Aqidah 24 Jun 2026
Kewajiban Mengagungkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, meskipun Sunnah tersebut bersifat mustahab (anjuran), berdasarkan pemahaman para Salafush Shalih.
Seorang mukmin yang صادق (jujur) dalam imannya akan memandang setiap arahan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan pandangan pengagungan (Ta’zim). Hal ini dikarenakan Sunnah adalah wahyu yang diturunkan untuk menjelaskan Al-Qur'an.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an dan Sunnah) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur'an dan Sunnah itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
(Surat An-Najm: 3-4)
Hal ini merujuk pada ancaman serius bagi siapa saja yang berpaling atau meremehkan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Allah ﷻ berfirman:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih.”
(Surat An-Nur: 63)
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjelaskan makna "Fitnah" dalam ayat tersebut. Beliau berkata:
«أَتَدْرِي مَا الْفِتْنَةُ؟ الْفِتْنَةُ الشِّرْكُ، لَعَلَّهُ إِذَا رَدَّ بَعْضَ قَوْلِهِ أَنْ يَقَعَ فِي قَلْبِهِ شَيْءٌ مِنَ الزَّيْغِ فَيَهْلِكَ»
“Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan fitnah? Fitnah adalah kesyirikan. Boleh jadi jika seseorang menolak sebagian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, akan muncul di dalam hatinya sebuah penyimpangan (kesesatan) yang menyebabkan dia binasa.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra, No. 97; Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, No. 166)
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa keselamatan hanya didapat dengan ketaatan mutlak kepada beliau:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka ia masuk surga, dan barangsiapa yang bermaksiat (durhaka) kepadaku maka dialah orang yang enggan.”
(Hadits Riwayat Al-Bukhari, dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-I’tishom bil Kitab was Sunnah, No. 7280)
Dalam kaidah syariat, sebuah amalan mungkin hukumnya mustahab (jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak berdosa). Namun, Sikap Meremehkan atau Memandang Rendah suatu Sunnah karena menganggapnya "hanya sunnah saja" adalah perkara yang sangat berbahaya bagi hati.
Para Salaf sangat berhati-hati dalam hal ini. Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:
«السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ»
“Sunnah adalah bagaikan Kapal Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya maka ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka ia akan tenggelam.”
(Dikutip oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa, Jilid 4, Hal. 57)
Tenggelam yang dimaksud di sini bisa berupa tenggelam dalam syubhat (keraguan), syahwat, atau fitnah penyimpangan hati yang membuat seseorang tidak lagi merasakan kemanisan iman.
Seorang mukmin, ketika mendengar hadits yang shahih, maka respon pertamanya adalah Sami'na wa Atho'na (Kami dengar dan kami taat) serta mengagungkannya dalam hati. Adapun mengabaikan Sunnah dengan perasaan tidak butuh atau menganggapnya remeh adalah ciri-ciri tipisnya iman.
Sufyan bin 'Uyaynah rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah timbangan yang terbesar. Segala sesuatu ditimbang dengan akhlak, jalan hidup, dan petunjuk beliau. Apa yang sesuai dengan hal itu maka itulah kebenaran, dan apa yang menyelisihi hal itu maka itulah kebatilan.”
(Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi, No. 8)
Berdasarkan penjelasan di atas, mengagungkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bukanlah sebuah pilihan (opsi), melainkan konsekuensi dari syahadat. Jika seseorang mulai memandang remeh Sunnah—sekalipun itu hal kecil—maka dia harus waspada terhadap fitnah yang akan menyerang hatinya, yang bisa berupa:
Maka, setiap kali sampai kepada kita sebuah Sunnah yang tsabit (valid) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sambutlah dengan penuh rasa cinta dan pengagungan, serta berusahalah mengamalkannya meskipun hanya sekali seumur hidup agar kita tidak termasuk golongan yang berpaling.
Jangan sekali-kali engkau mendengar suatu Sunnah yang telah tetap (sahih) berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam—meskipun Sunnah tersebut bersifat anjuran (mustahab)—lalu engkau tidak memandangnya dengan pandangan penuh penghormatan, pengagungan, dan kecintaan. Sebab, tidak ada pilihan bagimu dalam perkara ini (yakni wajib mengagungkannya). Jika tidak, maka waspadalah terhadap fitnah yang akan menimpa hatimu.
Allah ﷻ berfirman:
فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
'Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.' (Surat An-Nur: 63)"