بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Larangan Mencela Al-Dahr (Waktu)

Aqidah   24 Jun 2026

Larangan Mencela Al-Dahr (Waktu)

Di antara bentuk kesyirikan dan penyimpangan yang menyelisihi aqidah dalam ucapan adalah mencela al-dahr (الدهر), yakni mencela masa atau waktu, karena hakikatnya yang mengatur dan menjalankan pergiliran waktu adalah Allah ﷻ. Maka mencela al-dahr sama saja dengan mencela Allah, sebab Dia-lah al-Mudabbir (Yang Maha Mengatur) seluruh kejadian yang berlangsung pada waktu.

 

Allah ﷻ berfirman:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain al-dahr (masa/waktu).’”
(QS. Al-Jāṯiyah: 24)

 

Ayat ini menegaskan keyakinan orang musyrikin dahulu yang meyakini bahwa perputaran masa adalah sebab kematian dan kehidupan, bukan karena takdir Allah. Ayat ini turun untuk membantah orang-orang musyrikin Arab jahiliyyah dan sebagian kaum dahriyyūn (penganut filsafat materialis) yang mengingkari adanya kebangkitan setelah kematian. Mereka hanya percaya pada kehidupan dunia, menganggap kematian sebagai akhir segalanya, dan menyandarkan segala peristiwa kepada “al-dahr” (masa/zaman).

 

Imām al-Ṭabarī berkata:

“Allah Ta‘ālā berfirman: orang-orang yang mengingkari kebangkitan itu berkata: ‘Tidak ada kehidupan dan kematian bagi kita kecuali hanya di dunia ini saja, dan yang membinasakan kita hanyalah perjalanan masa dan jalannya waktu atas kita.’”
(al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, 21/103)

 

Menurut al-Ṭabarī, ayat ini menegaskan bahwa mereka menafikan adanya Allah yang menghidupkan dan mematikan, lalu menyandarkan segala sesuatu kepada “perputaran zaman”.

 

Ibn Kathīr menjelaskan:

“Allah Ta‘ālā mengabarkan tentang kaum dahriyyah dari kalangan orang-orang kafir musyrik dan siapa saja yang mengikuti jalan mereka dalam mengingkari hari kebangkitan. Mereka berkata: ‘Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan dunia ini,’ yakni tidak ada negeri lain selain dunia ini. … Dan ucapan mereka: ‘Dan tidak ada yang membinasakan kami selain al-dahr,’ maksudnya: yang menyebabkan kematian hanyalah malam dan siang (perputaran masa).”
(Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, 7/260)

 

Ibn Kathīr menekankan bahwa keyakinan ini adalah bentuk kekafiran, karena mengingkari adanya kebangkitan dan menafikan perbuatan Allah dalam menghidupkan dan mematikan.

 

Al-Qurṭubī رحمه الله berkata:

“Inilah perkataan kaum dahriyyah, para pengikut keyakinan zaman, dan ini adalah madzhab sekelompok zindiq. Mereka berkata: ‘Yang membinasakan kita hanyalah malam dan siang (perputaran waktu).’”
(al-Qurṭubī, al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’ān, 16/329)

 

Menurut al-Qurṭubī, keyakinan seperti ini bukan sekadar kesalahan, tetapi merupakan kekufuran karena mengingkari rubūbiyyah Allah.

 

Syaikh ‘Abd al-Raḥmān as-Sa‘dī berkata:

“Ini adalah berita tentang kaum dahriyyah yang mengingkari kebangkitan. Mereka menjadikan tujuan dan perhatian mereka hanya dunia. Mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia,’ yakni tidak ada kehidupan lain setelah itu. … Dan mereka berkata: ‘Tidak ada yang membinasakan kami selain al-dahr,’ yakni tidak ada yang mematikan kami kecuali perjalanan malam dan siang. Menyandarkan urusan kepada al-dahr adalah celaan terhadap hikmah Allah dan kekuasaan-Nya. Padahal Allah-lah yang Maha Tunggal dalam penciptaan dan pengaturan.”
(as-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hlm. 802)

 

Dari uraian para ulama ahli tafsir di atas dapat kita paparkan bahwa intisari dari firman Allah di dalam ayat yang mulia ini, terlihat pada poin berikut;

  1. Ayat ini menegaskan keyakinan orang musyrikin dahulu yang meyakini bahwa perputaran masa adalah sebab kematian dan kehidupan, bukan karena takdir Allah; 
  2. Ayat ini membantah keyakinan dahriyyūn, yaitu orang yang meyakini tidak ada kehidupan setelah mati, dan segala sesuatu hanyalah akibat “perputaran masa”.
  3. Menyandarkan hidup dan mati kepada al-dahr termasuk bentuk kesyirikan akbar karena menafikan Allah sebagai al-Muḥyī wa al-Mumīt.
  4. Ayat ini menegaskan kewajiban seorang mukmin untuk meyakini adanya kebangkitan dan bahwa semua kejadian adalah dengan takdir dan qadar Allah, bukan sekadar karena hukum alam atau perjalanan waktu.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Allah Ta‘ālā berfirman: ‘Anak Adam menyakiti-Ku, dia mencela al-dahr, padahal Akulah al-dahr. Aku yang membolak-balikkan malam dan siang.’”
(HR. al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 4826; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2246. Hadits ini muttafaq ‘alaih).

 

Imām an-Nawawī رحمه الله menjelaskan:

“Sabda Nabi ﷺ dalam hadits qudsi: ‘Janganlah kalian mencela al-dahr, karena sesungguhnya Allah adalah al-dahr.’ Para ulama berkata: ini adalah bentuk majaz (kiasan), maksudnya Allah-lah yang mengatur segala urusan, yang menggilirkan keadaan-keadaan, termasuk di antaranya perjalanan waktu (al-dahr).”
(an-Nawawī, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, 16/430).

 

Para ulama, di antaranya Ibn al-Qayyim رحمه الله dalam Zād al-Ma‘ād (2/355), menjelaskan bahwa mencela al-dahr (الدهر) atau masa/waktu terbagi ke dalam beberapa bentuk, dan sebagian di antaranya termasuk kesyirikan besar.

1. Keyakinan bahwa al-dahr (masa/waktu) adalah pelaku (fa‘il) yang sebenarnya

Inilah keyakinan orang-orang jahiliyyah. Mereka mengatakan bahwa kehidupan, kematian, kebahagiaan, dan kebinasaan hanyalah dipengaruhi oleh “perputaran zaman”.

 

Allah ﷻ mengabadikan ucapan mereka:

وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ

“Dan tidak ada yang membinasakan kami selain al-dahr (masa/waktu).”
(QS. Al-Jāṯiyah: 24)

 

Keyakinan ini adalah syirik akbar karena menjadikan al-dahr sebagai sekutu bagi Allah dalam rubūbiyyah-Nya (yakni dalam penciptaan, pengaturan, dan pengendalian makhluk).

 

2. Mencela al-dahr dengan ucapan, tanpa meyakini bahwa al-dahr berbuat sendiri

Misalnya seseorang berkata: “Waktu ini sial!”, “Hari ini celaka!”, “Zaman ini kejam!”.
Padahal yang dimaksud hanyalah peristiwa yang terjadi pada masa itu.

Meskipun tidak sampai menganggap al-dahr sebagai pelaku yang independen, ucapan seperti ini tetap haram dan termasuk salah satu bentuk kesyirikan dalam ucapan, sebab:
Pada hakikatnya celaan itu kembali kepada Allah ﷻ yang menciptakan dan mengatur peristiwa di waktu tersebut.

Ini adalah sadd adz-dzarī‘ah (menutup pintu menuju keyakinan syirik), agar seorang muslim tidak sampai terjerumus pada pemahaman jahiliyyah.

 

3. Menggunakan ungkapan tentang al-dahr sekadar pemberitaan (ikhbār)

Misalnya seseorang berkata: “Hari ini sangat panas!”, “Zaman ini penuh fitnah!”, “Masa muda adalah masa semangat.”
Ungkapan seperti ini bukan celaan, tetapi pemberitaan (ikhbār) tentang keadaan. Hukumnya boleh, selama tidak disertai dengan keyakinan batil atau celaan terhadap Allah.

 

Ibn al-Qayyim رحمه الله menegaskan:

“Mencela al-dahr terbagi menjadi tiga:

  1. Jika maksudnya hanya berita semata tanpa celaan, seperti ucapan: ‘Hari ini panas sekali’ atau ‘Hari ini sangat dingin’, maka itu boleh.
  2. Jika mencela al-dahr dengan keyakinan bahwa dialah pelaku (pengatur), maka ini adalah syirik akbar.
  3. Jika mencela al-dahr tanpa meyakini bahwa dialah pelaku, maka tetap haram, karena celaan itu hakikatnya kembali kepada Allah Ta‘ālā.”

(Ibn al-Qayyim, Zād al-Ma‘ād, 2/355)

 

Disini jelas bahwa larangan mencela al-dahr bukan sekadar adab, melainkan menyangkut akidah tauhid. Ia adalah bagian dari menjaga lisan agar tidak terjerumus dalam kesyirikan.

Maka mencela al-dahr hukumnya haram karena:

  • Mengandung bentuk celaan terhadap Allah ﷻ yang menciptakan dan mengatur waktu.
  • Merupakan keyakinan batil seperti keyakinan kaum musyrikin yang menyandarkan kehidupan dan kematian kepada masa, bukan kepada Allah.
  • Mencela al-dahr termasuk bentuk syirik dalam ucapan, karena menisbatkan pengaruh, manfaat, dan mudharat kepada selain Allah.

Dengan demikian, seorang muslim wajib menjaga lisannya dari kebiasaan mencela masa, misalnya dengan ucapan seperti: “Dasar waktu sial!”, “Hari ini apes!”, atau “Zaman ini kejam!”, karena hakikatnya semua itu adalah takdir Allah yang penuh hikmah.

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. ← Kembali ke Artikel