بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jangan Silau dengan Gelar, Lihatlah Aqidah dan Manhaj

Aqidah dan Manhaj Hadits Sejarah   06 Sep 2026

Jangan Silau dengan Gelar, Lihatlah Aqidah dan Manhaj

Jangan Silau dengan Gelar, Lihatlah Aqidah dan Manhaj

 

Dalam belantara dakwah hari ini, banyak kaum muslimin yang terpesona oleh kilauan gelar akademik, ijazah dari universitas ternama, atau besarnya yayasan yang menaungi seorang dai.
Namun, sejarah Islam telah memberikan pelajaran berharga bahwa standar kebenaran seseorang tidak terletak pada kehebatan lahiriyah, titel, atau pengakuan manusia, melainkan pada lurusnya aqidah, benarnya manhaj, dan keikhlasan amal yang sesuai dengan Sunnah Nabi ﷺ.

 

1. Ilmu adalah Agama: Teliti Gurumu

 

Prinsip utama dalam menuntut ilmu adalah tidak mengambil ilmu dari sembarang orang. Muhammad bin Sirinrahimahullah(seorang Tabi'in besar) memberikan wasiat emas yang dicatat dalam Muqaddimah Shahih Muslim:

«إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ»

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah (telitilah) dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
(Riwayat Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Jilid 1, Halaman 14, No. 5).

 

2. Belajar dari Kisah Si Pemberani yang Menjadi Penghuni Neraka

 

Pada masa Nabi ﷺ, ada seseorang yang terlihat sangat hebat dalam berjihad. Para sahabat radhiallahu 'anhum sangat kagum melihat keberaniannya yang luar biasa di medan perang, hingga seolah-olah tidak ada musuh yang mampu luput dari sabetan pedangnya. Namun, Nabi ﷺ justru memberikan pernyataan yang mengejutkan.
Dari Sahl bin Sa'd as-Sa'idi radhiallahu 'anhu, beliau menceritakan tentang seorang laki-laki yang sangat berani berperang bersama Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»

“Adapun dia, sesungguhnya dia termasuk penghuni neraka.”

Para sahabat sempat heran dan hampir ragu, namun akhirnya terbukti bahwa di akhir hayatnya, orang tersebut tidak sabar menahan luka perang lalu ia bunuh diri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»

“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penghuni surga dalam pandangan manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka.”
(Hadits Riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitabal-Jihad, No. 2898, Jilid 4, Halaman 30; dan Muslim dalam Shahih-nya, Kitabal-Iman, No. 112, Jilid 1, Halaman 106).

 

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa rekomendasi manusia dan tampilan lahiriyah (kehebatan fisik/keberanian) bisa menipu, karena yang menjadi barometer sesungguhnya adalah kondisi batin dan akhir hayatnya di atas aqidah yang benar.

 

3. Tragedi Ibnu Muljam: Hafizh Al-Qur'an yang Membunuh Ali bin Abi Talib

 

Kisah yang paling memilukan tentang salahnya melihat rekomendasi lahiriyah adalah kisah Abdurrahman bin Muljam. Ia adalah seorang yang dikenal ahli ibadah, ahli puasa, dan hafal Al-Qur'an.
Bahkan, Khalifah Umar bin Khattabradhiallahu 'anhu pernah mengirimnya ke Mesir atas permintaan Amr bin al-Ash radhiallahu 'anhu untuk mengajarkan Al-Qur'an kepada penduduk di sana. Umar radhiallahu 'anhu memujinya dan memberikan tempat tinggal di dekat rumah Amr bin al-Ash agar orang-orang mudah belajar darinya.
Namun, karena aqidah yang rusak dan manhaj Khawarij yang ia anut, ijazah hafalannya dan rekomendasi masa lalunya tidak bermanfaat. Dialah yang akhirnya menebas kepala Ali bin Abi Talib radhiallahu 'anhu saat beliau hendak shalat subuh.
Ibnu Abdil Bar rrahimahullah menceritakan kisah ini dalam kitabnya untuk menunjukkan betapa manhaj yang menyimpang bisa mengubah seorang pengajar Al-Qur'an menjadi pembunuh sahabat terbaik. (Lihat: Al-Isti'ab fi Ma'rifatil Ash-hab, Jilid 3, Halaman 1125).

 

4. Aqidah dan Manhaj: Barometer yang Tak Boleh Ditawar

 

Gelar akademik (Lc, MA, Dr) atau ijazah dari universitas di Madinah, Mesir, Yaman atau manapun, hanyalah tanda bahwa seseorang pernah belajar. Namun, ijazah tersebut bukan jaminan bahwa ia masih di atas manhaj yang lurus. Banyak orang yang memiliki ijazah mentereng namun justru menjadi corong pemikiran menyimpang, liberal, atau pengikut hawa nafsu.

 


Kita tidak boleh silau dengan:
1. Gelar Akademik: Karena ilmu bukan hanya tentang wawasan, tapi tentang rasa takut kepada Allah ﷻ.
2. Rekomendasi (Tazkiyah) Masa Lalu: Karena hati manusia bisa berbolak-balik. Lihatlah apa yang ia dakwahkan saat ini.
3. Besarnya Yayasan: Karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pengikut atau megahnya gedung.
Ulama Ahli Sunnah senantiasa menekankan untuk melihat bagaimana seorang dai memuliakan Tauhid, bagaimana ia mengikuti Sunnah, dan bagaimana ia bersikap terhadap para sahabat serta pemerintah muslim. Jika aqidahnya bermasalah atau manhajnya condong kepada pemikiran ahli bid'ah, maka gelar setinggi apapun tidak ada harganya.

 

Kesimpulan

Janganlah tertipu dengan bungkus. Seringkali racun dibungkus dengan madu. Rekomendasi sejati bagi seorang mukmin adalah keteguhannya di atas Manhaj Salafus Shalih hingga ajal menjemput. Jadikanlah kriteria aqidah dan manhaj sebagai filter utama sebelum Anda mengambil ilmu dari seseorang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
"Barangsiapa yang menyatakan diri mengikuti Sunnah namun ia tidak memiliki timbangan aqidah yang benar, maka ia akan mudah tergelincir." (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 4, Halaman 155).

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra ← Kembali ke Artikel

Artikel Lainnya