بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kembali ke Khitthah: Menjaga Ruh Dakwah di Tengah Megahnya Syiar

Aqidah dan Manhaj Sejarah   04 Oct 2026

Kembali ke Khitthah: Menjaga Ruh Dakwah di Tengah Megahnya Syiar

 

Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah membukakan pintu-pintu kemudahan bagi dakwah Sunnah di negeri ini. Kita menyaksikan sebuah fenomena yang menggembirakan: gedung-gedung sekolah Islam berdiri megah, ribuan santri menghafal ayat-ayat-Nya, dan konten dakwah melalui media digital menjangkau jutaan pasang mata dengan kualitas visual yang mumpuni.

Namun, di tengah gemerlapnya angka-angka statistik dan keberhasilan fisik ini, terselip sebuah tanya besar yang menuntut kejujuran nurani para penggeraknya: "Masihkah Tauhid dan Manhaj menjadi denyut nadi utama perjuangan kita, ataukah ia mulai terpinggirkan oleh syahwat profesionalisme dan ambisi membesarkan lembaga?"

 

1. Hakikat Dakwah: Mengajak kepada Allah ﷻ, Bukan kepada Institusi

 

Dalam pandangan Ahli Sunnah wal Jamaah, dakwah bukanlah sekadar aktivitas sosial, gerakan organisasi, atau upaya memperbanyak massa. Hakikat dakwah adalah Dakwah ilallah—seruan untuk mengembalikan manusia kepada penciptanya.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri'.”

(QS. Fussilat : 33)

 

Para ulama menekankan kata "إِلَى اللَّهِ" (Kepada Allah). Ini adalah barometer keikhlasan sebuah lembaga. Jika sebuah institusi dakwah mulai lebih sibuk menonjolkan simbol organisasi, mengejar prestise sekolah, atau popularitas ustadz dari pada Tujuan Dakwah  itu sendiri, maka dakwah tersebut telah bergeser hakikatnya. Kedudukan dakwah adalah warisan para Nabi, dan seorang pewaris (Waratsatul Anbiya) memikul tanggung jawab untuk menyampaikan bagian paling berharga dari warisan tersebut, yaitu Aqidah yang lurus.

 

2. Skala Prioritas: Meneladani Dakwah Para Rasul

 

Ahli Sunnah wal Jamaah memiliki metodologi yang baku dalam skala prioritas (Al-Aulawiyyat). Keberhasilan dakwah tidak diukur dari megahnya infrastruktur, melainkan dari tegaknya pilar Tauhid di hati umat. Inilah khitthah (jalur) para Nabi.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut'.”(QS. An-Nahl : 36)


Ketika Rasulullah ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal radhiallahu 'anhu ke Yaman, perintah pertama beliau bukanlah membangun sarana pendidikan, melainkan membenahi pondasi. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

«فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ»

"Hendaklah perkara yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaha illallah.”

(Hadits Riwayat al-Bukhari No. 1458 dan Muslim No. 19).

Apabila sarana pendidikan dan media berkembang pesat namun materi Tauhid dan Manhaj hanya menjadi "tempelan" demi menjaga pasar atau kenyamanan publik, maka sesungguhnya kita sedang membangun sebuah istana di atas pasir; megah terlihat namun rapuh di atas pondasi yang lemah.

 

3. At-Tashfiyah dan At-Tarbiyah: Dua Pilar yang Tak Boleh Runtuh

 

Dakwah Sunnah tegak di atas dua pilar utama sebagaimana dijelaskan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:


1. Tashfiyah (Pemurnian): Membersihkan Islam dari noda syirik, bid’ah, dan manhaj yang menyimpang.


2. Tarbiyah (Pendidikan): Mendidik umat di atas ajaran yang telah dimurnikan tersebut.
Jika lembaga dakwah mulai enggan menyentuh masalah Manhaj karena alasan "menjaga perasaan publik" atau demi "kelancaran bisnis pendidikan", maka identitas Salafiyah akan luntur. Kita mungkin akan menghasilkan generasi yang "tahu agama" secara kulit luar, namun mereka gagap membedakan antara Sunnah dan Bid'ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengingatkan: "Jika pondasi (Tauhid) ini goyah, maka seluruh amal lainnya tidak akan bermanfaat." (Lihat:Majmu’ al-Fatawa, Jilid 1, Halaman 24).

 

4. Melawan Tipu Daya Kuantitas

 

Para penggerak dakwah harus waspada terhadap penyakit ghurur (tertipu) oleh kuantitas. Dalam manhaj Ahli Sunnah, keberhasilan dakwah tidak ditentukan oleh jumlah followers atau banyaknya ruang kelas, melainkan oleh kesesuaiannya dengan petunjuk Nabi ﷺ. Beliau ﷺ mengabarkan tentang hari kiamat:

Rasulullah ﷺ bersabda:

«وَيَأْتِي النَّبِيُّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ»

"Dan akan datang seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut satu pun.” (HR. Bukhari No. 5705 dan Muslim No. 220).


Jika seorang Nabi saja dianggap berhasil meski tanpa pengikut, mengapa kita harus mengorbankan ketajaman materi Manhaj hanya agar konten kita disukai banyak orang. Ingatlah, sesungguhnya  Media dan sekolah tersebut hanyalah sarana (wasilah), sedangkan Dakwah Tauhid adalah tujuan (ghayah).


1. Kejujuran dalam Berdakwah: Sampaikan kebenaran Manhaj dengan hikmah, namun jangan menyembunyikannya. Keberhasilan sekolah yang penuh santri namun kosong dari kekuatan Manhaj adalah sebuah kerugian yang nyata.


2. Pelatihan SDM Internal: Segarkan kembali pemahaman Manhaj di kalangan asatidzah dan pengurus. Seringkali kita terlalu sibuk mengurus administrasi hingga lupa menyirami hati dengan ilmu syar'i.


3. Ikhlaskan Niat: Ingatlah, yang akan kita bawa ke hadapan Allah ﷻ bukanlah luasnya tanah yayasan, melainkan berapa banyak jiwa yang kita selamatkan dari kesyirikan dan bid'ah.


Kesimpulan

Megahnya gedung sekolah dan canggihnya media haruslah menjadi pengeras suara bagi dakwah Tauhid, bukan malah menjadi penutup atau penghalangnya. Jangan sampai kita menjadi kaum yang sukses membangun peradaban fisik, namun membiarkan benteng aqidah umat keropos perlahan. Kembalilah kepada akar dakwah para Salaf, karena di sanalah letak keberkahan dan kemuliaan yang sejati.


Semoga Allah ﷻ senantiasa menjaga para penggerak dakwah agar tetap istiqomah di atas khitthah yang lurus hingga ajal menjemput.

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra ← Kembali ke Artikel

Artikel Lainnya