بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Antara Syukur dan Ujub (Tinjauan Manhaj Salaf Terhadap Sikap Memandang Rendah Orang Lain Setelah Mendapatkan Hidayah)

Aqidah   03 Jul 2026

Antara Syukur dan Ujub (Tinjauan Manhaj Salaf Terhadap Sikap Memandang Rendah Orang Lain Setelah Mendapatkan Hidayah)

Hidayah adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-Nya. Namun, hidayah bukanlah sebuah pencapaian yang layak dibanggakan dengan kesombongan (kibriya), melainkan amanah yang harus dijaga dengan ketawaduan. Ulama Salaf memberikan peringatan keras terhadap fenomena "penyakit hati" di mana seorang hamba merasa dirinya telah suci dan memandang rendah orang lain yang dianggap belum mendapatkan petunjuk. Sikap ini justru merupakan tanda hilangnya hakikat hidayah itu sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta'ala secara tegas melarang hamba-Nya untuk merasa paling bertaqwa atau paling suci, karena hanya Allah yang mengetahui hakikat hati setiap manusia.

 

Allah ﷻ berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia (Allah) lebih mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
(Al-Qur’an, Surah An-Najm : Ayat 32)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini merupakan larangan untuk membanggakan amal shalih dan merasa diri lebih baik daripada orang lain.
(Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, Jilid 7, Halaman 462)

Salah satu bentuk kesombongan bagi orang yang merasa telah mendapat hidayah adalah memastikan bahwa orang yang bermaksiat tidak akan diampuni oleh Allah. Hal ini merupakan bentuk kelancangan terhadap hak rububiyah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

 

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang dua orang dari kalangan Bani Israil; yang satu ahli ibadah dan yang lainnya gemar bermaksiat. Setiap kali si ahli ibadah melihat saudaranya bermaksiat, ia berkata: "Berhentilah!". Hingga suatu saat si ahli ibadah berkata

«وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ، أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ»

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu, atau Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga!”

Maka Allah ﷻ berfirman:

«مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ» 

(Siapa yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku menghapuskan amalanmu!).
(Riwayat Imam Abu Dawud dalam kitabnya, Sunan Abi Dawud, Jilid 4, Halaman 275, Nomor 4901. Syekh al-Albani menyatakan hadits ini Shahih dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud, Nomor 4901).

 

Syekh al-Albani rahimahullah dalam berbagai uraian beliau sering menekankan bahwa hidayah harus membuahkan kasih sayang kepada sesama muslim, bukan sikap menghakimi.

  1. Hidayah adalah Milik Allah: Syekh al-Albani dalam kitab Silsilah al-Ahadits as-Shahihah Jilid 1, Halaman 33 menjelaskan bahwa seorang dai atau penuntut ilmu yang telah mengenal sunnah harus merasa takut jika hidayah tersebut dicabut darinya. Beliau menegaskan bahwa memandang rendah orang yang belum mengenal sunnah adalah bentuk kekeliruan dalam memahami manhaj salaf.
  2. Keterkaitan dengan Akhir Hayat (Khatimah): Beliau sering mengingatkan hadits Ibnu Mas'ud Radhiallahu 'anhu tentang seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga hingga jaraknya tinggal sehasta, lalu ia didahului oleh takdir dan mengamalkan amalan ahli neraka di akhir hayatnya. Hal ini harus membuat orang yang sudah "hijrah" atau mendapatkan hidayah menjadi waspada (khauf) dan tidak merasa aman dari rencana Allah.
  3. Definisi Sombong: Syekh al-Albani menshahihkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
     الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ
    (Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia). 
    Beliau menegaskan bahwa siapa pun yang meremehkan pelaku maksiat dengan perasaan bahwa dirinya lebih mulia secara kasta di hadapan Allah, maka ia telah terjatuh dalam sifat kibriya (kesombongan).

 

Antara Syukur dan Ujub

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah memberikan sebuah kaidah yang sangat menggugah jiwa dalam kitabnya, Madārij al-Sālikīn:
"Satu tetes air mata penyesalan dari seorang pendosa yang rendah hati, lebih dicintai oleh Allah daripada gemuruh tasbih seorang ahli ibadah yang merasa sombong dengan amalnya."

(Ibnu al-Qayyim, Madārij al-Sālikīn, Jilid 1, Halaman 177).

 

Payakumbuh, 01 Juli 2026

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. ← Kembali ke Artikel