Aqidah dan Manhaj Tafsir Sejarah 06 Sep 2026
Salah satu ujian terbesar dalam perjalanan iman seorang hamba adalah ketika ia dihadapkan pada ketetapan Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, seleranya, atau kepentingan dunianya. Sejarah mencatat bahwa kehancuran umat-umat terdahulu dimulai ketika mereka menjadikan hawa nafsu sebagai filter dalam menerima kebenaran.
Allah ﷻ berfirman mengenai karakter kaum yang menyimpang:
أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ
“Maka apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu (hawa nafsu) lalu kamu menyombongkan diri? Maka sebagian (dari mereka) kamu dustakan dan sebagian (yang lain) kamu bunuh?”(QS. Al-Baqarah : 87)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan kecaman keras terhadap mereka yang mendahulukan hawa nafsu di atas syariat. Beliau berkata:"Mereka menimbang kebenaran dengan hawa nafsu mereka. Jika sesuai, mereka terima; jika menyelisihi, mereka tolak."
(Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, Jilid 1, Halaman 323).
Ulama Ahli Sunnah menekankan bahwa siapa saja yang tidak mau mengikuti petunjuk Nabi ﷺ, maka dipastikan ia sedang mengikuti hawa nafsunya. Tidak ada pilihan ketiga di antara keduanya.
Allah ﷻ berfirman:
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
“Maka jika mereka tidak menyambut (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qashash : 50)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah memberikan pelajaran penting dari ayat ini: "Seseorang tidak dikatakan pengikut kebenaran sampai ia menjadikan hawa nafsunya tunduk pada apa yang dibawa oleh Rasul ﷺ. Jika ia melakukan sebaliknya, maka ia telah menjadikan nafsunya sebagai tuhan selain Allah." (Taisir al-Karim ar-Rahman, Halaman 617).
Dari ayat-ayat tersebut, terdapat beberapa mutiara pelajaran yang wajib direnungkan oleh setiap muslim agar selamat dari fitnah hawa nafsu:
A. Iman Berarti Ketundukan Mutlak
Seorang mukmin sejati tidak memiliki pilihan lain kecuali patuh saat Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ telah memutuskan suatu perkara, meskipun hal itu terasa berat bagi jiwanya.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab : 36)
B. Waspada Terhadap Penyakit Sombong
Dalam QS. Al-Baqarah: 87, Allah ﷻ menggandengkan antara menuruti nafsu dengan sikap "Istakbartum" (menyombongkan diri). Sombong secara syar'i adalah menolak kebenaran. Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu,
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ
"Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(Hadits Riwayat Muslim dalam Shahih-nya, Kitabal-Iman, No. 91, Jilid 1, Halaman 93).
C. Kebenaran Tidak Mengikuti Selera Manusia
Jika syariat Islam harus mengikuti selera dan keinginan nafsu setiap orang, maka tatanan dunia ini akan hancur karena nafsu manusia selalu berubah dan seringkali condong pada keburukan. Oleh karena itu, keselamatan hanya ada pada sikap mengikuti wahyu.
D. Mencintai Apa yang Dicintai Rasul ﷺ
Puncak keimanan adalah ketika hati seorang hamba merasa tenang dan cinta terhadap apa saja yang datang dari Nabi ﷺ. Dari Anas bin Malikradhiallahu 'anhu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا...
“Tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: (salah satunya) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya...”
(Hadits Riwayat al-Bukhari No. 16 dan Muslim No. 43).
Menjadikan syariat sebagai standar dan menundukkan nafsu di bawah kendali wahyu adalah ciri utama pengikut Manhaj Salafus Shalih. Janganlah kita menjadi seperti kaum yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut; yang hanya mengambil agama yang sesuai dengan seleranya dan membuang yang menyelisihi keinginannya.
Semoga Allah ﷻ meneguhkan hati kita di atas ketaatan dan menjauhkan kita dari menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin dalam hidup kita.
Dalam dinamika dakwah hari ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang memprihatinkan: sebagian kaum muslimin membangun loyalitas (wala’) dan permusuhan (bara’) di atas figur seorang ustadz, dai, atau guru tertentu. Dukungan dan pembelaan yang diberikan bukan lagi didasarkan pada sejauh mana ucapan sang dai selaras dengan wahyu, melainkan didasarkan pada rasa suka, kekaguman pribadi, atau ikatan kelompok atau lembaga.
Salah satu kaidah agung dalam Manhaj Salaf adalah bahwa kebenaran tidak diukur oleh manusia, melainkan manusialah yang diukur dengan kebenaran. Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu pernah memberikan nasihat kepada seseorang yang bingung melihat perselisihan tokoh-tokoh besar:
"Sesungguhnya kebenaran itu tidak diketahui dengan melihat kepada orangnya. Kenalilah kebenaran itu, maka engkau akan mengetahui siapa pengikutnya." (Zahrul Akam fi Amtsalil 'Awam karya Al-Yusi, Jilid 1, Halaman 124; dan dikutip dalam Al-I'tisham karya Imam Asy-Syathibi, Jilid 2, Halaman 710).
Allah ﷻ memerintahkan kita untuk mengikuti wahyu secara mutlak, bukan mengikuti individu selain Nabi ﷺ secara mutlak.
Allah ﷻ berfirman:
اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu ikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al-A'raf : 3)
Fenomena "ustadz-sentris" seringkali membuat seseorang menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu datang dari lisan yang bukan ustadz pujaannya. Ini adalah bentuk pengulangan karakter kaum terdahulu yang dikecam Allah ﷻ. Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhu memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang mempertentangkan sabda Nabi ﷺ dengan pendapat Abu Bakarradhiallahu 'anhudan Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu:
«يُوشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ، أَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَتَقُولُونَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ؟»
"Hampir saja hujan batu dari langit menimpa kalian! Aku katakan: ‘Rasulullah ﷺ bersabda’, namun kalian malah membalas dengan: ‘Abu Bakar dan Umar berkata’?”
(Atsar diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad, Jilid 1, Halaman 337. Syaikh Al-Albani menyebutkan atsar ini memiliki penguat dalam mukaddimah kitab Sifatu Shalatin Nabi, Jilid 1, Halaman 28).
Jika pendapat Abu Bakar dan Umarradhiallahu 'anhuma—manusia terbaik setelah para Nabi—saja tidak boleh dipertentangkan dengan wahyu, lantas bagaimana dengan ustadz atau dai di zaman kita?
Ketika dukungan kepada seorang dai dilakukan tanpa timbangan ilmu, maka lahirlah fanatisme buta. Inilah yang menyebabkan umat terkotak-kotak. Rasulullah ﷺ sangat membenci segala bentuk fanatisme golongan yang melalaikan kebenaran. Dari Jundub bin Abdillahradhiallahu 'anhu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
Barangsiapa yang terbunuh di bawah bendera kefanatikan (yang tidak jelas tujuannya), dia menyeru kepada ashabiyyah (fanatisme golongan) atau membela ashabiyyah, maka matinya adalah mati jahiliyah.”
(Hadits Riwayat Muslim dalam Shahih-nya, Kitabal-Imarah, No. 1850, Jilid 3, Halaman 1478).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan kaidah dalam masalah ini:
"Tidak boleh bagi seseorang mengangkat untuk umat ini seorang figur, lalu ia mengajak kepada jalannya dan membangun wala’ (loyalitas) serta bara’ (permusuhan) di atas figur tersebut selain Nabi ﷺ. Dan tidak boleh pula mengangkat sebuah ucapan (pendapat) lalu ia membangun wala’ dan bara’ di atas ucapan itu selain Kalamullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ."
(Majmu’ al-Fatawa, Jilid 20, Halaman 164).
1. Cintailah Dai Karena Allah: Kita mencintai para ustadz dan dai sejauh mana mereka membimbing kita kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Jika mereka keliru, kecintaan kita tidak boleh membuat kita membela kekeliruannya.
2. Menerima Kebenaran dari Siapa Pun: Kebenaran adalah barang hilang milik mukmin. Di mana pun ia menemukannya, ia lebih berhak mengambilnya, meskipun datang dari orang yang tidak ia sukai.
3. Waspadai Retorika Tanpa Manhaj: Jangan tertipu dengan kelancaran lisan atau banyaknya jamaah. Standar utamanya adalah: Apakah aqidahnya benar? Apakah manhajnya lurus? Apakah ia mengajak kepada Tauhid atau kepada dirinya sendiri?
4. Menjaga Lisan dari Menghujat Namun Tetap Mengoreksi: Kita menghormati para ulama dan guru, namun kehormatan wahyu jauh lebih tinggi di atas kehormatan mereka.
Seorang mukmin yang cerdas adalah yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pemimpin (acuan), dan menjadikan para dai sebagai pembantu untuk memahami kedua wahyu tersebut. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang "mempertuhankan" tokoh-tokoh agama dengan mengikuti mereka dalam menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal (atau membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar) hanya karena fanatisme.
Kembalilah kepada wahyu, karena hanya itulah satu-satunya tali yang tidak akan pernah putus dan satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kita ke Surga-Nya.