بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Standar Kemuliaan : Antara Takwa Dan Keburukan Akhlak

Aqidah dan Manhaj Hadits Muslimah   13 Sep 2026

Standar Kemuliaan : Antara Takwa Dan Keburukan Akhlak

Standar Kemuliaan : Antara Takwa Dan Keburukan Akhlak

Dalam kehidupan sosial, manusia sering kali membuat standar kemuliaan berdasarkan nasab (keturunan), kekayaan, pangkat, atau rupa. Namun, Islam datang untuk meruntuhkan tembok-tembok kasta sosial tersebut dan menggantinya dengan satu standar yang bersifat batiniyah dan universal. Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada apa yang ia miliki secara fisik, melainkan pada apa yang tertanam dalam hatinya berupa ketakwaan.

1. Landasan Kesetaraan dalam Islam

Nabi ﷺ menegaskan bahwa tidak ada kelebihan bagi satu manusia atas manusia lainnya secara dzat atau asal-usul. Semua manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Dari Uqbah bin Amir رضي الله عنه

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ لِأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلَّا بِدِينٍ أَوْ تَقْوَى، وَكَفَى بِالرَّجُلِ أَنْ يَكُونَ بَذِيًّا فَاحِشًا بَخِيلًا

"Tidak ada kelebihan bagi seseorang atas orang lain kecuali dengan agama atau takwa. Cukuplah bagi seseorang menjadi buruk jika ia seorang yang lisannya kotor (suka mencela), keji (perbuatan dan ucapannya), lagi pelit.”

(Musnad Imam Ahmad, Jilid 28, Halaman 607, No. Hadits 17380. Hadits ini dinilai Shahih Lighairihi oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab beliau Shahih At-Targhib wat-Tarhib Jilid 3 Halaman105 Nomor Hadits 2962).

2. Takwa sebagai Parameter Tunggal

Ulama menjelaskan bahwa Allah ﷻ tidak melihat kepada bentuk rupa atau harta, melainkan kepada hati dan amal perbuatan. Kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan di akhirat, dan kuncinya adalah takwa.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(Al-Qur’anul Karim, Surah Al-Hujurat : 13)

3. Tiga Sifat Penghancur Marwah Manusia

Dalam hadits di atas, Nabi ﷺ juga menyebutkan tiga sifat yang cukup untuk menjadikan seseorang dinilai rendah dan buruk, meskipun ia memiliki nasab yang tinggi atau harta yang melimpah:


1. Al-Badzy (بَذِيًّا): Orang yang memiliki lisan yang kotor, suka mencaci, dan kata-katanya menyakitkan.


2. Al-Fahisy (فَاحِشًا): Orang yang perkataan atau perbuatannya sangat buruk, melampaui batas kesopanan, dan tidak malu melakukan kekejian.


3. Al-Bakhil (بَخِيلًا): Orang yang kikir, tidak mau menunaikan kewajiban hartanya, dan hanya mementingkan diri sendiri.
Ulama Ahlus Sunnah menekankan bahwa iman dan akhlak yang buruk tidak akan pernah berkumpul dalam kesempurnaan. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا»

"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(Sunan At-Tirmidhi, Jilid 3, Halaman 457, No. Hadits 1162. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab beliau Mishkatul Mashabih Jilid 3 Halaman 1411 Nomor Hadits 5062).

Seseorang mungkin merasa bangga dengan kasta sosial atau pencapaian dunianya, namun di hadapan Allah ﷻ, semua itu tidak bernilai jika ia jauh dari agama dan takwa. Sebaliknya, kemiskinan dan rendahnya status sosial tidak akan menghalangi seseorang untuk menjadi wali Allah ﷻ jika ia menghiasi dirinya dengan ketakwaan dan akhlak yang mulia.


Uraian ulama memberikan pesan kuat:
• Berhentilah menyombongkan keturunan atau harta.
• Fokuslah memperbaiki isi hati (takwa).
• Jagalah lisan dari kata-kata kotor, bersihkan diri dari kekejian, dan luaskan hati dengan kedermawanan.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan menjauhkan kita dari lisan yang buruk serta sifat kikir. 

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra ← Kembali ke Artikel

Artikel Lainnya