Aqidah 26 Jun 2026
Manusia adalah makhluk yang lemah, diciptakan dengan fitrah kecenderungan kepada kebaikan sekaligus memiliki potensi tergelincir kepada keburukan. Karena itu, tidak seorang pun manusia yang benar-benar terbebas dari kesalahan dan dosa. Bahkan, orang yang bertaqwa—yang dipuji oleh Allah ﷻ dalam banyak ayat al-Qur’an—bukanlah mereka yang sama sekali tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang apabila tergelincir dalam dosa segera menyadari kesalahannya, mengingat Allah, dan kembali kepada-Nya dengan taubat dan istighfar.
Inilah makna hakiki dari ketakwaan; bukan kesucian mutlak tanpa noda, melainkan sikap cepat kembali kepada Allah setiap kali tersandung dalam pelanggaran. Dengan demikian, ukuran ketakwaan bukanlah seberapa jauh seseorang terjaga dari dosa, tetapi seberapa cepat ia menyucikan dirinya kembali dengan penyesalan, taubat, dan perbaikan amal.
Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Surat Āli ‘Imrān ayat 135–136, yang menegaskan bahwa orang bertakwa bisa saja terjatuh dalam fāḥishah (perbuatan keji) atau menzalimi dirinya sendiri, namun keutamaan mereka terletak pada kesigapan untuk mengingat Allah dan memohon ampunan atas kesalahan itu, tanpa terus-menerus berada dalam kemaksiatan tersebut.
Ayat ini memberikan harapan besar kepada orang-orang beriman yang terjatuh dalam dosa, asalkan mereka segera bertaubat, menyesali perbuatan, dan tidak meneruskannya.
Allah ﷻ berfirman:
﴿وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ ۖ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ١٣٥ لَهُمْ جَزَاؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ١٣٦﴾
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka ingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka – dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? – dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka, dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.” (Āli ‘Imrān: 135–136)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah sifat orang bertakwa. Mereka bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa, tetapi apabila terjatuh dalam dosa, mereka segera kembali kepada Allah.
Ibn Katsīr berkata:
النَّفْسُ قَدْ تُوَسْوِسُ وَيَحْصُلُ مِنْهَا الْوَاقِعُ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالظُّلْمِ لِلنَّفْسِ، وَلَكِنْ أَهْلُ التَّقْوَى إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ بَادَرُوا إِلَى الذِّكْرِ وَالتَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ.
“Sesungguhnya jiwa itu terkadang membisikkan keburukan, sehingga seseorang bisa terjatuh pada kekejian atau kezhaliman terhadap dirinya. Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa apabila melakukan itu, mereka segera ingat (kepada Allah), bertaubat, dan memohon ampunan.”
(Tafsīr Ibn Katsīr, jilid 2, hlm. 104)
Al-Qurthubī menjelaskan makna وَلَمْ يُصِرُّوا:
أَيْ لَمْ يَدُومُوا عَلَى الْمَعْصِيَةِ وَلَا أَقَامُوا عَلَيْهَا وَهُمْ يَعْلَمُونَ قُبْحَهَا.
“Yakni mereka tidak terus-menerus dalam maksiat itu dan tidak pula menetap di atasnya, padahal mereka mengetahui keburukannya.”
(Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, jilid 4, hlm. 231)
Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, lalu mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.”
(Riwayat Muslim dalam shahihnya, no. 2749)
Maka jelaslah bahwa ketakwaan sejati tidak menuntut kesempurnaan tanpa cela, tetapi menuntut kesungguhan untuk selalu memperbaiki diri, mengakui kelemahan, dan senantiasa kembali kepada Allah ﷻ. Inilah sifat yang menjadi jalan menuju ampunan dan surga-Nya, sebagaimana dijanjikan dalam lanjutan ayat tersebut.