بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Memahami Pembagian Iradah Allah: Kauniyyah dan Syar’iyyah

Aqidah   21 Jun 2026

Memahami Pembagian Iradah Allah: Kauniyyah dan Syar’iyyah

Dalam memahami takdir dan perbuatan Allah, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menjelaskan bahwa "Kehendak" atau Iradah Allah terbagi menjadi dua bagian. Pembagian ini sangat penting untuk dipahami agar seseorang tidak salah dalam memahami mengapa ada kejahatan di dunia ini dan mengapa ada manusia yang tidak beriman, padahal Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

1. Iradah Kauniyyah (Kehendak Semesta/Penciptaan)

 

Iradah Kauniyyah adalah kehendak Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan kejadian di alam semesta. Segala sesuatu yang terjadi di langit dan di bumi, baik itu ketaatan, kemaksiatan, iman, maupun kekufuran, terjadi karena kehendak ini.

Ciri-ciri Iradah Kauniyyah:

  • Pasti terjadi: Jika Allah menghendaki sesuatu secara kauniyyah, maka hal itu tidak mungkin meleset.
  • Mencakup segala hal: Meliputi hal yang dicintai Allah (seperti iman) dan hal yang tidak dicintai-Nya (seperti kekufuran dan kejahatan), namun tetap terjadi karena hikmah tertentu.

 

Allah ﷻ berfirman:

 إِنَّمَاۤ أَمۡرُهُۥۤ إِذَاۤ أَرَادَ شَیۡـًٔا أَن یَقُولَ لَهُۥ كُن فَیَكُون

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” 
(Surat Yasin: 82).

 

2. Iradah Syar’iyyah (Kehendak Syariat/Agama)

Iradah Syar’iyyah adalah kehendak Allah yang berkaitan dengan apa yang Dia cintai, Dia ridhai, dan Dia perintahkan kepada hamba-Nya melalui syariat (agama).

Ciri-ciri Iradah Syar’iyyah:

  • Tidak selalu terjadi: Allah menghendaki semua manusia beriman secara syariat, namun dalam kenyataannya ada yang beriman dan ada yang kafir.
  • Hanya mencakup yang dicintai-Nya: Hanya berkaitan dengan ketaatan, amal saleh, dan kebaikan.

 

Allah ﷻ berfirman:

یُرِیدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡیُسۡرَ وَلَا یُرِیدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ 

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Surat Al-Baqarah: 185).

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan ulama lainnya menjelaskan perbedaan ini dengan contoh yang sangat mudah agar kita tidak bingung:

  1. Keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq:
    • Pada diri Abu Bakar, berkumpul dua kehendak Allah. Allah menghendaki Abu Bakar beriman secara Syar’iyyah (Allah mencintai keimanannya) dan Allah menghendaki secara Kauniyyah (Allah mentakdirkan iman itu benar-benar terjadi pada dirinya).
  2. Kekufuran Abu Jahal
    • Pada diri Abu Jahal, hanya ada Iradah Kauniyyah. Allah mentakdirkan kekufuran itu terjadi pada Abu Jahal (secara Kauniyyah), namun Allah tidak mencintai kekufuran tersebut dan tidak meridhainya (secara Syar’iyyah).

 

Mengapa Allah menghendaki adanya keburukan secara Kauniyyah?

Para ulama menjelaskan bahwa Allah menciptakan iblis, kekufuran, atau penyakit bukan karena Allah mencintai zat keburukan tersebut, melainkan karena ada Hikmah Besar di baliknya. Misalnya: agar manusia mau berjihad, agar manusia mau bertaubat, dan agar tampak perbedaan antara orang yang taat dan yang bermaksiat.

Dengan memahami pembagian ini, seorang muslim akan memiliki pandangan yang lurus:

  1. Ia sadar bahwa tidak ada satupun yang terjadi di dunia ini tanpa izin Allah (Kauniyyah).
  2. Ia sadar bahwa meskipun Allah mengizinkan keburukan terjadi, Allah tetap memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan melalui agama-Nya (Syar’iyyah).

Pemahaman ini adalah jalan tengah yang menyelamatkan seseorang dari paham Jabariyyah (yang menganggap manusia tidak punya pilihan) dan paham Qadariyyah (yang menganggap Allah tidak ikut campur dalam perbuatan manusia).

 

(Rujukan: Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syarh al-Aqidah Ath-Thahawiyyah oleh Ibnu Abil Izz al-Hanafi)
Jatibening 20 Juni 2026

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. ← Kembali ke Artikel