بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dakwah Ilallah atau Dakwah Lil-Yayasan? Menakar Ikhlas dalam Sinergi Perjuangan Umat

Aqidah dan Manhaj Tafsir Hadits   04 Sep 2026

Dakwah Ilallah atau Dakwah Lil-Yayasan? Menakar Ikhlas dalam Sinergi Perjuangan Umat

Dakwah Ilallah atau Dakwah Lil-Yayasan? Menakar Ikhlas dalam Sinergi Perjuangan Umat

Pertumbuhan yayasan, sekolah, dan masjid yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah kabar gembira bagi umat Islam. Namun, di tengah maraknya ghirah tersebut, muncul sebuah fenomena yang patut dikoreksi: adanya sikap eksklusif dari sebagian lembaga yang enggan mempublikasikan atau mendukung program dari yayasan lain, meskipun mereka berada di atas manhaj yang sama dan memiliki visi-misi yang sejalan.

Seakan-akan, dakwah telah berubah menjadi kompetisi mencari pengaruh, di mana setiap lembaga hanya berfokus untuk membesarkan "bendera"-nya sendiri dan merasa khawatir jika dukungan kepada pihak lain akan mengurangi sumber daya atau perhatian para muhsinin terhadap lembaga mereka.
1. Tujuan Dakwah: Mengajak Manusia kepada Allah ﷻ
Seorang penggerak dakwah harus senantiasa memperbaharui niatnya. Apakah ia mengajak manusia untuk mengenal Allah ﷻ (Dakwah ilallah), atau ia tanpa sadar mengajak manusia untuk fanatik kepada kelompok atau yayasannya (Dakwah ila an-nafs/ilal hizb)?

Jika tujuannya benar-benar Allah ﷻ, maka ia akan merasa bahagia ketika agama Allah ﷻ tegak, tidak peduli melalui tangan siapa atau melalui yayasan mana kebaikan itu tersebar. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah (Muhammad): ‘Inilah jalanku, aku mengajak (kamu) kepada Allah dengan basirah (ilmu yang nyata), aku dan orang-orang yang mengikutiku’.”(QS. Yusuf : 108)

Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah saat mengomentari ayat ini dalam kitabnya menyatakan:"Di dalamnya terdapat peringatan tentang ikhlas. Karena banyak orang, meskipun ia secara lahiriyah mengajak kepada Allah, sebenarnya ia sedang mengajak kepada dirinya sendiri." 
(Lihat Kitab at-Tauhid, Bab Ad-Du’au ila Syahadati alla ilaha illallah, Jilid 1, Halaman 15).
2. Syariat Ta’awun (Tolong-Menolong) dalam Kebaikan

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berjalan sendiri-sendiri dalam ego sektoral. Setiap mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu tubuh atau satu bangunan yang saling menguatkan. Dari Abu Musa al-Asy’ariradhiallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang sebagiannya menguatkan bagian yang lain.”
(Hadits Riwayat al-Bukhari dalamShahih-nya, Kitabash-Shalah, No. 481, Jilid 1, Halaman 101; dan Muslim dalamShahih-nya, Kitabal-Birr wash Shilah, No. 2585, Jilid 4, Halaman 1999).

Keengganan sebuah yayasan untuk mempublikasikan program yayasan lain yang sesama sunnah adalah bentuk pelemahan terhadap "bangunan" dakwah itu sendiri. Seharusnya, keberhasilan saudara seiman dalam membangun sekolah atau masjid adalah keberhasilan kita juga.

3. Bahaya Hasad dan Egoisme dalam Dakwah

Salah satu penyakit yang sering menjangkiti para penggiat amal shalih adalah rasa enggan melihat orang lain lebih menonjol. Nabi ﷺ memberikan standar keimanan yang tinggi dalam hal mencintai kebaikan bagi saudaranya. Dari Anas bin Malikradhiallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.”
(Hadits Riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitabal-Iman, No. 13, Jilid 1, Halaman 12; dan Muslim dalam Shahih-nya, Kitabal-Iman, No. 45, Jilid 1, Halaman 67).

Jika kita ingin program yayasan kita didukung dan dipublikasikan, maka secara iman, kita pun harus memiliki keinginan yang sama agar program yayasan saudara kita juga sukses dan dikenal luas. Membatasi publikasi hanya untuk internal sendiri demi menjaga "eksklusivitas" adalah sikap yang menjauhkan kita dari kesempurnaan iman.
4. Menjadi Pembuka Pintu Kebaikan bagi Orang Lain

Mempublikasikan program sekolah, masjid, atau yayasan lain bukan hanya bentuk dukungan moral, tetapi juga ladang pahala jariyah bagi kita. Jika ada donatur yang berinfaq ke yayasan tersebut melalui publikasi yang kita berikan, maka kita mendapatkan pahala yang sama tanpa mengurangi pahala mereka. Dari Abu Mas’ud al-Anshariradhiallahu 'anhu, Nabi ﷺ  bersabda:

«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (Hadits Riwayat Muslim dalamShahih-nya, Kitabal-Imarah, No. 1893, Jilid 3, Halaman 1506).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan pentingnya persatuan ini:
"Manusia tidak akan maslahat kecuali dengan ijtima' (persatuan) dan saling tolong-menolong... barangsiapa yang memecah belah persatuan umat dan keluar dari jamaah, maka ia telah melakukan bid’ah yang tercela." (Lihat: Majmu’ al-Fatawa, Jilid 28, Halaman 64).

Penutup: Sinergi untuk Cahaya Islam yang Lebih Terang

Yayasan hanyalah sebuah wasilah (sarana), bukan tujuan. Jika kita terjebak dalam sikap "hanya ingin besar sendiri", maka kita sedang mempersempit rahmat Allah ﷻ yang luas. Dakwah di bumi ini begitu berat jika dipikul sendirian, namun akan terasa ringan jika dipikul bersama dalam bingkai ukhuwah yang tulus.
Dukungan dan kolaborasi adalah langkah nyata untuk mendobrak dinding-dinding sekat antar lembaga. Kami percaya bahwa membantu membesarkan sekolah, yayasan, atau masjid saudara kami adalah bagian dari tugas kami untuk meninggikan kalimat Allah ﷻ di muka bumi.
Mari kita hilangkan mentalitas kompetisi yang tidak sehat dan gantikan dengan sinergi yang penuh berkah. Sebab, pada akhirnya, yang akan tetap kekal adalah apa yang dilakukan dengan ikhlas demi wajah Allah ﷻ, bukan demi besarnya nama sebuah yayasan.
 

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. ← Kembali ke Artikel

Artikel Lainnya