بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Lima Waktu Dibukanya Pintu-Pintu Langit

Fiqih Hadits   23 Sep 2026

Lima Waktu Dibukanya Pintu-Pintu Langit

"Lima Waktu Dibukanya Pintu-Pintu Langit"

Berdasarkan hadits-hadits shahih yang dihimpun dan dinilai keshahihannya oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah:

Makna Dibukanya Pintu-Pintu Langit

Di antara keutamaan dan keluasan rahmat Allah ﷻ bagi hamba-hamba-Nya adalah ditetapkannya waktu-waktu mustajab dan sarat keberkahan. Terbukanya pintu-pintu langit (fat-hu abwābis samā') secara hakiki bermakna:


1. Doa-doa hamba langsung terangkat menuju arsy tanpa penghalang (hijāb).


2. Amal-amal kebajikan diterima dan diangkat (yurfa') dengan cepat di sisi Allah ﷻ, sebagaimana firman-Nya:

﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾

"Kepada-Nyalah naik kalimat-kalimat yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya."* (QS. Fathir : 10).


3. Turunnya rahmat, ketenangan, serta para malaikat ke bumi membawa keberkahan.

 

Uraian Lima Waktu Terbukanya Pintu Langit

1. Sebelum Shalat Zhuhur (Saat Tergelincirnya Matahari /Az-Zawāl)

Nabi ﷺ senantiasa menjaga shalat sunnah empat rakaat setelah matahari tergelincir ke barat sebelum menunaikan shalat Zhuhur (disebut oleh para ulama sebagaisunnah az-zawalatau sunnah qabliyah Zhuhur).

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «إِنَّ أَبْوَابَ السَّمَاءِ تُفْتَحُ إِلَى زَوَالِ الشَّمْسِ، فَلَا تُرْتَجُ حَتَّى يُصَلَّى الظُّهْرُ، فَأُحِبُّ أَنْ يُصْعَدَ لِي فِيهَا خَيْرٌا

"Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka ketika matahari tergelincir (zawal), lalu tidak ditutup kembali sampai shalat Zhuhur dikerjakan. Maka aku senang apabila amal kebaikanku diangkat pada saat itu."
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad, Jilid 38, Halaman 416–417, Hadits Nomor 23021, Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Asy-Syamā'il Al-Muhammadiyyah, Bab Mā Jā'a fī Shalātit Tathawwu' fīl Bait, Halaman 213, Hadits Nomor 292 dan Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath, Jilid 2, Halaman 314, Hadits Nomor 2083. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Kitab Shahīhul Jāmi' Ash-Shaghīr wa Ziyādatuh, Jilid 1, Halaman 320, Hadits Nomor 1532, Kitab Shahīh At-Targhīb wat-Tarhīb, Jilid 1, Halaman 364, Hadits Nomor 584 dan Kitab Mukhtashar Asy-Syamā'il Al-Muhammadiyyah, Halaman 165, Hadits Nomor 253).

Maknalā turtaju (لَا تُرْتَجُ) adalah tidak dikunci/ditutup kembali. Rentang waktu sejak masuknya waktu Zhuhur hingga iqamah ditegakkan merupakan saat dibukanya pintu langit, sehingga dianjurkan memperbanyak shalat sunnah, doa, dan tilawah Al-Qur'an.


2Saat Adzan Dikumandangkan

Panggilan tauhid yang diserukan muadzin memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hadapan Allah ﷻ, hingga dibukakan pintu langit karenanya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَاسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ»

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda: "Apabila diseru untuk shalat (dikumandangkan adzan), maka dibukalah pintu-pintu langit dan dikabulkanlah doa."
(Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisi, Tahqiq: Dr. Muhammad bin Abdul Muhsin At-Turki, Jilid 3, Halaman 479, Hadits Nomor 2106. Diriwayatkan oleh Imam Abu Ya'la Al-Maushili dalam Musnad Abi Ya'lā, Tahqiq: Husain Salim Asad, Jilid 2, Halaman 231, Hadits Nomor 1008. Hadits ini dinilai Shahih (dengan kumpulan jalur riwayatnya) oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Kitab Silsilah Al-Ahādīts Ash-Shahīhah, Jilid 3, Halaman 402, Hadits Nomor 1413, Kitab Shahīhut Targhīb wat-Tarhīb, Jilid 1, Halaman 184, Hadits Nomor 260 dan Kitab Shahīhul Jāmi'
 Ash-Shaghīr wa Ziyādatuh, Jilid 1, Halaman 203, Hadits Nomor 818).

Hadits ini sejalan dengan sunnah menjawab adzan, bershalawat kepada Nabi ﷺ setelahnya, membaca doa wasilah, dan memanjatkan hajat antara adzan dan iqamah karena pintu langit sedang terbuka luas bagi doa orang-orang beriman.


3. Saat Berdiam Diri Menunggu Shalat Fardhu Berikutnya (Ar-Ribāth)

Menunggu shalat fardhu setelah menunaikan shalat fardhu sebelumnya (seperti duduk di masjid berdzikir setelah Maghrib menanti shalat Isya) dinilai laksana ribath (berjaga-jaga di perbatasan medan jihad) demi ketaatan kepada Allah ﷻ.
 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ الْمَغْرِبَ، فَرَجَعَ مَنْ رَجَعَ، وَعَقَّبَ مَنْ عَقَّبَ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُسْرِعًا، قَدْ حَفَزَهُ النَّفَسُ، وَقَدْ حَسَرَ عَنْ رُكْبَتَيْهِ، فَقَالَ: «أَبْشِرُوا، هَذَا رَبُّكُمْ قَدْ فَتَحَ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ، يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ؛ يَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي، قَدْ قَضَوْا فَرِيضَةً، وَهُمْ يَنْتَظِرُونَ أُخْرَى»

"Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiallahu 'anhuma, beliau berkata: Kami pernah shalat Maghrib bersama Rasulullah ﷺ, lalu ada orang yang pulang dan ada pula yang tetap duduk berdiam diri di masjid. Tiba-tiba Rasulullah ﷺ datang dengan tergesa-gesa hingga nafas beliau terengah-engah dan tersingkap kain dari kedua lutut beliau, seraya bersabda: "Bergembiralah! Inilah Rabb kalian telah membuka satu pintu dari pintu-pintu langit, membanggakan kalian di hadapan para malaikat, seraya berfirman: 'Lihatlah kepada hamba-hamba-Ku, mereka telah selesai menunaikan satu kewajiban, dan kini mereka sedang menanti kewajiban yang lain!'"(Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Mājah, KitabAl-Masājid wal Jamā'āt, Bab Luzūmil Masājid wantizhārish Shalāh, Tahqiq: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Jilid 1, Halaman 262, Hadits Nomor 801.Dan Imam Ahmad dalam Al-Musnad, Jilid 11, Halaman 166, Hadits Nomor 6668. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Kitab Shahīh Sunan Ibni Mājah,, Jilid 1, Halaman 267, Hadits Nomor 653, Kitab Silsilah Al-Ahādīts Ash-Shahīhah, Jilid 2, Halaman 269, Hadits Nomor 661, Kitab Shahīh At-Targhīb wat-Tarhīb, Jilid 1, Halaman 294, Hadits Nomor 445 dan Kitab Shahīhul Jāmi' Ash-Shaghīr wa Ziyādatuh, Jilid 1, Halaman 78, Hadits Nomor 36).

Menetap di masjid untuk ibadah, tilawah, dan dzikir seusai shalat fardhu demi menanti shalat fardhu berikutnya mengundang kebanggaan Allah ﷻ di hadapan para malaikat-Nya dan membukakan pintu langit.



4Di Tengah Malam (Nishful Lail)

Sepertiga dan pertengahan malam adalah saat hening dan suci di mana rahmat Allah ﷻ tercurah dan seruan pengabulan dipancarkan ke penjuru langit dan bumi.

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ، فَيُنَادِي مُنَادٍ: هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجَ عَنْهُ؟ فَلَا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ؛ إِلَّا زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا، أَوْ عَشَّارًا»

Dari Utsman bin Abil 'Ash Ats-Tsaqafi radhiallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Pintu-pintu langit dibuka pada pertengahan malam, lalu seorang penyeru (malaikat) berseru: 'Adakah orang yang berdoa sehingga akan dikabulkan doanya? Adakah orang yang meminta sehingga akan diberi permintaannya? Adakah orang yang sedang tertimpa kesulitan sehingga akan dilapangkan kesulitannya?' Maka tiada tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu permohonan melainkan Allah Ta'ala pasti mengabulkannya; kecuali wanita pezina yang mencari nafkah dari kemaluannya (pelacur), atau pemungut upeti zalim (tukang cukai/pajak liar).'"
(Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabīr, Tahqiq: Hamdi Abdul Majid As-Salafi, Jilid 9, Halaman 59, Hadits Nomor 8391, Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath, Tahqiq: Thariq bin 'Iwadhillah, Jilid 3, Halaman 154, Hadits Nomor 2769. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Kitab Silsilah Al-Ahādīts Ash-Shahīhah, Jilid 3, Halaman 62, Hadits Nomor 1073, Kitab Shahīhul Jāmi' Ash-Shaghīr wa Ziyādatuh, , Jilid 1, Halaman 571, Hadits Nomor 2971 dan Kitab Shahīh At-Targhīb wat-Tarhīb, Jilid 1, Halaman 489, Hadits Nomor 786.

  • Tas'ā bifarjihā (تَسْعَى بِفَرْجِهَا): Wanita yang menjadikan kehormatan dan kemaluannya sebagai komoditas transaksi dosa (pelacur/pezina komersial).
  • 'Asysyār(عَشَّارًا): Pemungut bea cukai/pajak ilegal secara zalim (shāhibul maks) yang merampas harta manusia di luar hak syar'i.

Hadits ini membuktikan bahwa dosa besar dan kezaliman terhadap sesama manusia merupakan penghalang utama (māni') terkabulnya doa, meskipun dipanjatkan saat pintu langit terbuka lebar.


5. Saat Membaca Doa Istiftah Tertentu dalam Shalat

Lafaz pengagungan dan tasbih tertentu memiliki keistimewaan luar biasa di hadapan Allah ﷻ ketika dibaca setelah Takbiratul Ihram.

«اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا»

(Allāhu akbaru kabīrā, walhamdulillāhi katsīrā, wa sub-hānallāhi bukratan wa ashīlā)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنِ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟» قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ! قَالَ: «عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ». قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ ذَلِكَ.

"Dari Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma, beliau berkata: Ketika kami sedang shalat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang laki-laki di antara jamaah mengucapkan: "Allāhu akbaru kabīrā, walhamdulillāhi katsīrā, wa sub-hānallāhi bukratan wa ashīlā" (Allah Mahabesar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang). Seusai shalat, Rasulullah ﷺ bertanya: "Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?" Laki-laki itu menjawab: "Saya, wahai Rasulullah!" Maka beliau ﷺ bersabda: "Aku merasa takjub terhadap kalimat tersebut, sungguh pintu-pintu langit telah dibukakan karenanya!" Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma berkata: "Maka aku tidak pernah meninggalkan kalimat-kalimat itu semenjak aku mendengar Rasulullah ﷺ mengatakannya."

(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya: Shahīh Muslim, KitabAl-Masājid wa Mawādhi'ish Shalāh, Bab Mā Yuqālu Baina Takbīratil Ihrāmi wal Qirā'ah, Jilid 1, Halaman 420, Hadits Nomor 601).

Riwayat ini menjadi dasar sunnahnya membaca lafaz dzikir ini sebagai salah satu ragam bacaan doa istiftah dalam shalat, sekaligus memperlihatkan keteladanan para Sahabat radhiallahu 'anhum yang senantiasa bersemangat mengamalkan setiap sunnah yang mereka dengar dari Nabi ﷺ.

Kelima momentum ini merupakan ladang pahala dan kesempatan emas bagi seorang muslim untuk:

  1.  Menjaga keterikatan hati dengan masjid dan shalat fardhu berjamaah.
  1.  Memperbanyak munajat dan istighfar, khususnya di pertengahan malam.
  2.  Menjauhi dosa-dosa besar (terutama kezaliman merampas harta sesama dan perbuatan keji) yang dapat menyumbat terangkatnya doa ke langit.

 

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. ← Kembali ke Artikel

Artikel Lainnya