Aqidah dan Manhaj Muslimah 11 Sep 2026
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah ﷻ tidak mendatangkan ujian dan musibah sebagai bentuk azab atau kebencian kepadamu. Sebaliknya, Allah ﷻ mengujimu justru untuk memilih, menyucikan, serta memuliakan kedudukanmu di sisi-Nya. Ketahuilah pula bahwasanya Allah ﷻ tidak pernah menimpakan takdir ketetapan atas dirimu melainkan di dalamnya terkandung kebaikan yang hakiki bagimu, kendatipun hatimu menyangka sebaliknya. Tenangkanlah jiwamu, lapangkanlah dadamu, dan pasrahkanlah hatimu dengan penuh keyakinan terhadap segala putusan serta takdir Rabbmu.
Kerap kali manusia memandang cobaan hidup sebagai petaka yang membinasakan. Namun, di dalam timbangan syariat, beratnya cobaan berbanding lurus dengan besarnya balasan dan derajat kemuliaan di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda:
« إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ »
"Sesungguhnya besarnya balasan sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah ﷻ apabila mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah ﷻ), dan barang siapa yang murka maka baginya kemurkaan (dari Allah ﷻ)."
(Diriwayatkan oleh Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi dalam kitab Sunan AtTirmidzi, KitabAz-Zuhd, BabMa Ja'a fish-Shabri 'alal Bala', Jilid 4, Halaman 601, Hadits Nomor 2396. Hadits ini dinilai Hasan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi, Jilid 2, Halaman 562, Hadits Nomor 2396).
Bahkan, insan yang paling tinggi derajat takwanya adalah orang-orang yang paling berat memikul beban ujian di muka bumi.
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً، قَالَ: «الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»
Dari Sa'ad bin Abi Waqqas radhiallahu 'anhu, ia berkata: "Wahai Rasulullah ﷺ, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?" Beliau menjawab: "Para Nabi, kemudian orang ﷺorang yang semisalnya, lalu orang-orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh, maka bertambah berat pula ujiannya. Namun jika dalam agamanya ada kelemahan, ia diuji menurut kadar ketetapan agamanya. Ujian senantiasa menimpa seorang hamba hingga meninggalkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih tanpa ada dosa lagi padanya."
(Diriwayatkan oleh Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi dalam kitab Sunan AtTirmidzi, KitabAz-Zuhd, BabMa Ja'a fish-Shabri 'alal Bala', Jilid 4, Halaman 601–602, Hadits Nomor 2398. Hadits ini dinyatakan Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi, Jilid 2, Halaman 563, Hadits Nomor 2398, dan dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Jilid 1, Halaman 273, Hadits Nomor 143).
Manusia hanya berbekal pandangan yang serba terbatas. Sering kali sesuatu yang tampak pahit dan memilukan di awal justru mengantarkan pada kenikmatan abadi. Allah جل جلاله menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak kamu senangi. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu sangat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu sangat buruk bagimu. Dan Allah جل جلاله mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."(QS. Al-Baqarah : 216). "
(Firman-Nya: 'Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu sangat baik bagimu') adalah kaidah umum dalam segala urusan. Terkadang seseorang mencintai suatu perkara, padahal tidak ada kebaikan dan maslahat baginya dalam hal itu, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal di situlah letak kebaikannya." (Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Jilid 1, Halaman 577).
Oleh sebab itu, seluruh episode kehidupan seorang mukmin senantiasa berada dalam kebaikan selama dihiasi dengan syukur dan sabar. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
"Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali bagi orang mukmin: jika ia mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka itu baik baginya; dan jika ia tertimpa kesempitan/ musibah ia bersabar, maka hal itu pun baik baginya."
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim bin Al-Hajjaj AnNaisaburi dalam kitab Shahih Muslim, Kitab AzZuhd wa Ar-Raqaiq, Bab Al-Mu'min Amruhu Kulluhu Khair, Jilid 4, Halaman 2295, Hadits Nomor 2999)
Apabila kita merenungi sejarah para nabi dan utusan Allah جل جلاله, tampak jelas bahwa jalan menuju kedudukan mulia selalu dirintis melalui lorong ujian yang bertubi-tubi:
A. Nabi Yusuf 'alaihissalam: Dari Gelapnya Sumur Menuju Singgasana Mesir Kalau bukan karena ujian, niscaya Yusuf 'alaihissalam hanya akan terlena dalam dekapan ayahnya, Nabi Ya'qub 'alaihissalam. Namun, Allah جل جلاله merancang jalan kepemimpinan baginya lewat ujian yang silih berganti: dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur yang gelap gulita, dijual sebagai budak dengan harga yang sangat murah, difitnah oleh istri pembesar, hingga mendekam di dalam dinginnya jeruji penjara selama bertahun-tahun. Ketika kesabaran dan keikhlasannya telah teruji, Allah جل جلاله membukakan pintu kemuliaan hingga beliau diangkat menjadi bendaharawan dan penguasa negeri Mesir.
Allah جل جلاله berfirman:
وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri (Mesir); untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki di sana. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."(QS. Yusuf : 56).
Al-Hafizh Ibnu Katsir menerangkan bahwa kedudukan mulia ini diberikan kepada Yusuf 'alaihissalam sebagai balasan atas kesabaran beliau menanggung berbagai kepedihan dan fitnah dari sejak perpisahan dengan ayahnya hingga masa pemenjaraannya. (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Jilid 4, Halaman 399).
B. Nabi Musa 'alaihissalam:
Dari Pengasingan Menuju Pengangkatan Nubuwah. Nabi Musa 'alaihissalam harus meninggalkan tanah kelahirannya dalam rasa takut, menempuh perjalanan terik tanpa bekal menuju negeri Madyan, dan hidup dalam pengasingan selama bertahun-tahun sebagai seorang penggembala kambing. Pengasingan yang berat ini pada hakikatnya adalah tempaan Ilahi guna membentuk jiwa seorang pemimpin besar yang siap berhadapan dengan Fir'aun. Setelah masa pengasingan itu tuntas, barulah Allah جل جلاله memanggil beliau dan mengangkatnya menjadi seorang Nabi dan Rasul.
Allah جل جلاله menegaskan hal ini:
وَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَا مُوسَىٰ وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي
"Maka engkau tinggal bertahun-tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau datang menurut waktu yang telah ditetapkan, hai Musa. Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku."(QS. Thaha : 40–41).
Al-Hafizh Ibnu Katsir menguraikan ayat ini bahwa makna {سيِفْنَلِكَتُعْنَطَصْواَ {adalah:"Aku telah memilihmu, menyucikanmu, dan mendidikmu secara khusus untuk membawa risalah-Ku sesuai dengan apa yang Aku kehendaki." (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Jilid 5, Halaman 294).
C. Rasulullah صلى الله عليه وسلم: Dari Pengusiran Makkah Menuju Fathu Makkah
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, makhluk yang paling dicintai oleh Allah جل جلاله, tidak luput dari getirnya cobaan. Beliau صلى الله عليه وسلم diboikot, dicaci, diintimidasi, hingga akhirnya diusir dan terpaksa meninggalkan kota Makkah—tanah air yang paling beliau cintai—sembari bersembunyi di Gua Tsur bersama sahabat mulia Abu Bakar AshShiddiq radhiallahu 'anhu:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad صلى الله عليه وسلم(, sesungguhnya Allah جل جلاله telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di saat dia berkata kepada sahabatnya: 'Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah جل جلاله bersama kita'."(QS. At-Taubah : 40).
Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan kebersamaan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah pertolongan, penjagaan, dan taufik dari Allah جل جلاله kepada Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم dan sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu. (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Jilid 4, Halaman 153).
Setelah delapan tahun menjalani pengasingan dan perjuangan dakwah di Madinah, Allah جل جلاله memuliakan Nabi صلى الله عليه وسلم dengan memulangkannya kembali ke tanah kelahirannya. Nabi صلى الله عليه وسلم menaklukkan kota Makkah tanpa tetesan darah yang sia-sia melalui peristiwa agungFathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah).
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah جل جلاله memberikan ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus, dan agar Allah جل جلاله menolongmu dengan pertolongan yang gagah perkasa."(QS. Al-Fath : 1–3).
Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk mengabarkan kemenangan yang nyata serta karunia pertolongan yang tiada tara setelah Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya melalui kepayahan dan pengusiran. (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Jilid 7, Halaman 327).
Maka bila badai kehidupan sedang menerpa dan beban tampak begitu berat, ingatlah bahwa Allah جل جلاله sedang membentuk jiwamu, menghapus kekeliruanmu, dan menyongsongmu menuju derajat yang tidak dapat digapai hanya dengan amal ibadah semata. Tetaplah berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah جل جلاله, bersabarlah dalam setiap ketetapan-Nya, dan nantikanlah fajar kemuliaan yang pasti terbit setelah pekatnya malam ujian.