بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PANDUAN RUQYAH MANDIRI BERDASARKAN SUNNAH DAN MANHAJ AHLUS SUNNAH

Aqidah dan Manhaj Fiqih Tafsir Hadits Muslimah   20 Oct 2026

I. Landasan Syar'i dan Keutamaan Ruqyah Mandiri

Ruqyah mandiri (meruqyah diri sendiri) memiliki kedudukan yang lebih utama (afkhal) daripada meminta diruqyah oleh orang lain. Hal ini karena ruqyah mandiri melatih kesempurnaan tawakal, ketergantungan mutlak hanya kepada Allah ﷻ, serta menjauhkan diri dari ketergantungan batin kepada makhluk.

Rasulullah ﷺ memuji sifat hamba-hamba pilihan yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab dalam sabdanya:

Rasulullah ﷺ bersabda:

هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَلَا يَكْتَوُونَ، وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah [kepada orang lain], tidak melakukan tathayyur [meramal nasib sial], tidak berobat dengan besi panas [kay], dan hanya kepada Rabb mereka sajalah mereka bertawakal."

(Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari رحمه الله dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq, Hadits No. 6472, Jilid 8, Halaman 103; serta Al-Imam Muslim رحمه الله dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Hadits No. 220, Jilid 1, Halaman 199, dari sahabat 'Abdullah bin 'Abbas radhiallahu 'anhu).

 

II. Hakikat An-Nafts (النَّفْثُ) dalam Sunnah Nabawiyyah

Secara terminologi syariat, An-Nafts adalah:

نَفْخٌ لَطِيفٌ مَعَهُ رِيقٌ يَسِيرٌ، وَهُوَ أَقَلُّ مِنَ التَّفْلِ

"(Hembusan tiupan udara yang lembut dari mulut yang disertai dengan sedikit sekali percikan embun air ludah halus; derajatnya lebih ringan daripada meludah).

 

Al-Imam An-Nawawi رحمه الله menegaskan konsensus ulama:
"An-Nafts adalah tiupan lembut yang disertai sedikit embun air liur. Para ulama telah bersepakat (ijma') atas disunnahkannya an-nafts dalam melakukan ruqyah."
(Syarh Shahīh Muslim, karya Al-Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi رحمه الله, Jilid 14, Halaman 182).
Dalil praktik ini termaktub dalam penuturan Ummul Mukminin 'Aisyah radhiallahu 'anha:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنها «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا اشْتَكَى نَفَثَ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، وَمَسَحَ عَنْهُ بِيَدِه. فَلَمَّا اشْتَكَى وَجَعَهُ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ الَّتِي كَانَ يَنْفُثُ، وَأَمْسَحُ بِيَدِ النَّبِيِّ ﷺ عَنْهُ

"Dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiallahu 'anha: "Bahwa Nabi ﷺ apabila tertimpa sakit, beliau meniupkan nafts ke atas dirinya dengan membaca Al-Mu'awwidzat [Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas], lalu mengusap badannya dengan tangannya. Maka tatkala beliau menderita sakit yang membawa wafatnya, akulah yang meniupkan nafts ke atas dirinya dengan surah-surah yang biasa beliau baca, dan aku mengusapkan tangan Nabi ﷺ sendiri ke tubuhnya [karena mengharapkan berkah tangannya]."

(Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari رحمه الله dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Fadhā'il Al-Qur'ān, Hadits No. 5016, Jilid 6, Halaman 191; serta Al-Imam Muslim رحمه الله dalam Shahih Muslim, Kitab As-Salām, Hadits No. 2192, Jilid 4, Halaman 1723).

 

III. Landasan Syar'i Membaca Ruqyah pada Air (Ditiup, Diminum, dan Dibasuhkan)

Membacakan ayat-ayat Al-Qur'an pada bejana air, meniupkannya dengan an-nafts, lalu meminumkan sebagian air tersebut dan membasuhkan sisanya ke tubuh seketika merupakan metode pengobatan nabawi.


1. Dalil Hadits Nabawi:


Dari sahabat 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu ketika Rasulullah ﷺ disengat kalajengking saat beliau sedang shalat;

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَدَغَتِ النَّبِيَّ ﷺ عَقْرَبٌ وَهُوَ يُصَلِّي، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ:
«لَعَنَ اللَّهُ الْعَقْرَبَ؛ لَا تَدَعُ مُصَلِّيًا وَلَا غَيْرَهُ»، ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ وَمِلْحٍ،
{وَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَقْرَأُ بِـ: {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ}، وَ{قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ}، وَ{قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ}

"Dari sahabat 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu, ia berkata: "Seekor kalajengking menyengat Nabi ﷺ saat beliau sedang shalat. Setelah selesai shalat, beliau bersabda: 'Semoga Allah ﷻ melaknat kalajengking; ia tidak membiarkan orang yang shalat maupun selainnya.' Kemudian beliau meminta diambilkan air dan garam, lalu beliau mengusapkannya pada luka sengatan tersebut seraya membacakan: Surah Al-Kafirun, Al-Falaq, dan An-Nas."

(Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Syaibah رحمه الله dalam Al-Mushannaf, Kitab ath-Thibb, Hadits No. 24003, Jilid 5, Halaman 44; serta Al-Imam Ath-Thabarani رحمه الله dalam Al-Mu'jam ash-Shaghīr, Hadits No. 835, Jilid 2, Halaman 147. Dinyatakan Shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحمه الله dalam kitabnya Silsilat al-Ahādīts ash-Shahīhah, Jilid 2, Hadits No. 548, Halaman 77–80).

 

2. Atsar Shahabat dan Tabi'in:

 

Ummul Mukminin 'Aisyah radhiallahu 'anha;

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا كَانَتْ لَا تَرَى بَأْسًا أَنْ يُقْرَأَ فِي الْمَاءِ، ثُمَّ يُصَبَّ عَلَى الْمَرِيضِ أَوْ يُسْقَاهُ

"Bahwa Ummul Mukminin 'Aisyah radhiallahu 'anha memandang tidak mengapa (membolehkan) membaca Al-Qur'an pada air, lalu air tersebut disiramkan ke tubuh orang yang sakit atau diminumkan kepadanya.

(Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Syaibah رحمه الله dalam Al-Mushannaf, Hadits No. 24016, Jilid 5, Halaman 46, dengan sanad yang shahih).


Sahabat 'Abdullah bin 'Abbas radhiallahu 'anhu:
Beliau memerintahkan agar ayat-ayat Al-Qur'an dituliskan atau dibacakan pada wadah air, lalu air tersebut diminumkan dan dibasuhkan ke perut wanita yang kesulitan melahirkan.
(Zād al-Ma'ād fī Hadyi Khairil 'Ibād, karya Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله,  Jilid 4, Halaman 327).

 

3. Fatwa Para Imam Salaf Ahlus Sunnah:

 

Al-Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله:
Putra beliau, 'Abdullah bin Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata:
"Aku melihat ayahku (Imam Ahmad) meruqyah ke dalam bejana air; beliau membacakan ayat Al-Qur'an dan meniup padanya, kemudian meminumkannya kepada orang yang sakit dan menyiramkan sebagiannya ke tubuhnya."
(Al-Ādāb asy-Syar'iyyah, karya Ibnu Muflih al-Maqdisi رحمه الله,  Jilid 2, Halaman 441).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله:
"Boleh membacakan ayat-ayat Kitabullah dan zikir ke air, lalu meniupkan nafts ke dalamnya, kemudian meminumkannya kepada orang yang sakit dan membasuhkannya ke tubuhnya, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad dan para ulama lainnya."
(Majmū' al-Fatāwā, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله, Jilid 19, Halaman 64).

 

IV. Diantara Tata Cara Praktik Teknis Ruqyah Mandiri

 

Untuk melaksanakan ruqyah mandiri, diantaranya dengan membaca ayat-ayat yang akan kita dibahas pada ulasan berikut, yaitu; (QS. Al-Anbiya': 83, QS. Al-Anbiya': 87, QS. Asy-Syarh: 5–6, QS. Thaha: 25–28, dan QS. Al-Isra': 80), ikutilah tahapan teknis yang selaras dengan sunnah berikut:

LANGKAH 1: PERSIAPAN
Berwudhu, menghadap kiblat, dan menata tauhid bahwa kesembuhan mutlak milik Allah ﷻ. Sediakan satu bejana/gelas air bersih (diutamakan air zamzam atau air mineral biasa).

LANGKAH 2: TILAWAH DAN AN-NAFTS

Dekatkan bibir ke permukaan air dan kedua telapak tangan. Bacalah ayat-ayat ruqyah dengan tartil dan tadabbur penuh. Tiupkan nafts (hembusan lembut berembun liur halus) ke air dan telapak tangan di sela/akhir bacaan.

LANGKAH 3: DISTRIBUSI PENGOBATAN AIR & USAPAN
DIMINUM SEBAGIAN dan DIUSAPKAN/ DIBASUHKAN SEBAGIAN
• Membaca "Bismillah"
• Usapkan kedua telapak tangan ke kepala, wajah, dada.
• Minum 3 tegukan dengan niat membersihkan
• Basuhkan sisa air ruqyah ke tengkuk, punggung, penyakit batin, racun, was-was, dan organ dalam. serta bagian tubuh yang terasa nyeri/sakit.

 

Contoh Urutan Bacaan Ayat-Ayat Ruqyah:

 

1. Membuka dengan Ummul Kitab:
Membaca Surah Al-Fatihah (sebagai Asy-Syifā' dan Ar-Ruqyah induk).

2. Doa Kesembuhan Fisik Nabi Ayyub ‘Alaihissalam (QS. Al-Anbiya': 83):

{أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ},

(Diniatkan untuk mencabut rasa nyeri, penyakit fisik, kuman/racun, dan kelumpuhan daya).

3. Doa Pelepasan Kesempitan Jiwa Dzun Nun (QS. Al-Anbiya': 87):

{لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ},

(Diniatkan memurnikan tauhid, melebur dosa penghalang kesembuhan, dan mengusir depresi/kegelisahan).

4. Ayat Optimisme dan Penyingkap Kesulitan (QS. Asy-Syarh: 5–6):

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6),

(Diniatkan mengundang kemudahan Ilahi dan meruntuhkan kekakuan urat syaraf yang tegang).


5. Doa Kelapangan Dada dan Kemudahan Urusan Nabi Musa ‘Alaihissalam (QS. Thaha: 25–28):

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (25) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (26) وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي (27) يَفْقَهُوا قَوْلِي (28)

(Diniatkan menghilangkan sesak di dada, melepaskan ikatan sihir/simpul penyakit, dan menenangkan jiwa).

6. Doa Ketulusan Langkah dan Pertolongan Kekuasaan (QS. Al-Isra': 80):

رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

(Diniatkan memohon benteng perlindungan gaib dari Allah ﷻ dan pertolongan mutlak atas musuh).


7. Menutup dengan Al-Mu'awwidzat:
Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

 

V. Integrasi Khasiat Meminum dan Mengusapkan Air Ruqyah

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله menerangkan rahasia sinergi pengobatan ganda ini:


1. Khasiat Meminum (Asy-Syurb):


Air yang telah dibacakan kalamullah dan ditiup dengan an-nafts membawa getaran keberkahan wahyu ke dalam aliran darah, membersihkan organ pencernaan dari pengaruh sihir yang tertelan (as-sihr al-ma'kul/al-masyrub), meredakan gejolak panas empedu, serta menenangkan degup jantung yang berdebar akibat waswas setan.

2. Khasiat Membasuhkan/Mengusap (Al-Mas-hu wal Ghusl):


Membasuh bagian luar tubuh memadamkan sengatan 'ain (pandangan dengki), melunturkan pengaruh sentuhan jin (al-mass), dan menyegarkan saraf-saraf motorik kulit dengan hawa dingin yang penuh berkah.
(Zād al-Ma'ād fī Hadyi Khairil 'Ibād, karya Al-Imam Ibnul Qayyim رحمه الله, Jilid 4, Halaman 170–178).
 

Lakukanlah terapi ruqyah mandiri ini dengan penuh keikhlasan, istiqomah pada waktu-waktu mustajab (seperti sepertiga malam terakhir atau selepas shalat fardhu), dan sandarkanlah keyakinan secara bulat bahwa Al-Qur'an adalah asy-syifā' (penawar hakiki), sedangkan kesembuhan sejati hanyalah datang dari Allah ﷻ, Dzat Yang Maha Menyembuhkan.

 

 

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra ← Kembali ke Artikel

Artikel Lainnya