بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al-Imam Muslim: Pelayan Sunnah yang Teliti dan Murid Setia Al-Bukhari

Hadits Sejarah   30 Sep 2026

Al-Imam Muslim: Pelayan Sunnah yang Teliti dan Murid Setia Al-Bukhari

Jika Al-Imam Al-Bukhari dikenal sebagai sang jenius yang menetapkan standar keshahihan, maka Al-Imam Muslim adalah sosok yang menyempurnakan sistem penyajian hadits dengan metode yang sangat sistematis dan mudah dipahami. Kecintaan dan loyalitasnya kepada ilmu hadits menjadikannya salah satu pilar utama Ahli Sunnah wal Jamaah yang menjaga kemurnian ajaran Nabi ﷺ.

 

1. Nasab dan Kelahiran

Nama lengkap beliau adalah Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi. Beliau berasal dari kabilah Qusyair, salah satu suku Arab yang menetap di Naisabur (Nishapur, Iran saat ini). Beliau lahir pada tahun 204 H (sebagian ulama menyebutkan 202 H atau 206 H).


Beliau lahir di tengah keluarga yang mencintai ilmu; ayahnya, Al-Hajjaj, adalah seorang tokoh yang dikenal shalih dan sering menghadiri majelis ilmu. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah memberikan sanjungan:

الحَافِظُ، الحُجَّةُ، الإِمَامُ، صَاحِبُ الصَّحِيْحِ

"Beliau adalah seorang Al-Hafizh, hujah, imam, dan penulis kitab Shahih.”

(Siyar A’lam an-Nubala, Adz-Dzahabi, Jilid 12, Halaman 557).

 

2. Perjalanan Ilmu dan Guru-Gurunya

Imam Muslim memulai pengembaraan ilmunya sejak usia dini. Beliau melakukan rihlah ke berbagai pusat peradaban Islam seperti Hijaz (Makkah-Madinah), Mesir, Syam, dan Irak. Selama perjalanannya, beliau berguru kepada ulama-ulama besar, di antaranya:


• Imam Ahmad bin Hanbal
• Yahya bin Ma’in
• Ishaq bin Rahawayh
• Said bin Manshur
• Al-Imam Al-Bukhari (guru yang paling memberikan pengaruh besar baginya).

 

3. Hubungan Istimewa dengan Imam Al-Bukhari

Imam Muslim adalah murid yang sangat mencintai dan menghormati Al-Bukhari. Beliau mendatangi Al-Bukhari saat Al-Bukhari tiba di Naisabur dan mendampinginya layaknya bayangan.
Kecintaannya terekam dalam sebuah kalimat yang sangat masyhur ketika Imam Muslim berkata kepada Al-Bukhari:

دَعْنِي حَتَّى أُقَبِّلَ رِجْلَيْكَ يَا أُسْتَاذَ الأُسْتَاذِيْنَ، وَسَيِّدَ المُحَدِّثِيْنَ، وَطَبِيْبَ الحَدِيْثِ فِي عِلَلِهِ

"Biarkan aku mencium kedua kakimu, wahai gurunya para guru, pemimpin para ahli hadits, dan dokter hadits dalam mengetahui cacat-cacatnya ('ilal).”

(Lihat: Siyar A’lam an-Nubala, Jilid 12, Halaman 432).

Imam Muslim bahkan membuktikan kesetiaannya saat Al-Bukhari mendapatkan tekanan fitnah di Naisabur. Beliau adalah satu-satunya orang yang tetap mendatangi majelis Al-Bukhari dan memilih meninggalkan guru lainnya demi membela Al-Bukhari.

 

4. Masterpiece: Shahih Muslim

Kitab beliau yang paling monumental adalah Al-Musnad as-Shahih al-Mukhtasar minas Sunan bi Naqlil ‘Adli ‘anil ‘Adli ‘an Rasulillahi ﷺ, atau yang dikenal sebagai Shahih Muslim.
Beliau menyusun kitab ini selama 15 tahun dari 300.000 hadits yang beliau hafal. Keunggulan utama Shahih Muslim dibandingkan Shahih Al-Bukhari terletak pada sistematika penyusunannya. Imam Muslim selalu meletakkan hadits-hadits dengan makna dan sanad yang serupa dalam satu tempat (satu bab), sehingga memudahkan pembaca untuk melihat jalur-jalur hadits tersebut tanpa harus mencarinya di bab yang berbeda-beda.


Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
"Kitab Shahih Muslim adalah sebuah karya yang sangat indah, teliti, dan tidak tertandingi oleh siapa pun dalam hal ketelitian penyajian sanad dan matannya secara utuh dalam satu tempat."
(Tahdzib al-Asma’ wal Lughat, An-Nawawi, Jilid 2, Halaman 89).

 

5. Kesalehan dan Wafatnya

Imam Muslim dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga kehormatan diri, dermawan, dan ahli ibadah. Beliau memiliki mata pencaharian sebagai pedagang kain di Naisabur, yang menunjukkan bahwa beliau tetap mandiri secara ekonomi meski sibuk dengan dakwah.


Beliau wafat pada hari Ahad, 25 Rajab tahun 261 H di Naisabur dalam usia 57 tahun. Kabar wafatnya menyisakan kesedihan mendalam bagi dunia Islam, terutama para ahli hadits yang merasa kehilangan "paku bumi" penjaga Sunnah.

Imam Muslim adalah teladan kesabaran dalam menuntut ilmu dan ketelitian dalam menjaga risalah Nabi ﷺ. Tanpa jasanya, umat Islam mungkin akan kesulitan memahami kedalaman sanad-sanad hadits secara sistematis. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa kecintaan kepada guru dan kejujuran dalam menyampaikan ilmu adalah kunci diterimanya amal di sisi Allah ﷻ dan manusia.

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra ← Kembali ke Artikel

Artikel Lainnya