بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tiga Perkara Dalam Sumpah Rasulullah ﷺ

Aqidah dan Manhaj Hadits   14 Sep 2026

Tiga Perkara Dalam Sumpah Rasulullah ﷺ

Dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ucapan Rasulullah ﷺ adalah kebenaran mutlak. Namun, ada kalanya Nabi ﷺ memberikan penekanan luar biasa dengan menggunakan sumpah untuk meyakinkan hati umatnya terhadap perkara-perkara yang secara lahiriah tampak kontradiktif dengan logika manusia. Hadits ini adalah salah satu fundamen dalam membangun mentalitas iman, kedermawanan, dan kemuliaan akhlak.

Dari Abu Kabshah Al-Anmari رضي الله عنه, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلَاثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ: مَا نَقَصَتْ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ، وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا، وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ

"Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya dan aku akan sampaikan satu hadits (pelajaran) kepada kalian, maka hafalkanlah: (1) Tidaklah harta seorang hamba berkurang karena sedekah, (2) tidaklah seorang hamba dizhalimi dengan suatu kezhaliman lalu ia bersabar atasnya, melainkan Allah akan menambah kemuliaan baginya, dan (3) tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta (kepada manusia), melainkan Allah akan membukakan baginya pintu kemiskinan.”

(Sunan At-Tirmizi, Jilid 4, Halaman 562, No. Hadits 2325. Hadits ini dinilai SHAHIH oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab beliau Shahih Sunan At-Tirmizi Jilid 2 Halaman 531 Nomor Hadits 2325).

1. Analisis Makna Menurut Ulama Ahlus Sunnah

Rasulullah ﷺ adalahAsh-Shadiqul Mashduq (orang yang jujur dan dibenarkan ucapannya). Para ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bersumpah bukan karena beliau ragu, melainkan untuk mencabut akar keraguan di hati manusia yang sering kali dibisiki oleh syaitan tentang ketakutan akan kemiskinan (al-faqru).

Allah ﷻ berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا

"Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kikir; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.”

(QS. Al-Baqarah: 268).

2. Hakikat Harta yang Tidak Berkurang

Ulama membagi makna "tidak berkurang" menjadi dua sisi:
• Hissi (Fisik/Zahir): Allah ﷻ membuka pintu rezeki lain sebagai pengganti. Allah ﷻ berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39).
• Maknawi (Keberkahan): Allah ﷻ menjaga harta tersebut dari pencurian, kerusakan, atau pengeluaran yang tidak bermanfaat (seperti biaya rumah sakit karena penyakit). Harta yang sedikit namun berkah jauh lebih mencukupi daripada harta banyak yang habis tanpa manfaat.

3. Sabar atas Kezhaliman Mendatangkan Kemuliaan

Secara logika manusia, memaafkan atau bersabar saat dizhalimi dianggap sebagai "kekalahan" atau "kehinaan". Namun Nabi ﷺ bersumpah bahwa itu adalah jalan menuju kemuliaan ('Izzan).
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه,

Rasulullah ﷺ bersabda:

...وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا..

“...Dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba karena sifat pemaafnya melainkan kemuliaan.”

(Shahih Muslim, Jilid 4, Halaman 2001, No. Hadits 2588)

Kemuliaan ini bisa berupa rasa segan manusia kepadanya di dunia, maupun kedudukan tinggi di sisi Allah ﷻ di akhirat.

4. Larangan Meminta-minta

Poin ketiga adalah peringatan keras terhadap mental pengemis. Barangsiapa yang menjadikan kegiatan meminta-minta sebagai profesi untuk memperkaya diri, maka Allah ﷻ akan mencabut rasa cukup dari hatinya.
Pintu Kemiskinan maksudnya adalah kemiskinan hati. Ia tidak pernah merasa cukup meski hartanya banyak, atau Allah ﷻ benar-benar menjatuhkannya dalam kesulitan finansial sebagai hukuman karena tidak bergantung kepada-Nya.
Hadits ini adalah pedoman bagi setiap Muslim dalam berinteraksi dengan dunia dan sesama manusia. Keyakinan bahwa sedekah tidak mengurangi harta akan melahirkan kedermawanan. Keyakinan bahwa sabar mendatangkan kemuliaan akan melahirkan kelapangan dada. Dan keyakinan bahwa meminta-minta membawa kemiskinan akan melahirkan sifatiffah(menjaga kehormatan diri).

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang yakin akan janji-Nya, dermawan dengan harta, mulia dengan pemaafan, dan terhormat dengan kecukupan jiwa.

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra ← Kembali ke Artikel

Artikel Lainnya