajib, haram, sunnah, makruh, atau mubah. Dalam kacamata fiqih, sunnah didefinisikan sebagai:
“Perkara yang dituntut oleh syariat untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tidak mengikat (tidak tegas); di mana pelakunya akan diberi pahala jika melaksanakannya, namun tidak dijatuhi hukuman (tidak berdosa) jika meninggalkannya.”
(Dinukil oleh Syaikh Syamsuddin al-Khatib asy-Syirbini dalam Mughnī al-Muhtāj ilā Ma‘rifati Ma‘ānī Alfāzh al-Minhāj, Jilid 1, Halaman 105).
Di kalangan fuqaha, istilah sunnah dalam tingkatan ini berpadanan kata dengan mandūb, mustahab, atau tathawwu’.
d. Menurut Ahli Aqidah dan Generasi Salaf (Al-‘Aqīdah wa Ushūluddīn)
Bagi para ulama salaf dan ahli aqidah, istilah Sunnah digunakan sebagai antitesis (lawan kata) mutlak dari Bid'ah. Sunnah bermakna: kemurnian ajaran tauhid, aqidah yang lurus, serta tata cara beragama yang dipraktikkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya tanpa penambahan atau pengurangan.
Peringatan terhadap pemaknaan ini ditegaskan dalam hadits sahabat al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu 'anhu, ketika Nabi ﷺ bersabda:
عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «... فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"... Maka wajib atas kalian berpegang teguh pada Sunnah-ku dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Pegang erat-erat Sunnah itu dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian! Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan.”
(Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abī Dāwud, Kitāb as-Sunnah, Bāb fī Luzūm as-Sunnah, Jilid 4, Halaman 200, No. 4607. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab Shahīh al-Jāmi’ ash-Shaghīr wa Ziyādatuhu, Jilid 1, Halaman 498, No. 2549).
Karena itulah para ulama salaf seperti Imam Ahmad bin Hanbal menamai kitab aqidah mereka dengan nama Kitāb as-Sunnah, yang artinya kitab penjelas akidah Islam yang murni.
Dilihat dari bentuk periwayatannya dari Baginda Rasulullah ﷺ, Sunnah terbagi ke dalam empat kategori:
a. Sunnah Qauliyyah (Perkataan / Sabda)
Seluruh sabda yang diucapkan oleh Nabi ﷺ dalam berbagai kesempatan yang memuat hukum, bimbingan, atau akidah.
Contoh: Hadits Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhu:
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى...
"Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan...”
(Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahīh al-Bukhārī, Kitāb Bad’i al-Wahy, Jilid 1, Halaman 6, No. 1; dan Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitāb al-Imārah, Bāb Qawluhu: Innamā al-A’mālu bin-Niyyah, Jilid 3, Halaman 1515, No. 1907).
b. Sunnah Fi’liyyah (Perbuatan Nyata)
Tindakan dan amalan nyata yang dikerjakan oleh Nabi ﷺ untuk dicontoh oleh umatnya, seperti tata cara shalat, ibadah haji, wudhu, dan muamalah.
Contoh: Hadits Malik bin al-Huwairits radhiallahu 'anhu, di mana Nabi ﷺ bersabda:
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «... وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي...
"... Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat...”
(Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahīh al-Bukhārī, Kitāb al-Adzān, Bāb al-Adzān lil-Musāfir, Jilid 1, Halaman 128, No. 631).
c. Sunnah Taqririyyah (Persetujuan / Diamnya Nabi)
Perkataan atau perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat di hadapan Nabi ﷺ atau sampai laporannya kepada beliau, lalu beliau mendiamkannya dan tidak melarangnya. Sikap diam beliau menjadi dalil kebolehan (ibāhah), karena seorang nabi ma'shum mustahil mendiamkan kemungkaran.
Contoh: Hadits sahabat Khalid bin al-Walid radhiallahu 'anhu ketika beliau memakan daging dhabb (hewan melata sejenis kadal gurun) di hadapan hidangan Nabi ﷺ:
عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لَا، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي، فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ»، قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيَّ.
"Dari Khalid bin al-Walid radhiallahu 'anhu, bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah dhabb ini haram wahai Rasulullah?’ Beliau ﷺ menjawab: ‘Tidak, akan tetapi hewan ini tidak ada di negeri kaumku, sehingga aku merasa kurang berselera untuk memakannya.’ Khalid berkata: ‘Maka aku pun memotongnya dan memakannya, sedangkan Rasulullah ﷺ memandangi aku (dan tidak melarangnya).’”
(Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahīh al-Bukhārī, Kitāb az-Dzabā’ih wash-Shaid, Beirut: Dār Thawq an-Najāh, cet. I, 1422 H, Jilid 7, Halaman 99, No. 5537; dan Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitāb ash-Shaid wadz-Dzabā’ih, Jilid 3, Halaman 1543, No. 1946).
d. Sunnah Washfiyyah (Sifat Fisik dan Akhlak)
Pengabaran para sahabat mengenai postur tubuh, keindahan rupa, gaya berjalan, serta keagungan akhlak pekerti Baginda Rasulullah ﷺ.
Contoh: Penuturan sahabat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
"Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mulia akhlak budi pekertinya.”
(Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahīh al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, Bāb Husni al-Khuluq, Jilid 8, Halaman 15, No. 6203; dan Imam Muslim dalam Shahīh Muslim, Kitāb al-Fadhā’il, Bāb fī Husni Khuluqihī Shollallāhu ‘Alaihi wa Sallam, Jilid 4, Halaman 1805, No. 2310).
Para ulama ushul fiqh membagi perbuatan Nabi ﷺ menjadi dua ranah besar agar umat tidak keliru dalam meneladaninya:
1. Sunnah Tasyri’iyyah (Sunnah yang Mengandung Syariat):
Segala perbuatan dan petunjuk Nabi ﷺ yang bersumber dari wahyu yang bertujuan menetapkan hukum agama bagi umatnya, baik bersifat wajib maupun anjuran (mandub). Mengikuti sunnah jenis ini adalah bentuk ibadah mutlak.
2. Sunnah Jibilliyyah / ‘Ādiyyah (Perilaku Berdasarkan Kodrat Manusiawi):
Perilaku murni Nabi ﷺ sebagai manusia biasa dan bagian dari bangsa Arab pada abad ke-7 Masehi, seperti cara berpakaian jubah khas masyarakat Arab, kegemaran beliau mengonsumsi labu air, cara menyisir rambut, atau pilihan menunggang unta.
Imam Abu Ishaq asy-Syathibi rahimahullah menerangkan:
“Adapun perbuatan-perbuatan murni manusiawi (al-af‘āl al-jibilliyyah)—seperti cara duduk, berdiri, makan, minum, dan tidur—yang tidak disertai perintah syariat, maka asal hukumnya adalah perkara mubah. Seseorang yang mengikutinya karena dorongan rasa cinta (mahabbah) kepada Nabi ﷺ akan diganjar pahala atas dasar niat cintanya tersebut, namun perkara itu sendiri bukanlah syariat yang diwajibkan atas umat.”
(Dinukil dari kitab Al-I’tishām, tahqiq Salim bin ‘Ied al-Hilali, Jilid 2, Halaman 591).
Sunnah adalah wahyu kedua setelah Al-Qur'an. Dalam relasinya dengan Al-Qur'an, Sunnah menjalankan tiga peran fundamental:
• Mu’akkidah (Penguat Hukum Al-Qur'an):
Menegaskan kembali kewajiban atau keharaman yang telah tercantum di dalam Al-Qur'an, seperti kewajiban berbakti kepada orang tua dan keharaman bersaksi palsu.
• Mubayyinah (Penjelas dan Perinci):
Merinci apa yang disebutkan secara global (mujmal) dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an mewajibkan shalat dan haji, namun rincian jumlah rakaat, gerakan shalat, dan rukun tawaf sepenuhnya dijelaskan oleh Sunnah. Allah ﷻ berfirman:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44).
• Musyarri’ah / Mustaqillah (Penetap Hukum Baru):
Menetapkan hukum syariat yang belum disebutkan secara tersurat di dalam Al-Qur'an, seperti haramnya memakan binatang buas yang bertaring, atau haramnya memakai cincin emas dan kain sutra bagi kaum lelaki.
Kemandirian Sunnah dalam menetapkan hukum ini disabdakan oleh Baginda Rasulullah ﷺ melalui penuturan sahabat al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu 'anhu:
عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ: عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ، فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ، وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ...
"Ingatlah, sesungguhnya aku dianugerahi Al-Kitab (Al-Qur'an) dan perkara yang semisal dengannya bersamanya (yakni As-Sunnah). Ketahuilah, hampir tiba masanya seorang lelaki yang kenyang duduk bersandar di atas dipan mewahnya seraya berkata: ‘Cukuplah bagi kalian berpegang pada Al-Qur'an ini saja! Apa yang kalian dapati halal di dalamnya maka halalkanlah, dan apa yang kalian dapati haram di dalamnya maka haramkanlah!’...”
(Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abī Dāwud, Kitāb as-Sunnah, Bāb fī Luzūm as-Sunnah, Jilid 4, Halaman 200, No. 4604. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab Shahīh al-Jāmi’ ash-Shaghīr wa Ziyādatuhu, Jilid 1, Halaman 518, No. 2643).
Kembali kepada istilah sunnah dalam makna fiqih (ibadah anjuran), seorang mukmin sejati tidak sepatutnya meremehkan amalan sunnah dengan dalih "tidak berdosa bila ditinggalkan".
Sesungguhnya amalan-amalan sunnah disyariatkan untuk menambal kekurangan pada amalan wajib yang kita kerjakan. Pada hari kiamat kelak, hisab shalat fardhu kita akan disempurnakan melalui shalat-shalat sunnah yang pernah kita rawat. Sahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu meriwayatkan sabda Nabi ﷺ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ
"Sesungguhnya amalan hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka sungguh ia telah beruntung dan selamat. Dan jika shalatnya rusak, maka sungguh ia telah celaka dan merugi. Apabila shalat fardhunya ada yang kurang, Rabb ‘Azza wa Jalla berfirman (kepada para malaikat-Nya): ‘Periksalah, apakah hamba-Ku ini memiliki amalan shalat tathawwu’ (sunnah), sehingga kekurangan pada shalat fardhunya dapat disempurnakan dengannya?’ Kemudian seluruh hisab amalannya diperlakukan demikian.”
(Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abī Dāwud, Kitāb ash-Shalāh, Bāb Qawl an-Nabiyy Shollallāhu ‘Alaihi wa Sallam: Kullu Shalātin Lā Yutimmuhā..., Jilid 1, Halaman 228, No. 864; dan Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzī, Kitāb ash-Shalāh, No. 413. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab Shahīh Sunan Abī Dāwud, Jilid 1, Halaman 238, No. 864).
Istilah "Sunnah" adalah payung besar peradaban Islam. Ia adalah:
• Seluruh jalan hidup dan figur Nabi Muhammad ﷺ di mata ahli hadits.
• Sumber hukum kedua yang mengikat di mata pakar ushul fiqh.
• Kemurnian aqidah dan manhaj yang menjadi pembeda dari bid'ah di mata ahli aqidah.
• Amalan penyempurna pahala di mata ahli fiqih.
Dengan memahami keluasan makna Sunnah ini, seorang muslim akan memandang ajaran Nabi ﷺ dengan penuh ketundukan dan kerinduan: berpegang teguh pada tuntunannya dalam berakidah, menjadikannya rujukan dalam berhukum, serta menghidupkan amalan-amalannya dalam keseharian dengan penuh rasa cinta kepada Baginda Rasulullah ﷺ.