Aqidah dan Manhaj Hadits 25 Aug 2026
Tanda Cinta Ilahi: Saat Allah ﷻ Menjadikanmu "Pekerja-Nya"
Dalam perjalanan hidup seorang hamba, tidak ada pencapaian yang lebih agung daripada mendapatkan pengakuan rida dari Penciptanya. Namun, bagaimanakah cara seorang mukmin mengenali bahwa Allah ﷻ sedang menghendaki kebaikan baginya? Rasulullah ﷺ memberikan sebuah kunci rahasia yang menggetarkan jiwa melalui lisan sahabat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ»، قَالُوا: كَيْفَ يَسْتَعْمَلُهُ؟ قَالَ: «يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ
" Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan memperpekerjakannya.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana Allah memperpekerjakannya?” Beliau ﷺ menjawab: “Allah memberikan taufik kepadanya untuk beramal shalih sebelum wafatnya.” " (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Imam AhmadJilid 19, Hal. 317, No. Hadits 12054; Imam At-Tirmidzi dalamSunan At-TirmidziJilid 4, Hal. 448, No. Hadits 2142; dan Imam Al-Hakim dalamAl-Mustadrak ‘ala al-ShahihainJilid 1, Hal. 493, No. Hadits 1264. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu Jilid 1, Hal. 136, No. 306)
Hadits yang mulia ini memberikan beberapa pelajaran penting dalam kehidupan seorang Muslim yang bisa kita tuangkan dalam beberapa poin berikut;
Al-Hafiz Ibnu Katsirrahimahullahmemberikan sebuah kaidah agung yang menjadi pegangan Ahlus Sunnah dalam masalah ini:
إِنَّ الْكَرِيمَ قَدْ أَجْرَى عَادَتَهُ بِكَرَمِهِ أَنَّ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ، وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِ
" Sesungguhnya Zat Yang Maha Pemurah telah menjalankan ketetapan-Nya dengan kemurahan-Nya, bahwa barangsiapa yang hidup di atas suatu kebiasaan (ketaatan), maka ia akan dimatikan di atas kebiasaan tersebut, dan barangsiapa yang mati di atas suatu kebiasaan, maka ia akan dibangkitkan di atas hal tersebut " (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, Ibnu Katsir, Jilid 2, Hal. 101)
Maka ingatlah bahwa kelak Allah akan membangkitkan seorang hamba seperti apa ia diwafatkan, dan seorang hamba akan diwafatkan pada yang apa ia jadikan sebagai kebiasaan. Orang yang beriman akan bersungguh-sungguh membiasakan (merutinkan) ketaatan karena ia berharap sa'at sedang melakukan keta'atan itu Allah mewafatkannya. Dan akan takut untuk melakukan kedurhakaan (berupa perbuatan dosa atau bid'ah) karena ia khawatir bila sa'at bergelimang dengan kubangan dosa dan kemaksiatan itu, ia diwafatkan. Nas-alullah As Salamah.
Aktualisasi: Apakah Kita Sedang "Dipekerjakan" Allah ﷻ?
Artikel ini mengajak kita untuk mengevaluasi diri melalui cermin hadits ini. Jika hari-hari kita dipenuhi dengan kesibukan yang tidak mendekatkan diri kepada-Nya, maka kita perlu merasa khawatir. Namun, jika kita mendapati:
Maka bersyukurlah, karena itu adalah tanda bahwa Allah ﷻ sedang menginginkan kebaikan bagi Anda. Allah ﷻ sedang "memperpekerjakan" Anda untuk membangun istana Anda sendiri di surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
Sebagai kesimpulan, hadits ini adalah proklamasi harapan. Ia mengajarkan kita bahwa akhir hidup yang indah (Husnul Khatimah) bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari taufik Allah ﷻ yang diberikan kepada hamba-hamba yang sungguh-sungguh ingin "dipekerjakan" oleh-Nya.
Marilah kita senantiasa berdoa agar Allah ﷻ tidak memutus "kontrak ketaatan" kita hingga ajal menjemput. Sebab, tidak ada kesengsaraan yang lebih besar daripada seorang hamba yang "dipecat" dari ketaatan kepada Allah ﷻ dan dibiarkan sibuk dengan kemaksiatan di akhir usianya.