Fiqih Sejarah 30 Sep 2026
Dalam sejarah hukum Islam, Al-Imam Abu Hanifah menempati posisi yang sangat istimewa. Beliau adalah orang pertama yang membukukan fikih secara sistematis dan menjadi rujukan utama bagi jutaan muslim di berbagai belahan dunia selama lebih dari seribu tahun. Kedudukan beliau bukan sekadar pemimpin madzhab, melainkan mercusuar bagi akal sehat yang tunduk di bawah wahyu.
Nama lengkap beliau adalah An-Nu'man bin Tsabit bin Zuta bin Marzuban. Beliau lahir di Kufah (Irak) pada tahun 80 H, di masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan. Kufah saat itu merupakan pusat ilmu pengetahuan dan tempat bermukimnya banyak sahabat Rasulullah ﷺ serta para tabi’in senior.
Imam Abu Hanifah termasuk dalam kategori At-Tabi’in. Beliau sempat menjumpai beberapa sahabat Rasulullah ﷺ, di antaranya adalah Anas bin Malik radhiallahu 'anhu. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menegaskan hal ini dalam kitabnya:
رَأَى أَنَسَ بنَ مَالِكٍ غَيْرَ مَرَّةٍ لَمَّا قَدِمَ عَلَيْهِم الكُوْفَةَ
"Beliau (Abu Hanifah) melihat Anas bin Malik lebih dari satu kali ketika Anas mengunjungi Kufah.”
(Siyar A’lam an-Nubala, Adz-Dzahabi, Jilid 6, Halaman 391).
Pada mulanya, Abu Hanifah adalah seorang pedagang kain sutra yang cerdas dan jujur. Namun, setelah bertemu dengan ulama besar Imam Ash-Sha'bi rahimahullah, beliau disarankan untuk menekuni jalur ilmu. Beliau kemudian mendalami ilmu aqidah (kalam) sebelum akhirnya fokus pada ilmu fikih.
Guru utama beliau dalam fikih adalah Hammad bin Abi Sulayman rahimahullah, yang merupakan murid dari Ibrahim an-Nakha’i, yang bersambung sanad ilmunya kepada Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu. Abu Hanifah mendampingi Hammad selama 18 tahun hingga sang guru wafat.
Imam Abu Hanifah dikenal sebagai peletak dasar metodologi Ra’yi (nalar logika yang berlandaskan wahyu). Beliau bukan mendahulukan akal di atas hadits, melainkan menggunakan kedalaman logika untuk menggali hukum dari hadits-hadits yang bersifat umum.
Kehebatan beliau dalam fikih diakui oleh seluruh imam setelahnya. Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berucap sebuah kalimat yang sangat masyhur:
النَّاسُ عِيَالٌ فِي الفِقْهِ عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ
"Seluruh manusia dalam urusan fikih adalah bergantung (berhutang budi) kepada Abu Hanifah.”
(Tarikh Baghdad, Al-Khathib al-Baghdadi, Jilid 13, Halaman 346).
Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah, salah satu ulama hadits terbesar, juga memuji beliau:"Jika seandainya Allah tidak membantuku melalui Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri, niscaya aku hanyalah seperti orang biasa."
Imam Abu Hanifah bukan hanya seorang pemikir, tapi juga ahli ibadah. Diriwayatkan bahwa beliau menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan tangisan, serta telah mengkhatamkan Al-Qur'an ribuan kali di tempat di mana beliau wafat.
Kekuatan prinsip beliau teruji ketika penguasa (Khalifah Al-Manshur) memaksanya menjadi Qadhi (Hakim Agung). Beliau menolak jabatan tersebut karena takut tidak bisa berlaku adil di hadapan Allah ﷻ. Akibat penolakan ini, beliau dipenjara dan disiksa. Namun, beliau tetap teguh dan berkata: "Jika mereka menginginkanku membangun masjid, aku tidak akan melakukannya (jika dipaksa), apalagi jika mereka menginginkanku menulis surat untuk membunuh seseorang (sebagai hakim)."
Al-Imam Abu Hanifah wafat di dalam penjara di Baghdad pada tahun 150 H (tahun yang sama dengan kelahiran Imam Asy-Syafi'i). Kabar wafatnya mengguncang dunia Islam. Shalat jenazah beliau dihadiri oleh puluhan ribu orang, bahkan diulang hingga berkali-kali karena banyaknya jamaah yang datang dari berbagai penjuru.
Imam Abu Hanifah adalah sosok yang menggabungkan antara ketajaman ijtihad, kemuliaan akhlak dalam berdagang, dan keberanian dalam memegang prinsip. Sebagai Imam pertama dari empat madzhab, beliau telah membukakan pintu bagi sistematika hukum Islam yang kita nikmati hingga hari ini. Menghormati beliau adalah bagian dari menghargai jasa para penjaga syariat Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah ﷻ senantiasa merahmati Al-Imam Abu Hanifah dan menempatkan beliau di surga-Nya yang paling tinggi.