بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Anjuran Mendoakan Jenazah Setelah Penguburan

Fiqih   21 Jun 2026

Anjuran Mendoakan Jenazah Setelah Penguburan

Setelah proses pemakaman selesai, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam biasanya tidak langsung beranjak pergi. Beliau akan berdiri di depan kuburan tersebut dan memberikan instruksi kepada para sahabat yang hadir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: «اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ»

"Biasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila telah selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri di atasnya (di sisinya) lalu bersabda: 'Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu, dan mintalah keteguhan (dalam menjawab pertanyaan malaikat) untuknya, karena sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya'."
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab Sunan Abi Dawud, pada Kitab al-Jana-iz (Kitab Jenazah), Bab al-Istighfar lil Mayyiti 'indal Qabri fi Tilkal Sa'ah (Memohonkan ampunan bagi mayit di sisi kubur pada waktu tersebut), hadits nomor 3221. Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini Shahih. Penilaian ini tercantum dalam beberapa kitab beliau Shahih Sunan Abi Dawud, hadits nomor 3221 dan Ahkam al-Jana-iz, halaman 198).

 

Analisis: Mengapa Dilakukan Sendiri-Sendiri?

Berdasarkan redaksi hadits tersebut, terdapat pelajaran penting mengenai tata cara mendoakan jenazah di kuburan, yaitu dilakukan secara individu (sendiri-sendiri) dan bukan dipimpin oleh satu orang (berjamaah). Berikut adalah alasannya:

  1. Bentuk Perintahnya adalah Perintah Umum
    • Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan kalimat "Istaghfiru" (Mohonkanlah ampunan oleh kalian) dan "Salu" (Mintalah oleh kalian). Ini adalah perintah kepada setiap orang yang hadir untuk melakukan amal tersebut masing-masing.
  2. Nabi Tidak Memimpin Doa Secara Langsung
    • Dalam hadits tersebut, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanya memberikan instruksi atau perintah. Beliau tidak lantas mengangkat tangan lalu mengeraskan doa agar diaminkan oleh para sahabat. Jika seandainya cara yang disunnahkan adalah dengan dipimpin (satu orang berdoa dan yang lain mengaminkan), maka tentu beliau akan langsung memimpin doa tersebut tanpa perlu memerintahkan para sahabat untuk berdoa sendiri-sendiri.
    • Setiap Orang Memiliki Keikhlasan Masing-Masing
  3. Dengan berdoa sendiri-sendiri, setiap orang dapat lebih khusyuk dan tulus dalam memohonkan ampunan bagi saudaranya yang baru saja wafat. Hal ini menunjukkan bahwa syariat ini mengedepankan keterlibatan aktif setiap individu dalam mendoakan jenazah, bukan sekadar menjadi pendengar yang mengaminkan.

 

Sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah jenazah dikuburkan adalah berhenti sejenak di sisi kubur, lalu masing-masing orang memohonkan dua hal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk si jenazah:

  1. Memohonkan ampunan atas dosa-dosanya.
  2. Memohonkan keteguhan hati agar jenazah bisa menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.

Cara ini dilakukan secara sendiri-sendiri dengan suara yang lirih (tidak berjamaah), sebagaimana petunjuk langsung dari lisan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Jatibening, 21 Juni 2026

Ditulis oleh Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, Lc., M.A. ← Kembali ke Artikel