بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Salah Paham: Anggapan Saleh Harus Miskin atau Membenci Materi 

Aqidah dan Manhaj Fiqih   03 Sep 2026

Salah Paham: Anggapan Saleh Harus Miskin atau Membenci Materi 

Anggapan Saleh Harus Miskin atau Membenci Materi 

Salah satu kekeliruan fatal dalam memahami teks-teks dzammud dunya (celaan terhadap dunia) adalah munculnya anggapan bahwa kesalehan hanya bisa diraih dengan hidup miskin atau dengan membenci dan menjauhi segala bentuk kesenangan materi secara total. 

Fenomena ini sering kali didasari oleh pemahaman yang sempit terhadap konsep zuhud, seolah-olah zuhud berarti mengharamkan apa yang telah Allah ﷻ halalkan, atau membiarkan diri dalam kemelaratan yang justru dapat melemahkan izzah (kemuliaan) umat Islam.
Padahal, Islam tidak pernah mencela kekayaan selama harta tersebut diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk ketaatan. Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk menikmati karunia-Nya sebagai bentuk syukur. Allah ﷻ berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu."
(QS. Al-Qashash: 77).

Bantahan terhadap anggapan bahwa kesalehan menuntut kemiskinan juga ditegaskan oleh Nabi ﷺ. Seorang mukmin yang memiliki kemapanan ekonomi dan kekuatan fisik jauh lebih dicintai karena ia dapat memberi manfaat lebih besar bagi dakwah. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan."
(Hadits Riwayat Muslim, No. 2664 dalam Shahih Muslim, Al-Imam Muslim, Jilid 4, Hal. 2052).

Para ulama menjelaskan bahwa "kekuatan" dalam hadits ini mencakup kekuatan iman, fisik, dan juga kemampuan materi yang mendukung ketaatan. Selain itu, Nabi ﷺ justru menganjurkan umatnya agar tampak rapi dan menunjukkan nikmat pemberian Allah ﷻ sebagai bentuk pengakuan atas kemurahan-Nya, bukan dengan berpura-pura miskin atau kumal demi terlihat saleh. Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aas radhiallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

"Sesungguhnya Allah menyukai untuk melihat bekas (tanda) nikmat-Nya pada hamba-Nya."
(Hadits Riwayat At-Tirmidzi, No. 2819. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, No. 1712, dan dalam kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Jilid 3, No. 1290).

 

Kekeliruan lain adalah menganggap bahwa menikmati kesenangan materi yang halal akan mengurangi derajat di akhirat secara mutlak. Hal ini dibantah oleh kenyataan bahwa banyak sahabat Nabi ﷺ yang dijamin masuk surga adalah para konglomerat yang kaya raya, seperti Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu dan Abdurrahman bin Auf radhiallahu 'anhu. 

Kesenangan materi bagi mereka tidak menjadi hijab (penghalang), karena harta tersebut berada di tangan mereka, bukan di hati mereka.
Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:
"Zuhud yang disyariatkan adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Adapun hal-hal yang membantu ketaatan kepada Allah, maka meninggalkannya bukanlah bagian dari agama."(Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, Jilid 10, Hal. 511).

Dengan demikian, menjadi saleh tidaklah identik dengan kemiskinan. Kesenangan materi hanya menjadi tercela jika ia menyebabkan kesombongan, kelalaian, atau diperoleh dengan jalan maksiat. Jika materi digunakan untuk mendukung ibadah, menafkahi keluarga, dan membantu sesama, maka ia berubah menjadi amal saleh yang sangat mulia.

Lebih jauh lagi, Islam menekankan bahwa keindahan—baik dalam berpakaian, tempat tinggal, maupun sarana hidup lainnya—bukanlah sesuatu yang harus dijauhi demi mengejar kesalehan. Sebaliknya, keindahan adalah bagian dari sifat-sifat yang dicintai oleh Allah ﷻ. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits yang sangat agung dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar dzarrah (biji sawi) dari kesombongan." Seorang laki-laki bertanya: "Sesungguhnya ada orang yang suka memakai baju yang indah dan sandal yang bagus (apakah itu termasuk sombong?)." Beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia."
(Hadits Riwayat Muslim, No. 91 dalam Shahih Muslim, Al-Imam Muslim, Jilid 1, Hal. 93).

Hadits di atas menjadi bantahan telak bagi mereka yang menganggap bahwa memiliki barang-barang duniawi yang bagus dan indah bertentangan dengan kezuhudan atau menghalangi seseorang masuk surga. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa letak permasalahan bukan pada "keindahan materi" itu sendiri, melainkan pada "penyakit hati" (kesombongan) yang terkadang menyertainya. Selama seseorang memiliki dunia tanpa rasa sombong dan tidak meremehkan orang lain, maka keindahan tersebut justru dicintai oleh Allah ﷻ.

Al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah memberikan penjelasan yang sangat mendalam mengenai hadits ini:
"Maka hadits ini mencakup dua prinsip besar: Pertama, makrifah (pengenalan) bahwa Allah memiliki keindahan yang mutlak pada dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.

Kedua, ibadah dengan mencintai keindahan yang Allah syariatkan, baik keindahan dalam ucapan dengan kejujuran, keindahan dalam hati dengan ikhlas dan tawakal, hingga keindahan dalam penampilan lahiriyah dengan menampakkan nikmat-Nya." (Al-Fawa’id, Ibnu al-Qayyim, Jilid 1, Hal. 165).

Dengan demikian, anggapan bahwa menjadi saleh harus hidup dalam kekumuhan atau membenci keindahan materi adalah anggapan yang keliru. Dunia dan segala perhiasannya yang indah diciptakan sebagai sarana bagi manusia untuk semakin mengenal keindahan Sang Pencipta, serta menggunakannya sebagai fasilitas untuk mendukung tegaknya ketaatan di muka bumi. Kekayaan dan keindahan dunia baru akan menjadi tercela apabila ia berubah menjadi berhala di dalam hati yang membuat pelakunya merasa lebih tinggi di hadapan manusia lainnya.

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. ← Kembali ke Artikel

Artikel Lainnya